Arsip untuk HomeSchooling

kelebihan dan kekurangan homeschooling


Dipandang dari sisi positif dan negatifnya, Homeschooling memiliki beberapa pertimbangan penting. Dilihat dari sisi positifnya yang pertama homeschooling mengakomodasi potensi kecerdasan anak secara maksimal karena setiap anak memiliki keberagaman dan kekhasan minat, bakat, dan ketrampilan yang berbeda-beda. Potensi ini akan bisa dikembangkan secara maksimal bila keluarga memfasilitasi suasana belajar yang mendukung di rumahnya sehingga anak didik benar-benar merasa at home dalam proses pembelajarannya. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar pendidikan yang bersifat informal dan sangat dipengaruhi faktor emosional. Dengan metode homeschooling ini anak didik tidak lagi dibatas oleh empat tembok kelas yang sesak dan mereka bisa memilih tema pembelajaran yang diinginkan mereka.

Yang kedua, metode ini mampu menghindari pengaruh lingkungan negati yang mungkin akan di hadapi oleh anak di sekolah umum. Pergaulan bebas, tawuran, rokok dan obat-obat terlarang menjadi momok yang terus menghantui para orangtua, sementara mereka tak dapat mengawasi putra-putrinya sepanjang waktu.

Dilihat dari sisi negatifnya, yang pertama, dikhawatirkan siswa yang mengikuti metode pendidikan ini akan teralienasi dari lingkungan sosialnya sehingga potensi kecerdasan sosialnya tidak muncul. Kekhawatiran ini disanggah oleh Dhanang Sasongko Sekjen Asah Pena (Asosiasi Sekolah-Rumah dan Pendidikan Alternatif) yang mengatakan bahwa adanya sekolah-rumah bukan berarti steril dari masyakat. Untuk mengatasi problem ini sering diadakan kegitan di luar seperti ke pasar dan panti-panti. Metode Sekolah-Rumah bukan berarti belajarnya di rumah terus tetapi bisa juga di luar rumah yang penting dalam pembelajan anak didik merasa at home atau krasan dan senang dengan tema pembelajaran yang diikutinya. Sehingga pembelajaran bisa berjalan alami dan mandiri.

Yang kedua, Persoalan legalitas. Segudang pertanyaan muncul tentang bagaimana sikap dan pengakuan pemerintah tentang sekolah-rumah ini? Secara prinsip tidak ada masalah. Karena, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 27 ayat (1) dikatakan: ”Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.” Lalu pada ayat (2) dikatakan bahwa: ”Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dlam ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah perserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.” Jadi secara hukum kegitan persekolahan di rumah di lindungi oleh undang-undang.

Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas Ella Yulaelawati Rumindasari menegaskan, UU SisDikNas mengakui sekolah-rumah sebagai bagian dari akses pendidikan. Depdiknas mendefinisikan sekolah-rumah sebagai proses layanan pendidikan yang secara sadar,teratur, dan terarah dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat lain dimana proses belajar dapat berlangsung kondusif. Meskipun model persekolahan di rumah ini dijalankan secara informal orang tua yang menyelenggarakan homeschooling ini diwajibkan melaporkan kepada dinas pendidikan kabupaten atau kota setempat. Anak didik yang mengikuti homeschooling ini juga dapat mengikuti ujian kesetaraan paket A (setara dengan SD), paket B(setara dengan SMP) dan paket C (setara dengan SMU).

Maraknya model pendidikan alternatif diantaranya homeschooling ini perlu ditimbang sebagai partisipasi masyarakat dalam perluasan akses pendidikan dan perbaikan metode pembelajaran formal-konvensional yang cenderung bersifat kaku dan membosankan. Rasanya tidak perlu dipertentangkan mana yang lebih baik pendidikan formal atau informal.

Sementara ini ini sayangnya pemerintah hanya mendukung sebatas legalitas formal melalui UU SisDikNas yang menggolongkannya sebagai bagian dari pendidikan informal (keluarga). Perlu adanya dukungan yang lebih luas dan mendalam agar tujuan pendidikan yang mulia dan ideal yaitu membentuk anak-anak didik menjadi insan yang bertaqwa, mempunyai akhlak yang mulia segera bisa diwujudkan di negeri kita yang tercinta ini.

Komentar (15) »

Homeschooling di Ajangkita.com

ajangkita.com

ajangkita.com


Klik ajah yang dibawah ini untuk diskusi hot tentang homeschooling:
Kliiiiiiiiik…Kliiiiikkkkk…!!!!

