[milis penerjemah BahTera] Fw: Berani menjadi penerjemah?


Anda berani jadi penerjemah? Yup, berani tidak? Masak sih lulusan SMA bisa jadi penerjemah? Nekat euy!
Barangkali itu yang ada di benak kita-kita. Wajarkah
mikir begitu? Ya, wajar aja. Jangankan lulusan SMA, kebanyakan
masyarakat kita juga masih berpikir demikian. Profesi penerjemah
identik dengan profesi intelek yang kadung diasosiasikan dengan tingkat
pendidikan tinggi. Yang artinya cuma orang-orang yang minimal lulus S-1
atau sarjana yang boleh jadi penerjemah. Benarkah seperti itu?
Menurut Femmy Syahrani Ardiyanto, salah seorang penerjemah lepas asal Bandung dalam jurnal blognya di http://femmy. multiply. com/journal/ item/24,
untuk berkarier sebagai penerjemah kita tidak memerlukan lisensi atau
sertifikasi tertentu. Sebagai penerjemah, keterampilan adalah yang
dibutuhkan. Bukan gelar pendidikan atau nilai TOEFL (Test of English as Foreign Language)
atau apakah sudah pernah tinggal di luar negeri untuk beberapa lama.
Bukti keterampilan itu terletak pada hasil terjemahan. Jika sudah
pernah bermukim di luar negeri tetapi hasil terjemahannya belepotan ya
tetap saja kita tidak dapat menjadi penerjemah. Sebaliknya, meskipun
kita belajar bahasa secara otodidak, misalnya, asalkan hasil
terjemahannya bagus tentu klien atau penerbit akan dengan senang hati
memberikan order kepada kita.
Anton
Kurnia (32), seorang penerjemah buku-buku sastra yang sudah
menerjemahkan lebih dari 50 buku dalam wawancaranya dengan harian Pikiran Rakyat,
Bandung, mengaku belajar menerjemahkan secara otodidak. Lulusan Teknik
Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik menerjemahkan
karena awalnya suka membaca buku-buku sastra berbahasa Inggris. “Saya
meningkatkan kemampuan diri dengan banyak membaca, belajar dari kamus
dan referensi lainnya,†ujar penerjemah yang salah satu karya
terjemahannya adalah novel Les Miserables edisi bahasa
Inggris karya Victor Hugo. Karena menurut Anton, terlepas dari apakah
penerjemah itu berpendidikan formal atau belajar otodidak, yang penting
adalah apakah sang penerjemah mau belajar lagi atau tidak. Seorang
penerjemah sekalipun lulusan Sastra Inggris jika tidak mau belajar akan
ketinggalan dibandingkan penerjemah yang belajar otodidak tetapi mau
terus belajar.
Nah, ada dua jenis ‘makhluk’ penerjemah di dunia ini. Pertama, translator (penerjemah tulisan), yakni penerjemah yang menerjemahkan dokumen tertulis seperti script, dokumen kontrak, naskah buku dll, dan yang kedua, interpreter (penerjemah lisan) yang dalam istilah resmi Himpunan Penerjemah
Indonesia (HPI) disebut sebagai ‘juru bahasa’. Makhluk yang kedua
ini bertugas menerjemahkan komunikasi verbal atau lisan baik antara dua
orang atau banyak orang, misalnya, dalam seminar atau konferensi.
Pernah nonton The Interpreter? Nah, film ciamik yang
dibintangi aktris cantik Nicole Kidman ini mengisahkan seorang
penerjemah lisan yang kedapatan menyimpan rahasia konspirasi besar di
tempat kerjanya di gedung PBB. Keren kan? Yup, seperti itulah kerennya
gawean penerjemah lisan.
Biar lebih keren, kita kudu tau juga kalo translator atau penerjemah tulisan juga masih ada penggolongannya. Duh,
ribet amat! Gak juga sih. Secara umum, pembagiannya cuma dua:
penerjemah buku dan penerjemah dokumen hukum. Penerjemah buku ya
menerjemahkan buku yang untuk diterbitkan penerbit. Untuk yang satu ini
emang gak perlu lisensi atau sertifikasi khusus. Asal gape nerjemahin
langsung deh laris! Tapi untuk jadi penerjemah dokumen hukum yang
mumpuni, kita kudu ikut ujian sertifikasi penerjemah tersumpah atau
bersumpah (sworn translator).
Ujian
ini diadakan tiap tahun biasanya di bulan September atau November di
Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia
(PPFIB-UI), Jakarta. Dan yang berhak menyandang predikat sworn translator hanya yang lulus ujian Bahasa Inggris Hukum dengan nilai A atau dalam
rentang nilai 85-100. Pengen tahu soal info pendaftaran ujian dan
lain-lain? Kontak aja Pusat PPFIB-UI di no.telp. (021) 31902112 atau
datang langsung ke Sekretariat PPIB-UI di Gedung Rektorat UI di Jl.
Salemba Raya atau satu kompleks dengan Fakultas Kedokteran UI di
Jakarta. Pengen tahu juga contoh soal ujiannya? Klik aja <http://nursalam. multiply. com/journal/ item/19>.
Kenapa
