Fenomena Jawanisme


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas

Jawanisme adalah sebuah fenomena atau gejala dalam bahasa Indonesia di mana seorang penutur, biasanya penutur ibu bahasa Jawa terpengaruh oleh bahasa ibunya.

Pengaruh ini meliputi bidang sintaksis dalam bahasa Indonesia.

Beberapa contoh:

* “Kamu datêng-ó sini!” atau “Kamu datêng sini-ó!” untuk “Kamu datanglah kemari!” atau “Kamu datang kemarilah!” dari bahasa Jawa: “Kowe maraa réné!” atau “Kowé mara rénéa”

* “Nanti barangé tak-ambil(é).” untuk “Nanti barangnya kuambil.” dari bahasa Jawa: “Mengko barangé tak-jupuk(é).”

* “Jalané pelan bangêt.” untuk “Jalannya pelan sekali.” dari bahasa Jawa: “Mlaku alon bangêt.”

* “Itu bukuné adékku!” untuk “Itu buku adik saya!” dari bahasa Jawa: “Iku bukuné adhek kulo!”

Selain itu masih banyak pengaruh dalam kosakata bahasa Indonesia.

Yang unik dari Jawanisme adalah sedikit sekali orang Jawa (pribumi) yang benar-benar mengalami Jawanisme ini. Yang mengherankan adalah banyak orang-orang Tionghoa (terutama yang hidup di kawasan Semarang dan Salatiga serta Solo dan juga Jogja ) yang mengalami gejala Jawanisme.

sebagai contoh: “Rene ó!” : “Kesinilah” atau “Kemarilah” dalam ujaran bahasa Tionghoa-Indonesia menjadi : “Sini ó”

“(O)ra isó” : “Tidak bisa” menjadi: “(E)ndak isa” atau “(E)ndak isó”

“Kuwi jarané isih ning njaba”: “Itu kudanya masih di luar”, menjadi: “Itu kudané misi(h) di luar”

[sunting] Fenomena Jawanisme dalam bahasa Inggris

Sebagai kelanjutan fenomena Jawanisme dalam bahasa Indonesia, penutur bahasa Jawa yang belajar bahasa Inggris atau tinggal di komunitas pemakai bahasa Inggris seringkali terdengar menggunakan istilah-istilah bahasa Jawa dalam kalimat bahasa Inggris ketika bercakap-cakap dengan penutur yang berasal dari wilayah yang sama.

Ekspresi-ekspresi yang sering dipakai adalah ‘lho’, ‘lha’, ‘to’, ‘kok’, ‘ki’, ‘no’, dan sebagainya

sebagai contoh:

* “Lho, I already bought that book !”: “Lho, aku uwis tuku buku kuwi!”, yang berarti “Loh, saya ternyata sudah beli buku ini!”

* “Kok, buying again ?”: “Kok tuku manéh?”, yang berarti “Mengapa beli lagi?”

* “I told you many times to !”: “Wis tak kandhéni ping piro to?”, yang berarti “Sudah saya beritahu berapa kali, sih!”

* “Lha, I didn’t know … how ki ?”: “Lha aku yó ora ngerti, piyé (i)ki?”, yang berarti “Ya saya tidak mengerti, bagaimana dong?”

* “Don’t be like that, no….”: “Ojo ngono, no…”, yang berarti “Jangan begitu, dong…”

http://id.wikipedia.org/wiki/Jawanisme

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s