REGISTER, DIALEK, DAN GAYA BAHASA


REGISTER, DIALEK, DAN GAYA BAHASA

Register secara sederhana dapat dikatakan sebagai variasi bahasa berdasarkan penggunaannya, sedangkan dialek sebagai variasi bahasa berdasarkan penggunanya Di dalam konsep ini register tidak terbatas pada pilihan kata saja (seperti pengertian register dalam teori tradisional) tetapi juga termasuk pada pilihan penggunaan struktur teks, dan teksturnya: kohesi dan teksikogramatika, serta pilihan fonologi atau grafologinya. Karena register meliputi seluruh pilihan aspek kebahasaan atau linguistik, maka banyak linguis menyebut register sebagai styleatau gaya bahasa. Variasi pilihan bahasa register tergantung pada konteks situasi, yang meliputi 3 variabel: field (meda), tenor (pelibat) dan mode (sarana) yang bekerja secara simultan untuk membentuk konfigurasi kontekstual atau konfigurasu makna. Sementara itu variasi bahasa pada dialek berdasarkan letak geografis (misalnya di dalam Bahasa Jawa meliputi daerah Jawa Timuran, pesisiran, Surakartan, Yogyakartan, dan Banyumasan), sastra sosial (misalnya : struktur hirarkis di dalam sistem kekerabatan, struktur hirarkis status sosial, struktur hirarkis profesi). Secara umum Halliday (dalam Halliday dan Hasan, 1985) membedakan register dan dialek sebagai berikut:

. PERBEDAAN REGISTER DAN DIALEK

Dialek Register
à Variasi bahasa berdasarkan ‘user’ dialek merupakan variasi bahasa yang digunakan setiap hari, dan ditentukan oleh secara geografis atau sosiologis ‘siapa anda’ (daerah &/atau asal klas sosial &/atau klas sosial yang diadopsi.

à Dialek menunjukkan struktur sosial atau tipe hirarki sosial yang dimiliki oleh penggunanya.

à Oleh karena itu pada dasarnya dialek adalah mengatakan hal yang sama secara berbeda. Maka dialek cenderung berbeda dalam hal: fonetik, fonologi, kosa kata, dan dalam beberapa hal tatabahasa; tetapi tidak pernah berbeda di dalam semantik.

à Contoh sekstrem dialek ini adalah: ‘anti-bahasa’, prokem, dan ‘bahasa ibu’.

à Contoh-contoh lainnya, misalnya: variasi sub-kultur, kasta, klas sosial, keaslian (rural atau urban), generasi (orang/anak), usia (tua/muda, dan seks (pria/wanita) lihat juga Chambers dan Trudgill, 1980: Lyons, 1981 untuk membandingkan dengan register.

à Variasi bahasa berdasarkan ‘use’-nya. Register adalah bahasa yang digunakan pada saat tertentu; dan dietntukan oleh: apa yang anda kerjakan, dengan siapa dan dengan menggunakan sarana apa.

à Register menunjukkan tipe pro-ses sosial yang sedang terjadi.

à Oleh karena itu pada hakekatnya register mengata-kanhal yang berbeda. Maka register cenderung berbeda dalam bidang: semantik dan oleh karena itu berbeda tatabahasa dan kosa katanya (seperti ekspresi makan), tetapi jarang berbeda dalam fonologinya (menuntut kuali-tas suara yang khas).

à Contoh ekstrem register ialah: bahasa terbatas, dan bahasa untuk tujuan khusus. Contoh lainnya, mislanya: variasi profesi (ilmiah, tehnologis), kelembagaan (doktor-pasien; guru-murid) dan konteks-konteks lain yang mempunyai struktur dan strategi tertentu (seperti : dalam diskusi belanja, ngobrol, dll).

Diambil dari (Halliday dan Hasan, 1985 dengan modifikasi)

Yang perlu diperhatikan selanjutnya ialah bahwa di dalam dialek anggota masyarakat mempunyai ikatan afektif yang sangat kuat dengan dialeknya, sehubungan dengan fungsi dialek dalam mengekspresikan setra mengatur hirarki sosial. Oleh karena itu satu dialek mungkin mempunyai status tertentu sebagai simbol nilai-nilai masyarakat secara keseluruhan. Sementara itu register merupakan konfigurasi semantik yang secara khusus dihubungkan dengan konteks situasi tertentu (seperti yang ditentukan oleh: medan, pelibat dan sarana tertentu).