sih harus ikut ujian segala? Ya, iyalah. Karena bidang pekerjaan
penerjemah dokumen hukum terkait dengan dokumen hukum yang perlu
keakuratan data. Nah, stempel seorang sworn translator diperlukan untuk menjamin bahwa terjemahan sebuah dokumen hukum semisal
kontrak bisnis, akte notaris, akte kelahiran atau surat nikah memang
benar dan akurat. Juga sesuai dengan isi bahasa aslinya sehingga
berkekuatan hukum yang sama seperti aslinya dan dapat
dipertanggungjawabk an secara hukum jika sewaktu-waktu diperlukan
kesaksiannya di muka pengadilan.
Haruskah kita berijazah Sarjana Hukum atau SH? Nggak
juga tuh. Salah satu syarat menjadi peserta ujian penerjemah tersumpah
hanya fotokopi ijazah terakhir (minimal SMA/sederajat) . Titel SH juga
tidak menjamin kualitas terjemahan hukum seseorang lebih baik. Karena
banyak dari para peserta yang lulus dalam ujian ini yang bertitel
non-SH atau bahkan hanya pernah kuliah atau lulusan SMA. Saya pribadi
kenal betul beberapa kawan penerjemah tersumpah yang dropped-out dari kuliah S-1 dan berhasil lolos sebagai sworn translator serta kemudian sukses membangun biro penerjemahan.
Jika
pun kita gagal atau belum berani ikut ujian penerjemah tersumpah, tidak
lantas pintu rejeki tertutup. Rata-rata biro penerjemahan di Jakarta,
contohnya, untuk menghemat biaya mensubkontrakkan terjemahan hukum
kepada para penerjemah lepas atau freelance translator yang belum berpredikat sworn translator.
Namun ada beberapa jenis terjemahan yang hanya boleh ditangani oleh
penerjemah tersumpah. Tentunya tarif penerjemah non-tersumpah dan
penerjemah tersumpah beda dong. Beda kasta bo!
Sekedar
buka rahasia dapur, bila untuk subkontrak terjemahan, penerjemah
tersumpah bisa mengantungi minimal Rp. 50 ribu per lembar hasil maka
penerjemah non-tersumpah hanya pada kisaran minimal Rp 20 ribu per
lembar hasil. Ini untuk bidang bahasa Inggris. Perlu diingat ini harga
rata-rata di pasar karena sebetulnya standar HPI sebagai organisasi
resmi penerjemah cukup tinggi. Yakni 50 ribu rupiah per halaman hasil.
Namun sering atas nama kompetisi pasar para penerjemah dan biro
penerjemahan melakukan strategi banting harga. Nah, untuk bahasa lain
seperti Mandarin, Perancis, Arab atau Jerman biasanya lebih tinggi.
Bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Terlebih penerjemah tersumpah untuk
bidang bahasa selain Inggris sangat sedikit.
Setiap
tahun untuk bidang bahasa Inggris saja ujian penerjemah tersumpah yang
diselenggarakan PPFIB UI hanya meluluskan maksimal sekitar 5% peserta
saja.Untuk bidang bahasa lain, bukan hal aneh jika dalam beberapa tahun
tidak ada peserta yang berhasil lolos dan berhak diwisuda oleh Gubernur
DKI Jakarta dan menggondol sertifikat yang resmi ditandatangani
gubernur DKI.
Lantas
bagaimana dengan penerjemah buku yang konsumennya adalah para penerbit?
Kendati tidak mengenal sertifikasi khusus seperti bidang penerjemahan
dokumen hukum, para penerjemah buku memiliki keuntungan yakni lebih
dikenal masyarakat karena nama mereka tercantum dalam buku yang
diterjemahkan. Contohnya, seperti Femmy Syahrani Ardiyanto yang telah
banyak menerjemahkan buku nonfiksi atau novel dan menjadi langganan
penerbit-penerbit besar seperti Gramedia dan Mizan. Beberapa nama lain
seperti Sofia Mansyur atau Ari Wulandari—yang kini lebih sering
menulis buku—dapat disebut sebagai para penerjemah buku.
Lantas, apakah semudah itu jadi penerjemah?
Of course not, tentu tidak. No pain no gain, kata orang bule. Tetap saja harus ada ikhtiar atau pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan segala sesuatu.
Ada sejumlah investasi yang harus kita lakukan yakni investasi waktu, uang, tenaga dan membangun jejaring (network).
Kok pake investasi segala? Ya, iyalah. Orang bijak bilang keberuntungan
itu adalah hasil pertemuan antara kesempatan dan persiapan. Jadi jika
mau sukses ya jalan kesuksesan harus ditempuh dulu. Jangan berharap
duduk bengong lantas dapat keberuntungan gratis begitu saja. No way, man!
Investasi
waktu untuk jadi seorang penerjemah adalah menjatahkan waktu untuk
belajar suatu bahasa yang kita minati dengan sepenuh hati. Intinya kita
harus berminat dulu. Apakah itu bahasa Inggris, Perancis, Arab,
Mandarin atau Jepang. Whatever languages you are interested of. Geluti dan pahami sedalam-dalamnya. Jika masih blank atau nol sama sekali, kita bisa prioritas untuk terlebih dahulu kuasai
