CLL


COMMUNITY LANGUAGE LEARNING
a. Teori Belajar
Berdasarkan pengalaman Currant, dia membuat kesimpulan bahwa teknik konseling dapat diterapkan dalam belajar pada umumnya dan pengajaran bahasa secara khusus (Komunitas belajar bahasa).
Ada dua pendapat tentang Community Language Learning (Komunitas Belajar Bahasa) yakni:
Yang pertama berpandangan bahwa belajar putative popular dalam budaya barat, dalam pandangan ini proses intelektual dan factual saja yang dianggap tujuan utama belajar.
Yang kedua pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran hewan dimana peserta didik menjadi pasif dan keterbatasan mereka terpisah. Belajar terjadi bila adanya komunikasi antara guru dan siswa. Proses ini dibagi menjadi lima tahap dan dibandingkan dengan perkembangan ontogenetik anak yakni;
a. Tahap pertama yaitu kelahiran ke alam dunia ini.
b. Tahap kedua yaitu kemampuan pembelajar meningkat, siswa sebagai
anak mulai mendapatkan kebebasan dari orangtua.


c.. Tahap ketiga yaitu pembelajar berbicara secara bebas, mungkin perlu
untuk menegaskan identitas diri.
d. Tahap keempat yaitu pembelajar dapat menerima kritik.
e. Tahap kelima yaitu anak telah menjadi dewasa.
b. Prinsip dasar CLL