Komentar bertahan »

Sejarah munculnya homeschooling

homeschooling boyz

Menilik sejarah kemunculan Homeschooling atau home education yang ditulis oleh Mary Griffith dalam buku berjudul “The Unschooling handbook, how to use the whole world as your child’s classroom”, sekolah—rumah tidak menjadi sebuah gerakan sampai tahun 1970-an, saat pendidik bernama John Holt , mulai mengenalkan konsep sekolah-rumah pada publik. Holt yakin bahwa reformasi pendidikan yang terpusat pada anak-anak, yang dia percaya diperlukan, tidak akan- bahkan tidak bisa- terjadi di di dalam pemprograman wajib belajar di sekolah formal-konvensional.

Pada tahun 1977, Holt mulai mempublikasikan buletin berita yang dia namai “Growing Without Schooling”(tumbuh tanpa sekolah) untuk keluarga-keluarga yang mempunyai ide-ide untuk membantu anak-anak mereka belajar di luar sekolah.

Ide-ide Holt mempengaruhi banyak orang tua yang beraliran Puritan yang menganggap bahwa sekolah–sekolah formal di Amerika saat itu telah gagal mencetak siswa yang mempunyai kemandirian dalam belajar dan cenderung bobrok dalam moralitas. Menurut beberapa sumber diperkirakan di Amerika Serikat sekarang ini ada 1,5 juta sampai 2 juta anak yang bersekolah di rumah . Jumlah yang cukup besar tersebut merupakan data resmi jumlah sisiwa yang mengikuti kurikulum untuk bersekolah di rumah, karena para orang tua ingin agar sistem pendidikan mempunyai konsep dan visi yang jelas.

Di negeri kita konsep sekolah rumah sudah diterapkan lama oleh sebagian kecil masyarakat kita. Tengok saja di pondok-pondok pesantren para Kiai secara khusus telah mendidik anak-anaknya sendiri karena merasa lebih mengena dan puas bisa mengajarkan ilmu pada putra sendiri daripada sekadar mempercayakan pada orang lain.

Tokoh-tokoh terkenal seperti KH Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro atau Buya Hamka juga mengembangkan cara belajar dengan sistem persekolahan di rumah ini. Metode ini dijalankan bukan sekedar agar anak didik lulus ujian kemudian mendapatkan ijazah, namun agar lebih mencintai dan punya semangat yang tinggi dalam mengembangkan ilmu yang dipelajari.

Bagi keluarga-keluarga yang telah menerapkan konsep ini, pendidikan yang mereka jalani adalah pendidikan yang penuh pemikiran, permainan bebas dan eksplorasi. Ini melepaskan kekakuan kalimat yang sering diucapkan guru di kelas seperti “Kalian seharusnya..”, “Kalian sebaiknya..” atau “Anak-anak, Pelajaran kita hari ini adalah..”. Kenapa demikian? Karena Homeschooling pada dasarnya merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada masalah sikap dan pendekatan belajar yang lebih mandiri. Di Homeschooling pembelajar bisa memilih materi pelajaran apa yang mau dikaji tiap harinya sesuai dengan minatnya. Sederhananya sekolah-rumah menempatkan wewenang di tangan si pembelajar.

Salah satu contoh menarik adalah cerita yang dimuat di Kompas (13/3/2005) mengenai Wanti wowor (39) ibu empat anak yang berhasil mendidik dua anaknya Fini dan Fini sejak kecil belajar di rumah sampai akhirnya Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmond Jakarta, sedangkan Fina diterima di Universitas Indonesia program Internasional. Kelebihan yang ada pada mereka dibandingkan dengan mahasiswa yang sebelumnya telah terbiasa mengikuti sekolah formal-konvensional adalah kemandirian yang besar dalam belajar, kedisplinan yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dan juga lebih berani mengemukan pendapat dan berdebat.

Komentar bertahan »

Many Muslims Turn to Home Schooling

bacaqur\'an

bacaqur'an


LODI, Calif. — Like dozens of other Pakistani-American girls here, Hajra Bibi stopped attending the local public school when she reached puberty, and began studying at home.

David Kadlubowski for The New York Times

Karima, right, with her sisters, Kiram, 8, and Kadhima, 14, playing with yo-yos in a study break at their Phoenix home.

Her family wanted her to clean and cook for her male relatives, and had also worried that other American children would mock both her Muslim religion and her traditional clothes.

“Some men don’t like it when you wear American clothes — they don’t think it is a good thing for girls,” said Miss Bibi, 17, now studying at the 12th-grade level in this agricultural center some 70 miles east of San Francisco. “You have to be respectable.”

