Percayalah padaku, mata tidak bisa berdusta.


Saya lahir 11 Desember 2001. Saya anak laki-laki dan anak pertama dalam keluarga saya. Saya bernama Sentforth Faizulhub. ayah memberi saya nama itu karena ia bangga mengajar Bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi Islam dan nama saya adalah kombinasi bahasa Arab dan Inggris. hal Ini memberitahukan bahwa bahasa Inggris adalah keahliannya dan bahasa Arab adalah simbol

Islam dunia. Selain itu, ia sering mengatakan pada orang lain bahwa nama ini

juga berarti “dikirim oleh Allah di barisan depan untuk memenangkan cinta “. Dia berharap bahwa dengan nama itu ayah saya akan memberi lebih banyak cinta, bahkan lebih besar dari apa yang saya harapkan dan dia ingin semua orang mengenal saya dan mencintai saya.

. Ayah telah menamai saya dan pasti ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada saya dalam perjalanan hidup saya .

 

Awal cobaan yang datang.

Ayah bercerita pada semua orang bahwa ketika saya lahir saya mengalami demam; suhu saya  mencapai 40 derajat Celcius ketika saya baru berumur 32 hari dan itu terlalu sulit dan berat bagi saya . saya sempat  pingsan. saya koma selama dua belas hari. Para dokter mengatakan  kemungkinannya  sangat kecil jika ayah berharap saya hidup karena mereka mengatakan harapan hidup saya hanya 10 persen dan 90 persen adalah kemungkinan saya akan meninggal dunia  pada setiap menit cepat atau lambat. Ayah tidak membiarkan aku pergi, dia meminta semua orang untuk berdoa bagi saya, dan dia juga bertanya kepada sahabatnya yang hendak pergi ke ibadah haji untuk berdoa untuk kesembuhan saya.

 

Ayah suka memberitahu semua orang bahwa saya kemudian terjaga dari koma saya dan dia juga bangga pada dirinya  yang telah memutuskan bahwa saya harus menjalani operasi otak ketika saya masih berumur 2 bulan . Ayah selalu memasukkan dalam ceritanya Alasan mengapa ia membiarkan dokter melakukan operasi. Sebelum operasi, dokter menunjukkan kepada ayah  banyak titik darah di otak saya dan berkata “ini  darah semua. putra Anda masih hidup dan terjaga sekarang, tetapi jika kami tidak melakukan operasi,  darah di kepalanya akan memberinya rasa sakit yang parah dan ia tidak mungkin dapat bertahan, ia mungkin akan mati karena kerusakan di otaknya. Tapi Anda juga harus tahu bahwa kami tidak akan tahu  apa yang mungkin terjadi kemudian  pada perkembangan mentalnya setelah operasi.Dia mungkin bertahan hidup dan tumbuh seperti anak biasa atau dia tidak mungkin dapat melakukan hal-hal seperti  anak-anak lain kerjakan. . Saya harus mengatakan hal ini karena operasi adalah prosedur untuk menyelamatkan nyawanya, mari kita berdoa kepada Tuhan untuk itu. Anda dapat mendiskusikan dengan istri anda sekarang dan jika Anda memberi izin , kami akan melakukan operasi besok “.

 

Keputusan berat seorang ayah 

 Ayah selalu mengulangi baris ini kata-kata ini “Tentu saja, aku harus melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan hidup anakku, dan saya berani mengatakannya ke dokter. Pada saat itu, itu adalah keputusan yang terbaik dan aku tahu aku telah benar dalam memutuskannya “.

 

Sekarang saya tergeletak di kamar saya dan saya alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup. saya hanya tidak bisa mengendalikan seluruh tubuh saya. Pikiran saya tidak bisa memerintahkan tubuh saya untuk melakukan sesuatu.

Saya tidak bisa berjalan, saya tidak bisa bicara, saya bahkan tidak bisa duduk atas kemauan saya sendiri. saya bisa mendengarkan suara tapi saya tidak bisa membedakan antara suara itu satu sama lain dan tidak tahu maknanya.

ayah pernah membawa saya mengunjungi spesialis mata untuk memeriksakan mata saya apakah saya sebenarnya bisa melihat atau tidak.. Ayah bertanya pada spesialis “mengapa dia tidak tersenyum ketika aku membuat mimik lucu dan dia tidak pernah melihat benda-benda yang saya tunjukkan padanya dalam waktu yang lama.