bahasa lisan atau percakapan bahasa tersebut. Karena ini relatif lebih
mudah ketimbang menguasai grammar atau tata bahasa atau bahasa
tertulis. Minimal, ketika sudah gape cas-cis-cus ngomong bahasa asing
paling mentok bisa jadi tourist guide atau interpreter.
Tahapan
selanjutnya, kuasailah tata bahasa tertulis. Konon gramatika adalah
faktor paling rumit dalam penguasaan suatu bahasa karena memerlukan
kerja kompleks dalam otak. Tapi jika yang satu ini sudah terlewati
alamat pintu jadi translator atau penerjemah (tertulis) bisa
mulai terbuka. Tentu ditambah banyak membaca berbagai macam bacaan dan
berdiskusi tentang bahasa.
Investasi
tenaga? Ya, butuh energi lebih untuk jadi penerjemah. Waktu istirahat
atau bersantai harus lebih sedikit. Karena kita harus alokasikan waktu
untuk kursus bahasa asing, ulang pelajarannya atau pergi ke
tempat-tempat yang dapat menambah wawasan bahasa kita seperti pusat
kebudayaan negara yang bahasanya tengah kita pelajari atau acara-acara
dan seminar tentang bahasa tersebut.
Investasi uang? Ya, ini faktor penting juga. Secara berseloroh, money is not everything but without money everything is nothing.
Untuk kursus bahasa tentu saja perlu uang. Kendati di Jakarta atau
beberapa tempat di kota lain ada beberapa tempat yang memberikan kursus
gratis. Umumnya untuk kalangan tidak mampu. Atau coba berkunjung ke
pusat-pusat pembinaan remaja dan pemuda punya pemerintah. Di Jakarta,
seperti Gelanggang Olahraga Bulungan (Jaksel) atau Gelanggang Olahraga
Jakarta Timur. Di tempat-tempat seperti ini umumnya ada program
pendidikan dan keterampilan gratis seperti komputer dan bahasa asing.
Investasi
membangun jejaring? Yup, rasanya ini faktor terpenting. Terlebih jika
kita setelah lulus SMA mau jadi penerjemah. Dari banyak penerjemah yang
saya temui dan termasuk pengalaman saya sendiri, jejaring atau network justru lebih berperan penting ketimbang latarbelakang pendidikan. Di
kalangan penerjemah dokumen hukum Jakarta sudah rahasia umum adanya
IKIP Jakarta connection. Jaringan alumni atau yang pernah
kuliah di IKIP Jakarta khususnya jurusan Bahasa Inggris umumnya banyak
jadi penerjemah karena jasa teman-teman satu almamater. Dalam
pengalaman saya, banyak order atau klien datang karena jejaring yang
saya bangun semasa masih menjadi staf penerjemah di sebuah biro
penerjemahan tersumpah. Termasuk jejaring semasa menjadi pengajar
bahasa Inggris di berbagai kursus.
Jika
ingin mengawali karir sebagai penerjemah, cobalah magang dengan seorang
penerjemah tersumpah atau bekerja di sebuah biro penerjemahan
tersumpah. Jangan terlalu berharap mendapatkan lowongan penerjemah di
koran. Karena umumnya lowongan penerjemah bisa dihitung dengan jari dan
hanya beredar di kalangan internal sesama penerjemah. Cari dan temui
para penerjemah itu di komunitasnya semisal di acara-acara yang
diadakan HPI yang terbuka untuk umum. Yang namanya membangun jejaring
juga bisa lewat internet atau melalui milis. Misalnya, bergabung dengan
milis bahtera di bahtera@yahoogroups .com Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya . Ini milis komunitas penerjemah dan peminat bahasa Indonesia. Insya Allah dijamin wawasan dan jejaring kita tambah oke!
Sebagai catatan, memang peluang jadi translator atau interpreter bagi para lulusan (atau pemegang ijazah) SMA dimungkinkan bahkan
terbuka lebar. Tapi kadang beberapa biro atau sejumlah penerbit
mensyaratkan penerjemah pernah mengecap jenjang pendidikan tertentu
seperti D3 atau lulus S-2. Jangan berkecil hati. It’s life.
Hadapi saja dengan bijak. Sekaligus membuat kita termotivasi. Jika
sudah sukses jadi penerjemah dengan “hanya†bermodal ijazah SMA
kenapa tidak melanjutkan pendidikan lagi? Saat ini sudah banyak
perguruan tinggi yang membuka program pendidikan penerjemah seperti di
Universitas Atmadjaya, STBA LIA. Mau yang fleksibel dan terjangkau?
Universitas Terbuka (UT) yang jangkauannya tersebar luas di Indonesia
juga punya program S1 Bahasa Inggris bidang Penerjemahan.
So, banyak jalan menuju Roma. Jadi penerjemah? Siapa takut!
Catatan: Artikel ini selengkapnya dan artikel terkait dapat dilihat di http://www.kintaka. wordpress. com
karena dapat kritik dari penulis sumbernya :