Across the United States, Muslims who find that a public school education clashes with their religious or cultural traditions have turned to home schooling. That choice is intended partly as a way to build a solid Muslim identity away from the prejudices that their children, boys and girls alike, can face in schoolyards. But in some cases, as in Ms. Bibi’s, the intent is also to isolate their adolescent and teenage daughters from the corrupting influences that they see in much of American life.

About 40 percent of the Pakistani and other South Asian girls of high school age who are enrolled in the district here are home-schooled, though broader statistics on the number of Muslim children being home-schooled, and how well they do academically, are elusive. Even estimates on the number of all American children being taught at home swing broadly, from one million to two million.

No matter what the faith, parents who make the choice are often inspired by a belief that public schools are havens for social ills like drugs and that they can do better with their children at home.

“I don’t want the behavior,” said Aya Ismael, a Muslim mother home-schooling four children near San Jose. “Little girls are walking around dressing like hoochies, cursing and swearing and showing disrespect toward their elders. In Islam we believe in respect and dignity and honor.”

Still, the subject of home schooling is a contentious one in various Muslim communities, with opponents arguing that Muslim children are better off staying in the system and, if need be, fighting for their rights.

Robina Asghar, a Muslim who does social work in Stockton, Calif., says the fact that her son was repeatedly branded a “terrorist” in school hallways sharpened his interest in civil rights and inspired a dream to become a lawyer. He now attends a Catholic high school.

“My son had a hard time in school, but every time something happened it was a learning moment for him,” Mrs. Asghar said. “He learned how to cope. A lot of people were discriminated against in this country, but the only thing that brings change is education.”

Many parents, however, would rather their children learn in a less difficult environment, and opt to keep them home.

Hina Khan-Mukhtar decided to tutor her three sons at home and to send them to a small Muslim school cooperative established by some 15 Bay Area families for subjects like Arabic, science and carpentry. She made up her mind after visiting her oldest son’s prospective public school kindergarten, where each pupil had assembled a scrapbook titled “Why I Like Pigs.” Mrs. Khan-Mukhtar read with dismay what the children had written about the delicious taste of pork, barred by Islam. “I remembered at that age how important it was to fit in,” she said.

Many Muslim parents contacted for this article were reluctant to talk, saying Muslim home-schoolers were often portrayed as religious extremists. That view is partly fueled by the fact that Adam Gadahn, an American-born spokesman for Al Qaeda, was home-schooled in rural California.

“There is a tendency to make home-schoolers look like antisocial fanatics who don’t want their kids in the system,” said Nabila Hanson, who argues that most home-schoolers, like herself, make an extra effort to find their children opportunities for sports, music or field trips with other people.

Lodi’s Muslims also attracted unwanted national attention when one local man, Hamid Hayat, was sentenced last year to 24 years in prison on a terrorism conviction that his relatives say was largely due to a fabricated confession. (Had he been more Americanized, they say, he would have known to ask for a lawyer as soon as the F.B.I. appeared.)

Parents who home-school tend to be converts, Mrs. Khan-Mukhtar said. Immigrant parents she has encountered generally oppose the idea, seeing educational opportunities in America as a main reason for coming.
Sumberipun niki: The NewYork Times

Komentar bertahan »

Pioneers in Homeschool Philosophy

John Holt

Main article: John Holt (educator)

In 1964, John Caldwell Holt, a former World War II submariner with no professional training in education, published a book entitled How Children Fail which criticized traditional schools. The book was based on a theory he had developed as a teacher and an observer of children and education; that the academic failure of schoolchildren was caused by pressure placed on children in schools. The book became controversial[citation needed], and Holt began making appearances on major TV talk shows and writing book reviews for Life magazine. He also appeared as a guest on the To Tell The Truth TV game show.[4] In his follow-up work, How Children Learn, 1967, he tried to demonstrate the learning process of children and why he believed school short circuits this process.

In these books, Holt had not suggested any alternative to institutional schooling; he had hoped to initiate a profound rethinking of education to make schools friendlier toward children. As the years passed he became convinced that the way schools were was what society wanted, and that a serious re-examination was not going to happen in his lifetime.

Leaving teaching to publicize his ideas about education full time, he encountered books by other authors questioning the premises and efficacy of compulsory schooling, like Deschooling Society by Ivan Illich, 1970, and No More Public School by Harold Bennet, 1972. Then, in 1976, he published Instead of Education; Ways to Help People Do Things Better. In its conclusion he called for a “Children’s Underground Railroad” to help children escape compulsory schooling.[4] In response, Holt was contacted by families from around the U.S. to tell him that they were educating their children at home. In 1977, after corresponding with a number of these families, Holt began producing a magazine dedicated to home education: Growing Without Schooling.[5]

Holt later wrote a book about homeschooling, Teach Your Own, in 1981, and continued to hope for more expansive reform within education until his death in 1985.

