Menyoal Problematika Pendidikan di Indonesia


 

Rate This

 

Problematika dunia pendidikan di Indonesia seakan tiada habisnya. Ibarat benang kusut, sejumlah permasalahan klasik masih saja melingkupi dunia pendidikan kita. Tidak hanya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan kualitas dan fasilitas, namun juga rendahnya tingkat relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
Sejumlah blogger yang kebetulan juga berkecimpung dalam dunia pendidikan (terkait dengan tema sentral bz! bulan ini) memberikan komentar mengenai potret dunia pendidikan Indonesia sekarang.
Good Educators = Good Education
Syamsul Arief Rakhmadani,seorang staff pengajar di INTI College menyatakan, “Sistem kurikulum Indonesia masih terlalu rigid (kaku), masih belum bisa menyesuaikan dengan apa yang mau dihasilkan dari sistem pendidikan itu sendiri terutama pada jenjang higher education sector seperti tingkat SMA dan Universitas. Kemudian, sistem kurikulum terutama di sekolah negeri masih belum bisa melengkapi siswa dengan skill yang memadai as a workforce.” Lebih lanjut dosen Teknologi Informasi dan ayah satu anak ini menambahkan, “Tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi dari guru/dosen yang harus ditingkatkan sebagai insentif dalam proses mengajar serta semakin banyak sekolah yang mempunyai fasilitas yang memadai tetapi masih terlalu besar poverty gap antara sekolah di kota dan di desa.” Prioritas yang paling mendesak dilakukan pemerintah saat ini menurut Syamsul adalah perbaikan gaji, perbaikan kurikulum, perbaikan peraturan/regulasi, dan pendistribusian subsidi pemerintah yang adil dan menyeluruh. Selain itu kemampuan guru dan dosen sendiri harus ditingkatkan baik melalui intensive training dan self-learning seperti research, menulis di jurnal dll. Seharusnya hal-hal seperti inilah yang harus ditingkatkan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu para pendidik itu sendiri. Good educators mean good education dan diharapkan akan menghasilkan para lulusan yang bermutu dan siap kerja.

Pendapat senada diungkap oleh Nahria Medina, Guru Bahasa Inggris Pesantren Darunnajjah. “Sejauh yang saya liat di Pesantren Darunnajah, kurikulumnya masih mengacu pada kurikulum standar baku pemerintah: guru harus mengajar dengan mengacu pada buku yang tersedia, murid-murid harus duduk manis di kelas mendengarkan guru menerangkan, hal-hal standar seperti itu,” kata Nahria yang akrab dipanggil Yaya ini. “Pemerintah”, lanjut alumni D-3 Bahasa Inggris UI ini, “harus bisa melihat kalau anak-anak sekarang tidak lagi sama dengan anak-anak model dulu. Sekarang anak-anak jauh lebih tanggap pada situasi di sekitarnya. Contohnya kalau seorang guru mengajarkan: bila kita rajin menabung kalau besar bisa jadi kaya. Anak model dulu masih menerima saja hapalan seperti itu. Tapi anak sekarang mana bisa? Mereka akan berpikir: masa’ sich? Gimana kalau sebelum mereka besar, mereka sudah meninggal misalnya? Hal-hal seperti itu yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan guru. Kita mesti mengajar hapalan tapi kita rangsang pikiran seorang murid dengan suatu pemikiran. Sehingga mereka dapat berpikir sendiri.”
Waah masih payah… masih lebih bagus zaman Belanda dulu. Kata orang-orang tua kita, belajar satu dua pelajaran tapi hasilnya maksimal. Masih perlu perbaikan SDM, pelatihan dan penataran serta kesejahteraan (gaji) guru/dosen dinaikkan,” ujarFaizal ‘Fay’ Risdianto lugas, dosen yang pernah ngajar Bahasa Inggris di sebuah Universitas di Solo ini.
Pendapat Fay, juga di-amin-i oleh Ahmad Isnaini. Menurut dosen Desain Grafis/Multimedia/Web di Yogya Executive School, yang juga penyedia free-blog template bagi para blogger di websitenya ini, “Pendidikan harusnya bisa lebih murah, terutama untuk pendidikan dasar, agar semua orang punya kesempatan untuk belajar, karena itu adalah hak setiap warga negara saya kira. Pemerintah dalam hal ini sebagai pemegang kebijakan harusnya dapat memberikan fasilitas sebesar-besarnya bagi dunia pendidikan, misalnya bisa dengan subsidi (katanya sudah ada), meningkatkan taraf hidup guru-guru sebagai mediator utama dalam pendidikan yang berhubungan langsung dengan anak didik.”
Pada kesempatan lain, DR.H.Arief Rahman,MPd, mantan Kepala Sekolah SMU Lab School dan juga salah seorang pengamat dunia pendidikan ketika ditemui oleh Lili Lengkana dari Blogfam pada Kamis pagi (27/04), menyoroti empat poin utama yang mesti diperhatikan untuk melihat potret dunia pendidikan saat ini.
“Yang pertama adalah konsep. Pendidikan di Indonesia itu sangat baik bila kita lihat konsepnya, dan juga bila kita baca pada Undang-undang Pendidikan. Yang justru sulit dan repot adalah masalah pelaksanaanya. Misalnya, tujuan pendidikan itu tidak semuanya diukur menjadi indikator kesuksesannya. Saya ambil contoh, pada salah satu tujuan pendidikan itu dikatakan bahwa kecerdasan spiritual itu harus dikembangkan, bahkan hal itulah yang menjadi dasar dari semuanya. Tetapi untuk naik kelas atau lulus ujian, kecerdasan spiritual itu tidak menjadi penentu, sehingga salah satu indikator dalam tujuan pendidikan yaitu Kecerdasan Spiritual tadi tidak dihitung. Yang dihitung malah, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dengan rata-rata 4,26.Jadi begini maksud saya, hal yang tadi saya sebutkan adalah idealnya namun pada penerapan dan kenyataannya sangat lain dan berbeda.
Poin kedua, lanjut Pak Arief yang juga menjabat sebagai Executive Chairman of Indonesian National Commision untuk Lembaga PBB UNESCO ini, adalah Mutu Guru. Di mana kesejahteraan mereka para guru harus diperhatikan dan diperbaiki, akademisnya juga harus diperbaiki, pola mengajarnya juga harus diperbaiki.
Poin ketiga adalah Masalah Pemerataan. Belum semua anak-anak di Indonesia ini sekolah, bukan karena mereka tidak mampu. Namun kadang-kadang ada yang mampu tetapi kulturnya tidak menyuruh. Juga adanya ketimpangan di dalam kesetaraan ‘Gender’ yang sangat kuat sekali. Lalu mata-mata pelajaran yang ada sebetulnya harus