 

Ayah kemudian tahu bahwa mataku bereaksi terhadap cahaya, pupil mata saya melebar dan menyempit kecil bila terkena cahaya tetapi dokter tidak mengatakan lebih lanjut tentang mengapa saya tidak senyum ketika ayah menunjukkan mimik lucu saat dia ingin bermain dengan saya.

 

ayah memiliki teori sendiri bahwa saya dapat melihat sesuatu dengan mata saya, tetapi semua hal yang saya lihat bergerak sangat cepat dan membuat saya pusing dan itu sebabnya saya tidak bisa melihat benda-benda dalam waktu yang lama dan Saya tidak bisa duduk. Saya tidak bisa menjaga keseimbangan saya dan saya tidak dapat meraih dan mengambil sesuatu dengan tangan saya karena saya tidak pernah mengetahui dengan pasti posisi benda2 tsb.

 

Usaha ayah dan ibu

Ayah dan ibu  suka pergi dengan saya seminggu sekali  ke luar kota atau ke tempat-tempat indah yang lain.Ayah sudah membuat kesepakatan  dengan ibu bahwa saya harus keluar dan melihat2 pemandangan di luar kamar tidur saya dan ayah berpikir bahwa saya mungkin merasa begitu bosan hanya berbaring di tempat tidur saya.

 

Ayah  selalu menempatkan kepala  saya di bahunya, kiri atau kanan bergantian dan berjalan cukup lambat karena ia harus menghemat energi dan ia tidak akan membawa saya pulang sebelum ia yakin bahwa saya telah cukup puas melihat2 pemandangan.

Dia tidak pernah merasa malu menjadi subjek pertanyaan orang-orang tentang berapa umur saya sekarang dan apa yang aneh dengan saya, ia kadang-kadang menjadi terlalu antusias ketika seseorang mengatakan bahwa anak seperti saya mungkin memiliki sesuatu yang berbeda, semacam kekuatan supranatural, ia berpikir tentang kemungkinan ini, tetapi dia lebih yakin dengan janji Allah bahwa saya dapat membantu dia di hadapan Allah SWT nanti dan meminta Allah untuk mengampuni segala dosa dan untuk memberinya sorga Eden-NYA..

 

Badai masalah mulai berkecamuk

Ayah sering menatap saya dengan rasa putus asa. Itu terjadi setiapkali ia bertengkar dengan ibu saat dia ingin memiliki anak lagi. ibu saya selalu mengatakan bahwa aku butuh perhatian ekstra dan dia merasa dia tidak mungkin bisa memberikan saya cukup perhatian kalau dia harus membesarkan anak ke2. Ayah bersikeras bahwa memiliki anak lagi akan lebih baik. ia berkata “coba Dengar, kita telah melakukan banyak hal dan kita berharap Faiz bisa berubah, entah perkembangan motorik nya atau kemampuan kognitif , tetapi tidak ada perubahan apapun. Kita harus hidup dan menerima keadaan dia seperti dia sekarang ini. aku lelah, aku ingin menjadi seperti orang tua lainnya. Aku ingin melihat senyum lebar anakku ketika aku pulang dari kantor dan menenangkan aku dari segala beban kerja. Mungkin ketika kita memiliki anak lagi, kita tidak akan begitu takut dengan masa depan kita, mungkin saja anak kedua kita

akan begitu sayang dengan Faiz dan suka merawatnya ketika kita sudah tua. Kemudian sering, saya

mendengar ibu mengatakan hal-hal yang lain untuk meyakinkan dia bahwa waktu itu tidak tepat untuk memiliki anak lagi. ayah saya menatapku seakan bertanya pada saya “kapan?”.

 

Ibu hamil lagi .

Ayah tidak menyerah. Dia membujuk ibu sewaktu-waktu untuk berhenti menggunakan kontrasepsi.satu

hari ibu  mengatakan kepadanya bahwa dia berhenti menstruasi. Dia pergi ke dokter dan menanyakan apakah dia hamil dan dokter mengatakan “positif”. Ayahku tentu saja sangat senang dengan informasi ini. Hanya dalam dua

bulan masa hamil ibu saya, ayah  berhasil dipilih dalam dalam program calon pelatihan guru selama tiga bulan di Bali dan

tiga bulan di Australia. Ayah saya tahu itu  ini kesempatan yang terlalu bagus untuk ditolak tetapi ia tidak akan berani bicara secara terbuka dengan ibu . Ayahku berfikir meninggalkan aku dan ibu selama enam bulan adalah semacam pengkhianatan untuk komitmen  mengubah kehidupan dengan punya anak lagi.