Holt’s said: “… the human animal is a learning animal; we like to learn; we are good at it; we don’t need to be shown how or made to do it. What kills the processes are the people interfering with it or trying to regulate it or control it.”[6]. Holt later said, in 1980, “I want to make it clear that I don’t see homeschooling as some kind of answer to badness of schools. I think that the home is the proper base for the exploration of the world which we call learning or education. Home would be the best base no matter how good the schools were.”[6]

[edit] Raymond and Dorothy Moore

In the late 1960s and early 1970s, educational professionals Raymond and Dorothy Moore began to research the academic validity of the rapidly growing Early Childhood Education movement. This research included independent studies by other researchers and a review of over 8,000 studies bearing on Early Childhood Education and the physical and mental development of children.

They asserted that formal schooling before ages 8—12 not only lacked the anticipated effectiveness, but was actually harmful to children. The Moores began to publish their view that formal schooling was damaging young children academically, socially, mentally, and even physiologically. They presented evidence that childhood problems such as juvenile delinquency, nearsightedness increased enrollment of students in special education classes, and behavioral problems were the result of increasingly earlier enrollment of students.[7] The Moores cited studies demonstrating that orphans who were given surrogate mothers were measurably more intelligent, with superior long term effects – even though the mothers were mentally retarded teenagers – and that illiterate tribal mothers in Africa produced children who were socially and emotionally more advanced than typical western children, by western standards of measurement.[7]

Their primary assertion was that the bonds and emotional development made at home with parents during these years produced critical long term results that were cut short by enrollment in schools, and could neither be replaced nor afterward corrected in an institutional setting.[7] Recognizing a necessity for early out-of-home care for some children — particularly special needs and starkly impoverished children, and children from exceptionally inferior homes — they maintained that the vast majority of children are far better situated at home — even with mediocre parents — than with the most gifted and motivated teachers in a school setting (assuming that the child has a gifted and motivated teacher). They described the difference as follows: “This is like saying, if you can help a child by taking him off the cold street and housing him in a warm tent, then warm tents should be provided for all children — when obviously most children already have even more secure housing.”[8]

Similar to Holt, the Moores embraced homeschooling after the publication of their first work, Better Late Than Early, 1975, and went on to become important homeschool advocates and consultants with the publication of books like Home Grown Kids, 1981, Home School Burnout, and others.[7]

One common theme in the homeschool philosophies of both Holt and the Moores is that home education should not be an attempt to bring the school construct into the home, or a view of education as an academic preliminary to life. They viewed it as a natural, experiential aspect of life that occurs as the members of the family are involved with one another in daily living.

More infos: Wikipedia.org

Komentar bertahan »

ISLAMIC HOME-SCHOOLING

Islamic Home-Schooling (Selanjutnya akan disingkat IHS) adalah Home-Schooling yang diselenggarakan bertitik tolak dari pertimbangan syar’i, yakni kewajiban orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak, serta dijalankan dengan mengikuti tuntunan AlQuran dan AsSunnah sebagaimana dipahami dan diamalkan para pendahulu ummat ini yang shalih (AsSalafush Sholih).

Tujuannya adalah :

1. Terciptanya keluarga sakinah; yang di dalamnya semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan sebaik-baiknya

2. Terbentuknya generasi penerus yang bertauhid, berpegang kepada sunnah, berakhlaq mulia, berbadan sehat, multi-cerdas, kreatif dan mandiri serta memiliki semangat untuk membela Islam dan kaum muslimin

SUBYEK IHS

IHS PERMATA HATI dimaksudkan bagi anak usia 0 – 13 tahun secara umum. Atau sampai anak berusia 16 tahun bagi orangtua yang memiliki kemampuan mengajarkan gramatika Bahasa Arab (kitab gundul) dan ilmu-ilmu syar’i tingkat menengah. Adapun setelah anak memasuki usia baligh maka anak harus diarahkan untuk melakukan rihlah ilmiyyah guna menimba ilmu dari para ulama, jika hal itu memungkinkan (dan memang harus diupayakan).

MENGAPA “ISLAMIC HOME-SCHOOLING” ?

Menyelenggarakan IHS membutuhkan motivasi yang luar biasa besar dari pihak orangtua. Motivasi akan muncul ketika seseorang dengan sadar dan yakin memahami alasan mengapa dia melakukan sesuatu. Maka kita dituntut untuk memiliki prinsip.

Ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan prinsip dalam menyelenggarakan IHS :

1. Pertimbangan syar’i. Dalam syari’at, kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Setiap anak yang dilahirkan berada di atas fithroh (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi.” (HSR. Malik, Ahmad, AlBukhori, Muslim, Abu Daud, AtTirmidzi)

2. Pertimbangan fakta sejarah. Banyak kisah dalam AlQuran yang menggambarkan peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. (Baca : Qs. Maryam 54-55, QS. Luqman : 13) Interaksi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cucu beliau, Hasan dan Husain, atau dengan sepupu beliau, Ibnu Abbas, atau dengan putera asuhnya yang berkhidmat kepada beliau, Anas bin Malik juga dapat kita jadikan referensi. Dari kalangan ulama Islam, tercatat misalnya Ibnul jauzi yang menulis kitab khusus untuk puteranya yang berisi petunjuk menuntut ilmu secara lengkap, Laftatul kabid fi nashihatil walad (Kitab ini patut menjadi rujukan dalam IHS).

3. Pertimbangan naturalitas. Perhatikanlah, anak ayam belajar tentang hidup kepada induknya. Anak kucing belajar tentang hidup kepada induknya. Bayi ikan paus belajar tentang hidup berpuluh tahun pada induknya. Tapi lihatlah si ujang dan si nyai. Kepada siapa mereka belajar tentang hidup ? Ah kasihan sekali, mereka belajar tentang hidup kepada orang lain yang tidak benar-benar mengenalnya !

4. Pertimbangan orisinalitas dan individualitas anak. Orisinalitas (keaslian) seorang anak adalah : fithroh, keingintahuan dan kreatifitasnya. Sedangkan individualitas (ke-diri-an), meliputi qolb dan jasad (contoh yang jelas : sidik jari, suara dan DNA). Orisinalitas dan individualitas menyebabkan tiap anak unik dalam segala hal, termasuk cara belajar mereka. Agar mereka dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, anak wajib mendapatkan kebebasan. [4]

DARI MANA KITA MEMULAI ?
Klik yang ini ya: Islamic homeschooling ,how to begin

Komentar bertahan »

Jaringan Homeschooling Islam

Jaringan homeschooling berbasis agama sangat banyak. Diantara situs-situs Internet yang membahas homeschooling berdasarkan nilai-nilai Islam antara lain:

http://www.missionislam.com/homed/

http://www.ourseeds- islamiclinks

http://homeschooling.gomilpitas.com/

Komentar bertahan »

Homeschooling,Unschooling or Deschooling

Homeschooling ( also called home education), home learning or homeschool – is the education of children at home, typically by parents or professional tutors, rather than in a public or private school.

Although prior to the introduction of compulsory school attendance laws, most childhood education occurred within the family or community[1], homeschooling in the modern sense is an alternative in developed countries to formal education.

In many places homeschooling is a legal option for parents who wish to provide their children with a different learning environment than exists in nearby schools. These motivations range from a dissatisfaction with the schools in their area to the dissatisfaction of modern schools in general. It is also an alternative for families living in isolated rural locations and those who choose, for practical or personal reasons, not to have their children attend school.

Homeschooling may also refer to instruction in the home under the supervision of correspondence schools or umbrella schools. In some places, an approved curriculum is legally required if children are to be home-schooled. A curriculum-free philosophy of homeschooling may be called unschooling, a term coined in 1977 by American educator John Holt in his magazine Growing Without Schooling
Sumberipun niki nggih: Wikipedia.org/homeschooling,Yes!

Komentar bertahan »

Apa itu homeschooling?

Homeschool, atau sekolah rumah, adalah sebuah aktivitas untuk menyekolahkan anak di rumah secara penuh. Paham ini mungkin terlihat sedikit nyeleneh karena sementara semua orang menyekolahkan anaknya di sekolah umum, kok ada ya orang yang menyekolahkan anaknya di rumah. Bukankah itu sama saja dengan tidak sekolah. Pemikirin seperti ini terjadi karena ada sebuah proses ahistoris (terpotong dari sejarah) yang melupakan bahwa dulu sekolah memang di mulai dari rumah. Baru kemudian setelah guru menjadi sebuah profesi tertentu sekolah mulai berpindah ke sebuah gedung yang dinamai sekolah.

Sekarang, homeschooling mengalami comeback terutama di Amerika Serikat. Perubahan ini terjadi karena dunia pendidikan juga mengalami perubahan dalam abad terakhir ini, yaitu semakin sentralnya lembaga pendidikan di tangan negara. Homeschool adalah sebuah reaksi atas perubahan itu.