mendekatkan diri kita kepada Tuhan, tetapi kenyataannya tidak. Semua mata pelajaran ujung-ujungnya hanya pengetahuan dunia saja, di mana cara pengantarnya tidak mendekatkan orang kepada pencipta-Nya atau ilmu akhirat.Saya beri contoh, mata pelajaran Biologi, Kimia, dan pengetahuan alam lainnya seharusnya dapat mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta. Dan hal itu tidak terimplementasikan dengan baik.

Yang terakhir, tutur Pak Arief yang kini masih aktif sebagai dosen bahasa Inggris di Universitas Nasional Jakarta, “Bangsa dan negara ini juga mempunyai andil dalam kesalahan besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Maksud saya adalah seolah-olah semua masalah besar pada pendidikan dibebankan atau ditujukan kepada Pemerintah saja, padahal itu adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia juga atau tanggung jawab kita bersama. Saya beri contoh, jika ada sesuatu yg tidak beres dalam tatanan dunia pendidikan seharusnya kita tanyakan dulu kepada diri kita sendiri tentang permasalahan itu, dan kita berusaha ikut berpartisipasi positif dan aktif di dalam memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Jangan hanya menyalahkan pemerintah saja. Dalam hal ini pemerintah itu hanya memberikan rambu-rambu pendidikan yang fleksibel yang dapat kita rembukan atau diskusikan bersama untuk hal perubahan atau penambahan di dalam rambu2 tersebut”.
Mengikuti Perkembangan Teknologi
Menurut Syamsul yang mengidolakan Mr.Peter O’Donnell salah satu senior lecturer di Monash University dulu, ada dua hal yang menjadi tantangan terbesar bagi dunia pendidikan di Indonesia menghadapi era globalisasi dunia sekarang. Yang pertama adalah Teknologi. Minimnya pengetahuan teknologi sangat mempengaruhi kemampuan para edukator. Saya yakin bahwa banyak guru-guru yang tidak mengetahui adanya internet sedangkan para murid sudah technology-aware. Yang kedua, masuknya sekolah plus dengan overseas syllabus. Tantangan ini bisa berdampak positif dan berdampak negatif, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Syllabus dari luar negeri tidak sepenuhnya sempurna seperti yang dipikirkan oleh banyak orang, banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi Indonesia. Tetapi di lain sisi, overseas syllabus maupun sekolah plus akan memberikan nilai tambah tersendiri dan mungkin akan menjadikan suatu warning bahwa era globalisasi has truly arrived. Dan kita berharap pemerintah mempunyai peraturan yang mengatur sekolah plus dan syllabus-nya.
Isnaini juga berpendapat hampir senada.”Tantangan terbesar adalah bagaimana nantinya anak didik dapat mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat,” katanya. “Karena teknologi informasi adalah bagian pokok dari pembangunan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, seharusnya sejak dini, anak didik harus sudah diajarkan dan dan diberikan pengertian tentang hal ini. Misalnya dengan memberikan materi pelajaran komputer sebagai kegiatan ekstrakurikuler (kalau belum menjadi pelajaran wajib) bagi sekolah, hal ini bisa dilaksanakan dari tingkat paling rendah dalam dunia pendidikan seperti Taman Bermain, Taman Kanak-kanan dengan penyesuaian program, sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan anak,” imbuh alumni Akademi Komunikasi Indonesia ini.
“Anak-anak jaman sekarang sudah lebih maju pemikirannya, bahkan dibanding para gurunya,” ucap Yaya pernah meraih juara favorit 2 lomba entry Hut ke-2 Blogfam. “Jadi misalnya,” kata Aktivis Kopdar Blogfam 2005 ini,”seorang guru memberi tugas membuat kliping tentang sesuatu hal dan guru itu expect the student to find the information from newspaper. Murid akan ogah-ogahan, karena mereka sudah tahu cara yang lebih simple, which is… cari aja di internet. Ketik kata kunci di google, trus tekan enter. Jadilah kliping mereka.Nah, lucunya di sini, kadang-kadang beberapa guru tidak ngebolehin si murid nyari informasinya di internet. Alasannya supaya si anak lebih sering membaca koran. Menurut saya, pemerintah tidak hanya harus mem-pintar-kan sang murid tapi gurunya juga harus diberi pengetahuan yang updated juga.”