Wah, artikel saya ini sampai juga di sini. Untuk catatan,mbok ya nama penulisnya dicantumkan juga ya. Kode etiknya gitu lho. Btw, catatan lain, artikel ini juga sudah dimuat di rubrik MUDA majalah SABILI tahun 2008.

-Nursalam AR (certified legal translator) –

dengan ini saya cantumkan bahwa penulisnya adalah :
-Nursalam AR (certified legal translator)

Advertisements

11 thoughts on “[milis penerjemah BahTera] Fw: Berani menjadi penerjemah?

    • Singkatnya, diketahui bahwa predikat Penerjemah Tersumpah diberikan apabila calon penerjemah atau seseorang telah mengikuti Ujian Kualifikasi Penerjemah (UKP) yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (LBI-FIBUI). Mereka yang dapat mengikuti UKP adalah pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Selanjutnya, calon penerjemah tersumpah ini akan diambil sumpahnya atau dilantik oleh Gubernur DKI Jakarta atau pejabat yang ditunjuknya. Penerjemah tersumpah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta.

      Muncul pertanyaan, atas dasar apa Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia menjadi lembaga yang berwenang menyatakan seorang penerjemah tersumpah atau tidak. Dan muncul juga pertanyaan kritis, mengapa pula Gubernur DKI Jakarta lah yang mengesahkan dan mengukuhkan sumpah si penerjemah tersumpah dengan SK-nya? Adakah dasar legal formal yang melandasi kewenangan kedua lembaga itu dalam memberikan sertfikasi “Tersumpah” kepada seorang penerjemah.

  1. Wah, artikel saya ini sampai juga di sini. Untuk catatan,mbok ya nama penulisnya dicantumkan juga ya. Kode etiknya gitu lho. Btw, catatan lain, artikel ini juga sudah dimuat di rubrik MUDA majalah SABILI tahun 2008.

    -Nursalam AR (certified legal translator) –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s