Akan tetapi garis batas antara register dan dialek tidak selalu kelihatan jelas, ada titik-titik tertentu yang menunjukkan dimana dialek dan register saling tumpang tindih (overlapping). Misalnya dalam dunia kerja terdapat pembagian tingkatan pekerja (buruh, staf, pegawai, manager, dan direktur), yang setiap anggota tingkatan mempunyai peran sosial yang berbeda, dengan demikian dalam register tertentu memerlukan dialek (misalnya register birokrasi memerlukan dialek standar) lihat juga contoh-contoh dialek dalam Chambers dan Trudgill overlap dengan register, 1980). Di lain pihak ada kelompok-kelompok sosial yang cenderung mempunyai konsep makna register yang berbeda dalam mengekspresikan satu situsi tertentu. Dalam kasus ini banyak penelitian di dalam dunia pendidikan pada anak-anak yang berasal dari kelas sosial yang berbeda. Dalam kaus Berntein misalnya dalam register sekolah misalnya anak-anak dari kelas sosial menengah menggunakan ‘elaborate codes’ dan anak-anak dari kalangan kelas sosial bawah menggunakan ‘restricted codes’ yang masng-masing dipengaruhi oleh dialeknya di lingkungan mereka (Cook-Gumperz), 1986). Banyak penelitian sejenis yang menunjukkan hasil yang sama misalnya peneltiian oleh Brian Gray (1986) yang meneliti bahasa anak sekolah orang kulit putih dengan anak Aborigin di Australia, kemudian Michaels dan Heath yang melihat bahasa anak dan orang kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat (untuk detilnya lihat dalam Cook-Gumperz, 1986).

Konsep Register Berdasarkan Perspektif Sosiolinguistik

Pada mulanya register digunakan oleh kelompok-kelompok profesi (pekerjaan) tertentu. Bermula dari adanya usaha orang-orang yang terlibat dalam komunikasi secara cepat, tepat, dan efisien di dalam suatu kelompok kemudian mereka menciptakan ungkapan-ungkapan khusus. Setiap anggota kelompok itu beranggapan sudah dapat saling mengetahui karena mereka sama-sama memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kepentingan yang sama. Akibat dari interaksi semacam itu akhirnya bentuk tuturan (kebahasaannya) akan menunjukkan ciri-ciri tertentu, misalnya pengurangan struktur sintaktik, pembalikan urutan kata yang normal dalam kalimat (Holmes, 1992:276-282). Oleh sebab itu, ciri-ciri tuturan(kebahasaan) mereka selain akan mencerminkan identitas kelompoktertentu, juga dapat menggambarkan keadaan apa yang sedang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Konsep register telah banyak diutarakan oleh para sosiolinguis denganpemahaman yang berbeda-beda. Holmes (1992:276) memahami register dengan konsep yang lebih umum karena disejajarkan dengan konsep ragam (style). yakni menunjuk pada variasi bahasa yang mencerminkan perubahan berdasarkan faktor-faktor situasi (seperti O2, tempat/waktu, topik pembicaraan). Lebih lanjut dijelaskannya bahwa kebanyakan para sosiolinguis menjelaskan konsep register secara lebih sempit, yakni hanya mengacu pada pemakaian kosakata khusus yang berkaitan dengan kelompok pekerjaan yang berbeda. Karena perbedaan ragam dan register tidak begitu penting maka kebanyakan para sosiolinguis tidak begitumempermasalahkannya. Dengan demikian, berdasarkan pada situasi pemakaiannya, Chaer (1995:90) menjelaskan bahwa variasi bahasa akanberkaitan dengan fungsi pemakaiannya, dalam arti setiap bahasa yang akan digunakan untuk keperluan tertentu disebut dengan fungsiolek, ragam, atau register.

Di dalam buku Sosiolinguistik II (Depdikbud, 1995:164) dikemukakan bahwa slang dalam bahasa Inggris disebut register. Slang atau register merupakan bagian leksikal, yang termasuk bidang yang disebut unsur bahasa tidak baku. Unsur tidak baku tersebut mencakup (1) kata-kata dengan gaya tertanda yaitu kata-kata ekspresif yang digunakan sehari-hari dan (2) kata-kata yang ditentukan secara sosial yang penggunaannyaterbatas pada kelompok sosial dan profesi tertentu.