Bila dikategorikan, alasan-alasan untuk melakukan homeschool bisa dituliskan seperti ini:

  1. Sekolah tidak mengajarkan iman yang benar kepada anak saya. Terus terang ini sering menjadi alasan utama orang tua untuk men-sekolahrumah-kan anaknya. Paling tidak 80% penggiat homeschool di Amerika adalah golongan ini. Mereka ada penganut Kristen Evangelis dan Fundamentalis yang tidak ingin anaknya diajarkan sains yang bertentangan dengan kitab suci.
  2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah bobrok. Banyak bullying di sekolah. Guru-guru juga tidak bisa mendidik dengan baik, malah membuat anak stress. Belum lagi kalau sekolahnya suka tawuran dan rawan kriminalitas. Untuk kasus Indonesia, kemungkinan besar mereka menyekolahkan anaknya karena alasan ini, karena kecewa dengan lembaga pendidikan di sini.
  3. Tidak setuju dengan filosofi pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sekitar 10% penggiat homeschooling di Amerika memiliki pandangan ini. Mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di rumah saja, dengan pendekatan pendidikan yang mereka sukai.
  4. Orang tua ingin mengambil tanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya. Alasan ini sebenarnya bisa saja merupakan penjelasan lain dari ketiga alasan di atas.

Ada beberapa keberatan akan sekolah di rumah yang biasa dikemukakan orang:

  1. Orang tua bukan guru profesional, bagaimana bisa mereka mendidik anaknya.
  2. Anak-anak nantinya tidak bisa bersosialisasi karena tidak bergaul dengan anak-anak sebayanya di sekolah.
  3. Tidak tahu harus memakai kurikulum apa.
  4. Biaya untuk membeli buku menjadi lebih besar karena tidak bisa meminjam buku dari sekolah.

Komentar (1) »

Homeschooling menurut Dhanang Sasongko

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Dhanang Sasongko.

Apa sebetulnya home schooling (HS) itu? Apakah itu maksudnya kita sekolah di rumah dengan mengundang guru ke rumah atau kita belajar bersama?

Kalau di Amerika Serikat (AS) dan di dunia, HS sudah lama berkembang. Di Indonesia mungkin ada yang namanya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). HS terdiri dari tiga jenis. Pertama, HS tunggal. Ini penggiatnya adalah satu keluarga. Kemudian HS majemuk terdiri dari dua keluarga, dan terakhir HS komunitas. Komunitas ini dibentuk dengan metode pembelajarannya secara tutorial. HS tunggal dilakukan di rumah. HS itu adalah bagaimana proses kegiatan belajar, di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja.

Bagaimana sistemnya? Maksudnya, jika saya sebagai orang tua ingin memasukkan anak ke HS, apakah saya harus berhubungan dengan Anda lalu apakah Anda mendesain kurikulum dan sistem sekolah sendiri atau kita dilibatkan?

Itu berarti masuk ke HS komunitas. HS Komunis adalah beberapa keluarga memberikan kepercayaannya untuk mendidik anak-anaknya ke dalam HS. Proses pembelajarannya melalui tutorial. Ini ada di salah satu metode HS Kak Seto.

Siapa tutornya?

Kita mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial. Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan. Mereka melaksanakan, misalnya, pertemuan dua kali dalam satu minggu. Ada paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), paket B setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan paket C setara Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi kunjungannya adalah kunjungan ke komunitas. Bila keluarga atau peserta didik kekurangan informasi akademisnya maka mereka bisa memanggil gurunya ke suatu tempat. Jadi komunitas itu menyediakan suatu tempat. Misalnya, komunitas Berkemas yang dipimpin Ibu Yaya atau Mbak Neno Warisman itu tempatnya di Pejaten. Mereka berkumpul selama tiga jam. Hari Senin adalah untuk setara SMA, jadi anak kelas satu, dua, dan tiga belajar dalam satu ruangan.

Kalau di sekolah formal kita melihat kelas satu berada di dalam satu ruangan, kelas dua di ruang lain dengan materi pelajaran yang berbeda. Jadi bagaimana proses belajar HS jika semua digabung dalam satu kelas karena pada akhirnya mereka juga mengikuti ujian akhir?

Kita memberikan masing-masing peserta didik kebebasan dalam memilih pembelajaran tapi tidak terlepas dari kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 2004 yaitu kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum terbaru kurikulum 2006. Jadi tetap ada acuannya karena nanti di ujung dari proses pendidikan HS ada ujian kesetaraan. Kalau di pendidikan formal itu Ujian Nasional (UN), sedangkan di pendidikan non formal komunitas ini ada ujian kesetaraan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa menyelenggarakan ujian tersendiri.