Sementara Fay secara tegas menyatakan tantangan terbesar baginya adalah menghadapi murid yang malas dan menghadapi orang tua murid yang tidak peduli dengan keadaan belajar dan masalah pribadi sang anak.
Menanggapi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan saat ini, Syamsul berpendapat,”KBK menurut saya adalah hal yang sangat bagus apabila diterapkan sesuai dengan maknanya. Tetapi pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah edukator di Indonesia siap dengan KBK dan apakah murid-murid juga siap menerimanya. Yang perlu diingat adalah keyword dari KBK itu sendiri adalah kata kompetensi. Kita harus melakukan self introspection. Apakah kita sebagai seorang edukator adalah seorang yang kompeten? Selain itu, tambahnya, apakah throughput/hasil yang diharapkan dari KBK itu sendiri? Mungkin murid kita akan kompeten, tetapi at the end of the day mereka harus bisa mengerjakan ujian yang notabene adalah a small way in examining competence. Sudah saatnya semua ujian di tingkat SMP, SMA, dan Universitas adalah membuat sebuah riset atau essay untuk mengetahui level kompetensi murid dan bukan pertanyaan pilihan ganda. Sia-sia menggunakan KBK, tapi hasilnya adalah hasil nilai ujian semata.
“Saya setuju dengan Konsep KBK ini,” kata Yaya antusias. “Karena saya sendiripun kurang lebih menerapkan hal yg sama di kelas saya sendiri. Saya tidak lagi hanya mengacu pada buku teks, hapalan dan kurikulum. Jadi seperti di kelas saya sendiri. Saya mengajar bidang yg saya cintai, yaitu bahasa inggris. Di buku sih udah tercetak bab 1 mengajar tentang present tense, bab 2 tentang direction. Tapi jujur saja, saya hampir tidak pernah mengikuti bab per bab. Saya lebih melihat ke keadaan murid saya. Saya tentu lebih menginginkan murid saya menganggap saya seorang guru yg enak diajak bertukar pikiran dibanding seorang guru yang killer. Jadi tak jarang juga, kelas saya diisi dengan sesi curhat tapi tetap dengan bahasa inggris.”
Menanggapi peran media cetak dan elektronik yang begitu deras dewasa ini yang sedikit banyak memberi pengaruh bagi sudut pandang dan apresiasi peserta didik, Syamsul yang menyandang gelar Master of Information Management and System ini berkomentar, “Media cetak dan elektronik bisa dikatakan sebagai two sided sword…it can kill you or it can help you. Yang paling penting adalah bagaimana menggunakan media tersebut sebagai alat penunjang pendidikan bukan sebagai pendidik. Saya ingat waktu kuliah dulu, salah satu dosen saya melarang semua muridnya menggunakan internet sebagai bahan resources. Waktu saya tanya kenapa, dia menjawab bahwa internet adalah information superhighway bukan ‘selected’ information superhighway. Semua orang dapat menulis di internet tapi tidak semua orang qualified untuk menulis di internet. Dan hal inilah yang selalu saya ingat. Saya tidak melarang murid saya untuk menggunakan mass media sebagi resources, tetapi mereka haruslah selektif dalam memilih hal-hal tertentu dan untuk dapat mengidentifikasi bias dalam memilih informasi.”
Yaya berkomentar serupa dengan mengawalinya dengan pepatah, “If you can’t beat them, join them.” Sebagai pendidik, katanya, “Kita jangan memusuhi media cetak atau elektronik. Kita bisa saja menggabungkan antara pelajaran yg akan kita ajarkan dengan media cetak/elektronik. Misalnya berdasarkan pengalaman saya mengajar: waktu itu lagi booming-nya AFI. Dan saya harus mengajarkan topik “getting to know each other.” Solusinya: saya bawa poster anak-anak AFI (Akademi Fantasi Indosiar,Red), saya ajak murid-murid saya untuk membuat suatu dialog yg berkaitan dengan “kenalan dengan teman baru.” Saya menggunakan poster AFI utk membiarkan murid saya memainkan peran sebagai anak-anak AFI itu. Saya juga sering membaca buku chicken soup ke kelas utk dibaca dan dibahas bersama-sama.”