Sementara itu, Wardaugh (1986:48), memahami register sebagai pemakaian kosakata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun kelompok sosial tertentu. Misalnya pemakaian bahasa para pilot, manajer bank, para penjual, para penggemar musik jazz, perantara(pialang), dan sebagainya. Konsep Wardaugh ternyata lebih jelas dibandingkan dengan konsep Holmes. Ferguson (1994) dalam kaitannya dengan konsep register berpendapat sebagai berikut.

A communication situation that recurs regularly in a society (in term of participants, setting, communicative functions, and so forth) will tend overtime to develop identifying markers of language structure and language use, different from the language of other communication situations. (dalam Biber, 1994:20). ‘Situasi komunikasiyang terjadi berulang secara teratur dalam masyarakat (dalam hal partisipan, tempat, fungsi-fungsi komunikatif, dan seterusnya) akan cenderung berkembang sepanjang waktu mengidentifikasikan penanda struktur bahasa dan pemakaian bahasa, yang berbeda dari bahasa pada situasi-situasi komunikasi yang lainnya.’ Dijelaskan oleh Ferguson bahwa orang yang terlibat dalam situasi komunikasi secara langsung cenderung mengembangkan kosa kata, ciri-ciriintonasi sama, dan potongan-potongan ciri kalimat dan fonologi yang mereka gunakan dalam situasi itu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa ciri-ciri register yang demikian itu akan memudahkan komunikasi yang cepat, sementara ciri yang lain dapat membina perasaan yang erat.

Konsep Register Menurut Linguistik Sistemik Fungsional

Halliday (1978:32) menjelaskan bahwa register adalah suatu bentukprediksi, dalam arti untuk mengetahui situasi dan konteks sosial pemakaian bahasa, bahasa yang akan terjadi dan dipakai. Dengan demikian,fenomena pemakaian register tentunya akan mengalami suatu perkembangan, baik dari khazanah kosa kata dan ungkapan-ungkapannya, maupun perkembangan dalam pengacuan maknanya. Adapaun ciri-ciri register itu antara lain:

  1. variasi bahasa berdasarkan penggunaannya dan ditentukan berdasarkan apa yang sedang dikerjakan (sifat kegiatan yang menggunakan bahasa).
  2. mencerminkan proses sosial (berbagai kegiatan sosial).
  3. register menyatakan hal yang berbeda sehingga cenderung berbeda dalam hal semantik, tatabahasa, dan kosakata (jarang dalam bidang fonologi). (Halliday, 1994:58-59)

Register oleh Halliday tidak hanya membahas soal variasi pilihan kata saja, tetapi akan melingkupi pilihan penggunaan struktur teks dan teksturnya, kohesi dan leksikogramatika., serta pilihan fonologi dan grafologinya. Oleh karena register meliputi keseluruhan aspek kebahasaan maka sering register disebut juga sebagai gaya tutur (style). Variasi pilihan bahasa di dalam register akan terikat pada konteks situasi yang meliputi 3 variabel, yaitu medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode). Medan akan merujuk apa yang terjadi sebagai gambaran proses sosial, apa yang sedang dilakukan partisipan dengan bahasa, dan lingkungan tempat terjadinya;pelibat akan menunjuk pada siapa saja yang berperan di dalam kejadian sosial, bagaimana sifat-sifatnya, status dan peran sosial yang dimiliki; sarana akan menunjuk pada apa yang diperankan dengan bahasa (persuasif, ekspositoris, atau didaktis)saluran apa yang digunakan (tulis atau lisan). Ketiganya bekerja secara simultan untuk membentuk konfigurasi kontekstual atau konfigurasi makna.

Secara populer register akan dibagi menjadi dua, yaitu register yang timbul karena kesibukan bersama yang tidak berkaitan dengan profesi dan register yang timbul karena orang-orang menjadi bagian dari profesi sosial bersama. (Depdikbud, 1995:166).