Dalam pelaksanaan metode ini, guru mengganggap siswanya sebagai ―whole person/ pribadi menyeluruh‖. Whole-person learning maksudnya adalah guru tidak hanya mempertimbangkan perasaan dan kepandaian siswa, tetapi juga mempunyai pemahaman tentang perasaan siswa, reaksi fisik, reaksi protektif instingtif, dan keinginan untuk belajar.
Curran menyimpulkan bahwa teknik konseling dapat diterapkan dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa.Tugas utama konselor agar pelajar merasa aman dari ancaman dan kecemasan. Ada berbagai gagasan mengenai persyaratan psikologis untuk menjadi pembelajar sukses termasuk dalam singkatan SARD.S (Security) artinya keamanan,
A (attention/aggression) artinya perhatian dan agresi. CLL mengakui hilangnya perhatian sebagai indikasi kurangnya keterlibatan siswa dalam belajar. Agresi berfungsi dengan cara bagaimana cara seorang anak setelah belajar sesuatu mengambil alih dan menunjukkan kekuatan apa yang telah dipelajari dengan menggunakan pengetahuan baru sebagai alat untuk dirinya sendiri.
R sebagai retensi atau refleksi.Jika seluruh siswa terlibat dalam proses belajar mengajar maka apa yang dipertahankan lalu diinternalisasikan menjadi bagian pengalaman baru siswa dalam bahasa asing.Refleksi merupakan identifikasi secara diam-diam dalam rancangan pembelajaran siswa.
D sebagai diskriminasi yakni ketika peserta didik telah mempelajari materi, lalu mereka siap untuk memecahkan masalah mengatasinya dan melihat suatu hal berkaitan satu sama lainnya.Proses diskriminasi menjadi lebih halus dan akhirnya memungkinkan siswa untuk menggunakan bahasa untuk menggunakan bahasa untuk tujuan komunikasi di luar kelas.
Tujuan penggunaan metode ini agar siswa belajar bagaimana menggunakan bahasa target secara komunikatif. Siswa juga belajar bagaimana belajar sendiri dan bertanggung jawab untuk hal ini, dan belajar bagaimana belajar bersama orang lain.
Peran utama guru adalah sebagai konselor, artinya guru mengenali bagaimana ancaman situasi belajar yang baru dapat terjadi pada siswa, sehingga guru dapat memahami dan memberi dukungan untuk siswanya dalam usahanya menguasai bahasa.
c. Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
Communicative Language Learning merupakan penggabungan dari belajar inovatif dengan belajar konvensional yakni:
1. Terjemahan. Siswa membisikan pesan yang ia akan ucapkan, guru
menerjemahkan ke dalam bahasa target dan pelajar mengulangi
terjemahan guru.
2. Kelompok Kerja. Siswa dapat terlibat dalam tugas-tugas kelompok seperti
diskusi kelompok dengan satu topik, menyiapkan percakapan, menyiapkan
ringkasan topik untuk presentasi ke kelompok lain, menyiapkan sebuah
cerita yang akan disajikan kepada guru dan seluruh siswa.
3. Merekam. Siswa merekam percakapan dalam bahasa target.
4. Transkripsi. Siswa menuliskan ucapan-ucapan dan percakapan mereka
lalu direkam untuk dipraktekkan dan meanalisis bentuk-bentuk linguistic.
5. Analisis. Siswa menganalisis dan mempelajari transkripsi kalimat bahasa
target untuk difokuskan pada penggunaan leksikal tertentu atau pada
penerapan aturan tata bahasa tertentu.
6. Refleksi dan Observasi. Siswa mencerminkan dan melaporkan
pengalaman di kelas mereka.Sebagai kelas atau dalam kelompok.Hal ini
terjadi sebagai ungkapan perasaan satu sama lain dan kepedulian
terhadap sesuatu untuk dikatakan dan lain sebagainya.
7. Mendengarkan. Siswa mendengarkan monolog oleh guru yang melibatkan
unsur-unsur dari mereka dalam interaksi di kelas.
8. Percakapan bebas. Siswa terlibat percakapan bebas dengan guru atau
siswa lain.Hal ini mungkin termasuk dalam diskusi tentang apa yang
mereka pelajari serta perasaan mereka tentang apa yang telah dipelajari.
d. Contoh Pelaksanaan pembelajaran
1. Satu kelas terdiri dari 6 – 12 siswa yang duduk dengan membentuk
lingkaran.
2. Guru memberi salam, mengenalkan diri dan mempersilakan siswa saling
berkenalan.
3. Guru memberi tahu siswa tentang apa yang akan dilakukan, menjelaskan
prosedur dan menentukan batasan waktu.
4. Guru berdiri di luar lingkaran dari siswa berada.
5. Tape recorder disiapkan untuk merekam ucapan siswa (yang direkam
hanya ucapan bahasa target yang sedang dipelajari yang nantinya akan
ditranskripsikan).
6. Siswa melakukan percakapan. Seorang siswa mengucapkan dengan keras
pesan menggunakan bahasa pertama. Guru berdiri dibelakang siswa
tersebut.
7. Guru memberikan pesan dalam bahasa target.
8. Siswa mengulangi pesan dengan suara yang keras untuk teman-teman
dengan menggunakan bahasa kedua.
9. Proses ini dilakukan berulang-ulang serta direkam. Dalam proses ini, guru
juga memberi tahu sisa waktu untuk percakapan.
10. Setelah selesai siswa diajak membicarakan tentang perasaan mereka
selama percakapan, guru memahami dan menerima semua yang
diungkapkan siswa.
11. Ucapan-ucapan ini dimainkan lagi, diterjemahkan kedalam bahasa
pertama.
12. Siswa disuruh membuat setengah lingkaran menghadap papan tulis dan
ucapan-ucapan yang telah dirakam tadi di transkripsikan.
13. Pada kegiatan Human ComputerTM, siswa memilih frase mana yang
ingin mereka latih pengucapannya. Guru mengikuti apa yang diinginkan
siswa, mengulangi frase sampai siswa merasa puas dan berhenti.
14. Pada pertemuan yang lain, siswa juga bisa bekerjasama dalam kelompok
kecil (tiga orang).
15. Jika ada kesalahan, guru memberikan koreksi dengan cara mengulangi
dengan benar kalimat yang telah dibuat siswa.
Simpulan

Community Language Learning (Komunitas belajar bahasa) merupakan metode yang paling responsive dari segi sensitivitas untuk pelajar.Tujuan komunitas ini terhambat oleh jumlah dan pengetahuan sesama peserta didik.Guru harus sensitif terhadap bahasa pertama dan bahasa kedua.Guru harus siap menerima bahkan mendorong para siswa untuk bersifat agresi karena ia berusaha untuk bebas.Guru mengajar tanpa bahan konvensional tergantung pada topik siswa untuk memotivasi kelas.
Sekelompok peserta didik duduk membentuk lingkaran dengan guru berdiri di luar lingkaran; siswa berbisik dalam bahasa asli sedangkan silabus yang menjadikan tujuan menjadi jelas dan evaluasi sulit dicapai.Hal ini fokus pada kelancaran bukan pada ketepatan yang menyebabkan kontrol tidak memadai dari bahasa sasaran.Manfaat positif dari metode ini yakni berpusat pada peserta didik dan menekankan sisi humanistik belajar bahasa dan bukan hanya dimensi bahasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s