Dalam hal ini ada yang sudah bosan di kelas dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, dia dapat pindah ke kelas tiga di HS. Itu tidak masalah karena berdasarkan prinsip Diknas untuk ini adalah multi entry and multi exit atau mudah untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA.

Bagaimana metode pembelajaran untuk masing-masing HS yaitu tunggal, majemuk, dan komunitas?

HS ini metode pembelajarannya tematik dan konseptual serta aplikatif. Misalnya untuk tingkatan SD, dalam mempelajari alat transportasi maka mereka bisa pergi langsung naik alat transportasi. Misalnya, naik metro mini. Di metro mini ada sopir, kondektur, dan kita harus membayar. Jadi di HS kesempatan untuk mengenal langsung alat transportasi cukup besar. Lalu mereka turun dan naik busway dengan harus beli tiket dulu, antri. Kemarin saya mengajak mereka dari Grogol ke stasiun kereta api Kota untuk mengetahui bagaimana naik kereta dan kondisinya seperti nanti kereta itu penuh. Itu terekam sekali di otak anak-anak. Setelah itu, besoknya kita memberikan paparan mengenai alat transportasi. Kita coba tes ke anak-anak dan mereka bisa menulis mengenai alat transportasi berlembar-lembar.

Jadi itu mungkin keunggulan HS.

Ya, karena proses belajarnya tematik dan aplikatif. Contoh lain, kita ajak mereka untuk belajar menanam. Kita ajak ke ahlinya seperti ke Ciawi sekalian outbond. Mereka belajar cara menanam. Besoknya kita coba evaluasi dan mereka begitu antusias sehingga bisa menulis berlembar-lembar. Jadi benar-benar aplikatif. Kalau HS tunggal atau sendiri, orang tua bisa mengajarkan dari dia bangun tidur dan kapan dia mau belajar. Jadi belajar bukan sebagai kewajiban tapi kebutuhan bagi anak-anak. Jadi kalau saya sehari-hari mungkin melihat proses pembelajaran yang seperti di rumah Kak Seto. Anak beliau ada empat. Nah, yang tiga mengikuti HS dan yang satu pendidikan formal.

Jadi dalam hal ini orang tua terjun langsung?

Iya, terjun langsung. Kalau misalnya kekurangan informasi mengenai akademis, mereka bisa panggil tutor. Mereka mau tahu tentang bahasa Inggris maka mereka bisa ambil kursus. Jadi waktunya bisa lebih banyak, dan belajar sangat menyenangkan buat mereka karena memang didasari oleh kebutuhan.

Kalau melihat dari jenisnya, apakah HS komunitas memiliki kelebihan atau keunggulan dari yang lain?

Ini harus dilihat dari kondisi orang tuanya. Kalau kedua orang tua bekerja, tapi menginginkan anaknya untuk HS mungkin lebih tepat ke HS komunitas. Sedangkan untuk HS tunggal agak susah karena orangtua harus full. Jadi untuk komunitas itu sifatnya tutorial, dan hadir di kegiatan komunitas.

Pendidikan bukan hanya soal kita menambah pengetahuan atau ilmu di segala macam bidang, namun ada hal yang perlu juga seperti interaksi dengan kawan-kawan lainnya. Bagaimana sosialisasi pada murid HS?

Saya melihat sosialisasi anak-anak HS begitu terjaga. Kita mengajak mereka ke pasar. Kita perkenalkan juga kepada anak-anak pasar. Kita tanya, “Apakah kamu bersekolah atau tidak? Apa kegiatan kamu?”. Lalu kita bawa juga mereka ke alam terbuka dan ke rumah singgah. Kalau lingkungan untuk pendidikan formal mungkin ada keterbatasannya. Temannya hanya itu-itu saja. Besok ketemu si A dan besoknya ketemu si A lagi karena satu lingkup sekolah. Sosialisasi di HS juga cukup efektif karena mereka bisa lebih banyak waktunya untuk berhubungan lewat internet. Mereka bisa lebih banyak ada kesempatan untuk pergi ke luar. Jadi mengenai sosialisasi tidak ada masalah. Yang paling penting juga adalah kita memberikan kemandirian, yaitu dalam belajar dan mengambil keputusan. Kita juga memberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Jadi sejak dini mereka sudah dilatih untuk bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana kegiatan Anda dan teman-teman di Asah Pena selama ini seperti sejak kapan dan bagaimana keterlibatannya dalam proses HS ini?