Seperti yang telah sedikit disebutkan di atas register merupakan konsep semantis yang dihasilkan dari suatu konfigurasi makna atau konfigurasi kontekstual antara: medan, pelibat dan sarana di dalam konteks situasu tertentu. Konfigurasi makna tersebut membatasi penggunaan/pilihan makna dan sekaligus bentuknya untuk mengantar sebuah teks di dalam konfigurasi itu. Dengan demikian register bukan semata-mata merupakan konsep bentuk. Jika di dalam suatu konfigurasi makna tertentu register memerlukan bentuk-bentuk ekpresi tertentu, hal itu disebabkan bentuk-bentuk ekspresi diperlukan untuk mengungkapkan makna yang dibangun di dalam konfigurasi tersebut. Dalam pengertian ini register sama dengan pengertianstyle atau gaya bahasa yaitu suatu varuan bahasa yang berdasarkan penggunaannya (lihat Lyons, 1981, 1987). Bahkan Fowler mengatakan bahwa register atau gaya termasuk penggunan bahasa dalam karya sastra seperti puisi, novel, drama dan lain sebagainya (1989). Ia berpendapat walaupun para sastrawan mengklim bahwa karya sastra merupakan dunia kreasi tersendiri, yang merupakan second order semiotic system (sistem semiotika tingkat kedua) dan bahasa sebagai medianya hanya merupakan first order semiotic system (sistem semiotika tingkat pertama), keseluruhan sistem semiotik tersebut baik yang tingkat pertama maupun kedua tetap saja direalisasikan ke dalam bahasa yang merupakan sebagai media karya sastra tersebut.

MEDAN (FIELD) MERUJUK PADA APA YANG SEDANG TERJADI, sifat-sifat proses sosial yang terjadi: apa yang sedang dilakukan oleh partisipan dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Medan ini juga menyangkut pertanyaan yang terkait dengan lingkungan kejadian seperti: kapan, di mana, bagaimana kejadian itu terjadi, mengapa kejadian itu terjadi dan sebagainya. Di dalam contoh ‘rembug desa” di atas, medan emrujuk pada peristiwa rembug desanya itu sendiri, cara yang digunakan dalam rembug desa tersebut, yaitu: musyawarah, topik yang dibahas, tempat dan waktu musyawarah, serta mengapa musyawarah itu dilaksanakan. Aspek medan ini di dalam teks dapat dilihat melalui struktur teks, sistem kohesi, transifitas, sistem klausa, sistem grup, (nimona, verba dan adjunct), serta sistem leksis: abstraksi dan teknikalitas, serta ciri-ciri dan kategori semantiknya.

KEMUDIAN PELIBAT (TENOR) merujuk pada siapa yang berperan di dalam kejadian sosial tersebut, sifat-sifat partisipan, termasuk status serta peran sosial yang dipegangnya: macam peran sosial yang bagaimana yang dipegang setiap partisipan, termasuk hubungan status atau peran permanen atau sesaat, disamping juga merujuk pada peran bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan hubungan peran dan status sosial di dalamnya. Di dalam contoh di atas yang termasuk di dalam pelibat ialah: partisipan: lurah, punggawa desa, dan masyarakat, serta hubungan peran dan status sosial mereka seperti yang tampa pada bahasa yang mereka gunakan untuk mengekspresikan hubungan peran serta status sosial mereka masing-masing. Aspek pelibat ini juga mempunyai 3 sub-bagian, yaitu: afek, status dan kontak. Afek ialah penilaian (assesment, evaluation dna judgement) antar partisipan di dalam teks. Penilaian ini secara umum dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu: penilaian positif atau negatif. Akan tetapi di dalam analisis teks penilaian positif atau negatif ini dapat dijelaskan melalui komponen semiotik yang digunakan di dalam teks tersebut. Misalnya untuk penilaian positif dapat dikatakan apakah partisipan mendukung, setuju pendapat partisipan yang lain, apakah partisipan yang satu sedang menghargai, menyanjung partisipan yang lain dan sebagainya. Penilaian negatif dapat terlihat apakah partisipan yang satu sedang meyerang, mengkritik, mengejek, mencela, atau tidak menyetujui pendapat partisipan yang lainnya. Dari penilaian inilah sebetulnya peneliti dapat melihat ideologi partisipan yang satu terhadap partisipan yang lainnya. Dalam sistem kebahasaannya, afek ini dapat diinterpretasikan dari sistem fonologi/grafologi, leksisnya: deskriptif atau atitudinal, struktur mood-nya: proposisi atau proposal, transitifitas, struktur temanya, kohesi, dan struktur teks, serta genrenya. Aspek pelibat yang kedua, yaitu status, membahas hubungan status sosial atau hubungan peran partisipannya. Secara umum, hubungan peran dan status sosial ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: hirarkis/vertikal, dan non-hirarkis/horisontal. Di dalam analisis, status sosial dan hubungan peran ini harus dijelaskan status sosial yang seperti apa serta peran sosial apa yang sedang diperankan oleh partisipan di dalam suatu teks, misalnya status dan peran sosial partisipan lebih bersifat otoriter, tertutup seperti atasan-bawahan, dokter-pasien, dan lain sebagainya, atau mungkin lebih bersifat demokratos, terbuka seperti hubungan antar anggota parlemen, antar dosen, antar mahasiswa, dan sebagainya. Secara semiotis, hubungan status dan peran sosial ini dapat dilihat melalui fonologi, grafologi, leksis: deskriptif atau atitudinal, struktur mood, proposisi atau proposal, transitifitas, struktur tema, kohesi, dan struktur teks beserta genrenya. Subaspek yang terakhir, yaitu kontak, mengevaluasi penggunaan bahasa yang sedang digunakan di dalam teks tersebut. Apakah bahasa yang digunakan tersebut familiar atau tidak, artinya semua partisipan yang terlibat di dalamnya memahami dan menegrti bahasa yang sedang digunakan di dalam teks (proses sosial verbal) tersebut. Jika ditinjau lebih lanjut kontak ini menyangkut tingkat keterbatasan (readibility) suatu teks yang sedang digunakan, maksudnya apakah teks ini terlalu sulit, sulit, mudah atau terlalu muda untuk dimengerti. Untuk mencari tahu kontak (afamiliaritas dan keterbacaan ini) seluruh aspek kebahasaan, dari aspek yang tertinggi sampai aspek yang terendah (struktur teks : jelas pembukaan, isi dan penutuonya atau membingungkan, linier atau spiral (dalam bahasa Jawa ‘mbulet’), kohesi: rujukannya jelas atau membingungkan, sistem klausanya: simpleks, simpleks dengan embbeding, kompleks kompleks dengan embbeding,sistem grupnya (nomina, verba, adjunct): simpleks atau kompleks, sistem leksisnya: kingruen atau inkongruen, menggunakan abtraksi atau teknikaliats, serta fonologi atau grafologinya harus diukur.