Dia tahu bahwa ia harus melakukan yang terbaik .di luar dugaan ibu saya mengizinkan ayah pergi ke Bali. ibu

meyakinkan ayah untuk pergi karena dia sadar betapa pentingnya  pelatihan ini  untuk karir ayah . Sebelum

pergi, ayah menatap saya, di mata saya, seolah2 ayah  ingin bicara banyak dengan saya dengan tatapan matanya. Dia menyarankan saya  untuk jadi anak baik/jangan nakal dan tidak membuat ibu lelah. Dia menangis dan

hal itu menunjukkan bahwa ayah sedang serius. Setiap air mata jatuh dari matanya penuh dengan gambaran wajah saya di benaknya.

 

Pengorbanan Ayah untuk saya

Satu malam ayah  harus membawa saya sepanjang malam dari jam 9:00 malam sampai -4:30 pagi ke luar rumah mencoba menenangkan saya dan membujuk saya untuk berhenti menangis. Dia bertanya kepada saya begitu banyak pertanyaan dari apa yang saya rasakan, apa yang tidak enak dengan saya, dan bagaimana ia bisa membantu saya untuk meringankan rasa sakit. Kemudian, ia berbicara kepada Allah dengan kata-kata dan dengan hati, sampai ia mendengar suara Azan dan dia tidak menyadari bahwa saya telah tidur dalam pelukannya.

 

Ayah pergi 6 bulan

ketika ayah pergi suasana rumah begitu hening karena tidak ada lagi pertengkaran antara ibu dan ayah  tentang pakaian saya. Ibu selalu berpikir bahwa saya selalu kedinginan, karena ia tahu bahwa saya tidak bisa menghentikan air liur dan lapisan leher saya selalu basah. Dia menempatkan pada saya tiga atau empat lapis pakaian tapi kemudian ia mengeluh ketika saya sangat sering buang air kecil . Dia biasanya diminta ayah untuk mengganti semua pakaian saya dan memakaikan beberapa lainnya sejumlah empat lapis pakaian. Dua atau tiga kali melakukan hal ini, ayah tidak mengatakan apa-apa, tetapi yang keempat kali dia mulai bertanya mengapa saya harus memakai lapisan begitu banyak dan ini

adalah hal yang memicu emosi ibu. “Jika ayah tidak ingin mengerjakannya, katakan saja!. aku tidak akan membiarkan dia sakit lagi “ibuku menjawab tiba-tiba dengan suara keras untuk mengakhiri percakapan.

 

Ayah pulang

Enam bulan telah berlalu dan ayah kembali dari pelatihannya. Dia langsung pergi ke kamar saya dan di pintu, dia

duduk diam. Dia menangis dan saya melihat sangat jelas di matanya kerinduannya kepada kami, kepada ibu,

terutama diriku. Saya lihat di air matanya bayangan akan tulisan di buku hariannya yang menyatakan bagaimana dia kesepian tanpa saya dan ibu.

Pada salah satu halaman ia menulis ,

“I will be back soon my son. I’ll huge you and kiss you whenever I want because you always make me feel peaceful. Your eyes are my mirror. I did not need anyone to tell me how sometimes I was so inquisitive on God will upon us and became so fragile that I no longer had the courage to imagine our future, your future, in this worldly life; Your eyes are so full of serenity that I stop questioning. My son, Faiz, please be with me, with your mother, with your younger brother or sister, always. I know we learn so much from you how precious life is”. I told you all from my father eyes. Believe me, eyes don’t lie.

“Aku akan segera kembali anakku. Aku akan memelukmu dan menciummu kapan saja saya inginkan karena engkaulah yang selalu membuat saya merasa damai. Matamu adalah cerminku. Aku tidak perlu diberitahu oleh siapapun bagaimana kadang-kadang aku merasa begitu ingin tahu akan KehendakNYA atas kita dan menjadi begitu rapuh sehingga saya tidak lagi memiliki keberanian untuk membayangkan masa depan kita, masa depanmu, dalam kehidupan duniawi ini, matamu penuh dengan ketenangan sehingga aku berhenti bertanya. Anak saya, Faiz, silakan bersamaku, dengan ibumu, bersama dengan adik laki-laki dan adik perempuanmu, selalu. Aku tahu kami semua belajar banyak darimu akan betapa berharganya hidup ini”. Saya bercerita tentang hal ini dari kedua mata ayahku..

Percayalah padaku, mata tidak bisa berdusta.

 

Suka ·  · Bagikan · Hapus 

Advertisements

One thought on “Percayalah padaku, mata tidak bisa berdusta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s