Asah Pena baru saja menandatangani MoU dengan pemerintah sekitar 10 Januari 2007. Asah Pena adalah singkatan dari asosiasi sekolah rumah dan pendidikan alternatif. Ini merupakan suatu wadah home schooler (peserta didik – Red) baik tunggal, majemuk, ataupun komunitas. Asah Pena dibentuk atas keinginan masyarakat dan didukung oleh Depertemen Pendidikan Nasional. Kelihatannya cukup efektif karena selama ini pendidikan alternatif selalu dicitrakan dengan pendidikan yang kurang berkualitas. Dengan adanya Asah Pena maka bisa mendata secara administratif seberapa banyak sekolah alternatif, HS, dan sebagainya.

Berapa banyak peserta didik home schooling saat ini di Jakarta?

Banyak. Home schooler yang terdata di Jakarta ada 600-an. Dan untuk HS komunitas ada 8 – 10 komunitas.

Apa kira-kira yang harus dilakukan bila ingin menyekolahkan anaknya melalui pendidikan alternatif atau HS karena informasinya sangat terbatas?

Jika ingin mendapatkan informasi mengenai HS bisa melalui Asah Pena di nomor telepon 0817-831813 atau perwakilan Asah Pena di telepon (021) 8195601. Biayanya berbeda-beda seperti ada uang pangkal, iuran tahunan, dan iuran bulanan. Metoda pengajarannya dengan tutorial. Misalnya, uang pangkal untuk HS Kak Seto Rp 1,5 juta dan iuran tahunan Rp 2 juta untuk tahun ini. Untuk iuran bulanan berjenjang seperti untuk SMA Rp 450 ribu. Mereka mendapat modul dan modul pembelajaran untuk orang tua

Apakah belajarnya setiap hari?

Belajarnya satu minggu dua kali sebanyak tiga jam untuk masing-masing pertemuan. Kita mengarahkan supaya mereka nanti banyak belajar di rumah dan di lingkungan yang mereka mau belajar. Kalau mau menyelenggarakan HS tunggal, mereka bisa konsultasi ke Asah Pena dan mungkin rekan atau kerabatnya yang sudah menjalankan HS. Kita bisa mengambil metode bermacam-macam. Kalau kita mau kurikulum nasional maka materi pembelajarannya bisa didapat di toko buku dan sebagainya. Kalau mau mencoba kurikulumnya Neno Warisman maka bisa berhubungan dengan Mbak Neno. Nanti kurikulumnya bisa diberikan. Ada juga metodenya Kak Seto atau Berkemas. Ada 8 sampai 10 komunitas dan mereka sangat terbuka untuk memberikan informasi mengenai kurikulum.

Bagaimana dengan sertifikat atau ijazah kelulusan untuk HS karena biasanya kita mau tidak mau harus memiliki itu untuk mendapatkan akreditasi dan segala macamnya. Apakah legalitas itu sudah ada dari Diknas?

Diknas sangat memperhatikan sekali pendidikan alternatif. Kini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Itu adalah pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat untuk merespons HS, banyaknya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan banyaknya kekecewaan terhadap Ujian Nasional (UN). Orang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat SD. Orang bisa ikut ujian kesetaraan dan jika lulus akan mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan SMA juga ada. Ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Jadi sudah dilegalitas oleh pemerintah.

Dalam hal ini memang ada kelemahannya di HS, yaitu tidak ada kompetisi atau bersaing. Tapi keunggulannya yang paling dominan adalah dengan terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing anak peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan fisika. Kita mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi peserta didik masing-masing.

Ujian kesetaraan itu nanti ada yang namanya percepatan yang mungkin kualitasnya masih di bawah Ujian Nasional, tapi mereka bisa dipermudah dengan program percepatan. Misalnya, untuk menghadapi ujian biasanya kita intensif untuk tutorial terus selama dua bulan.

Sejak kapan HS ada di Indonesia dan apakah ada kisah sukses orang-orang yang ikut HS karena di masyarakat dia mendapatkan sertifikasi hampir sama dengan orang-orang yang sekolah formal?

Mungkin kita bisa melihat pada Ki Hajar Dewantoro. Jika saya melihat dari sejarah Ki Hajar Dewantor, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka HS. Lalu Ketua BEM UI sekarang dia ikut HS juga. Kalau di luar negeri yaitu Bill Gates dan Thomas Alfa Edison. Kalau saya membaca sejarahnya, mereka tidak belajar di sekolah formal. Malah mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Ini untuk memperkuat supaya kita tidak khawatir. HS sama dengan sekolah formal pada umumnya.

Komentar (1) »