AKHIRNYA SARANA (MODE) MERUJUK PADA BAGIAN MANA YANG DIPERANKAN OLEH BAHASA, APA YANG DIHARAPKAN PARTISIPAN DENGAN MENGGUNKAN BAHASA DALAM SITUASI TERTENTU ITU: organisasi simbolis teks, status yang dimilokinya, fungsinya di dalam konteks tersebut, termasuk saluran (channel) (apakah bahasa yang digunakan termasuk bahasa tulis atau lisan atau gabungan?) termasuk di dalamnya sarna retorisnya: apakah yang diinginkan teks tersebut termasuk dalam kategori: persuasif, ekspositpri, didaktis atau yang lainnya. Di samping itu aspek sarana ini juga melibatkan medium yang digunakan untuk mengekspresikan bahasa tersebut: apakah mediumnya bersifat lisan dengan one-way (satu arah) atau two-way (dua arah) communication: audio, audio-visual, misalnya: tutorial, pidato, siaran radio atau televisi, dialog, seminar, kotbah dan lain sebagainya: atau tulis/cetak yang bersifat komunikasi satu arah atau dua arah seperti: koran, majalah, tabloit, spanduk, papan iklan, surat menyurat dan lain sebagainya.

Dalam contoh di atas yang termasuk di dalam aspek sarana ialah varian bahasa lisan: ngoko, kromo yang digunakan oleh partisipan di dalam medium rembug desa, teksnya merupakan satuan kesatuan aktivitas sosial yang bersifat persuasif dengan argumen logis atau hortatoris, serta mediumnya ialah musyawarah dengan berbagai aturan tempat dan tata letak (proksemik), cara bermusyawarah dan lain sebagainya.

Secara terperinci channel atau yang juga disebut gaya bahasa dapat dibagi menjadi dua yaitu gaya lisan dan gaya tulis. Gaya lisan atau tulis ini tidak terikat erat dengan apakah bahasa itu diucapkan atau ditulis, tetapi gaya lisan dan gaya tulis ini dilihat dari sifat alamiah bahasa yang sedang digunakan (the nature of language). Sebenarnya pembagian gaya bahasa lisan atau tulis ini tidak semata-mata bersifat mengklasifikasikan atau mengkategorikan bahwa gaya bahasa hanya ada dua, tetapi pembedaan itu lebih merupakan suatu kontinum. Artinya bahasa yang peneliti gunakan sehari-hari dapat jatuh pada garis kontinum lebih bersifat lisan, cenderung lisan, tengah-tengah antara lisan dan tulis, cenderung tulis atau lebih bersifat tulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s