Guru sekaligus Kakak
Soal pengalam selama mengajar, Isnaini yang juga menjadi staf pengajar di SMILE Group Yogya dan menjadikan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai idolanya, membagi pengalaman, “Yang paling berkesan adalah ketika saya memberikan pelatihan komputer khususnya desain web bagi guru-guru mata pelajaran komputer di sebuah kabupaten di Yogyakarta. Menarik karena akhirnya saya mengerti bahwa tingkat pemahaman dan penguasaan materi oleh guru-guru tersebut ternyata sangat kurang dan jauh dari harapan. Bisa Anda bayangkan dengan kemampuan dasar komputer, dalam hal ini yang paling sederhana adalah penguasaan tentang windows explorer (copy, paste file, mambuat folder dll) ada yang nggak bisa, bahkan pegang mouse ajah ajah susah. Nah kalo guru komputernya ajah seperti itu, gimana dengan anak didiknya? Beruntung di kota-kota besar seperti Jogja, banyak sekali lembaga pendidikan komputer dan bahasa, jadi siswa dapat memperoleh ilmu di luar sekolah. Makanya ada sedikit rumor di Jogja, kata Isnaini berseloroh: banyak guru komputer yang mengundurkan diri karena siswanya lebih pintar mengoperasikan komputer dari gurunya.”
Lain lagi dengan Yaya. Dia menceritakan betapa gugupnya waktu pertama kali diterima sebagai guru bahasa inggris. “Saya tak pernah mengira kalau selain mengajar, saya juga akan bertindak sebagai seorang kakak,” katanya mengenang. “Dari situ saya mulai belajar, bahwa kalau mengajar tanpa pake hati hasilnya akan nol. Jadi sepanjang karir mengajar saya, yang membuat kelas saya lebih hidup dari kelas lainnya adalah: saya selalu membawa sesuatu yg beda setiap harinya. Saya pernah membawa radio dengan kaset lagu-lagu, saya buat games di kelas, saya kasih kejutan reward bagi yg mendapat nilai baik waktu ujian harian. Hal-hal itulah yg Alhamdulillah membuat saya tetap dekat dengan anak didik saya, biarpun saya tidak mengajar mereka lagi (karena mereka telah naik ke level berikutnya),” ujar Yaya yang pernah meraih juara favorit lomba entry blog yang diadakan oleh Blogfam dalam rangka HUT Kemerdekaan RI tahun 2005 ini.
“Satu hal yang selalu membuat saya enjoy dalam dunia pendidikan adalah melihat transformasi murid saya dari seorang yang slenge’an menjadi seorang yang mempunyai goal,” ungkap Syamsul menuturkan pengalamannya mengajar. “Dan apabila goal itu tercapai dan dia lulus dengan baik,” tambahnya,”hal inilah yang harganya lebih dari rupiah… sebuah kepuasan yang saya tidak bisa dapatkan di manapun. Terlebih apabila bekas murid itu mendapatkan jabatan yang bagus dan dia datang kepada kita dan mengucapkan terima kasih…semua capek dan penat akan hilang.” *** (Amril/Lili)

sumberipun: Blogfam Magazine !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s