Arsip untuk 1

Kelebihan & Kekurangan Homeschooling


Dipandang dari sisi positif dan negatifnya, Homeschooling memiliki beberapa pertimbangan penting. Dilihat dari sisi positifnya yang pertama homeschooling mengakomodasi potensi kecerdasan anak secara maksimal karena setiap anak memiliki keberagaman dan kekhasan minat, bakat, dan ketrampilan yang berbeda-beda. Potensi ini akan bisa dikembangkan secara maksimal bila keluarga memfasilitasi suasana belajar yang mendukung di rumahnya sehingga anak didik benar-benar merasa at home dalam proses pembelajarannya. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar pendidikan yang bersifat informal dan sangat dipengaruhi faktor emosional. Dengan metode homeschooling ini anak didik tidak lagi dibatas oleh empat tembok kelas yang sesak dan mereka bisa memilih tema pembelajaran yang diinginkan mereka.

Yang kedua, metode ini mampu menghindari pengaruh lingkungan negati yang mungkin akan di hadapi oleh anak di sekolah umum. Pergaulan bebas, tawuran, rokok dan obat-obat terlarang menjadi momok yang terus menghantui para orangtua, sementara mereka tak dapat mengawasi putra-putrinya sepanjang waktu.

Dilihat dari sisi negatifnya, yang pertama, dikhawatirkan siswa yang mengikuti metode pendidikan ini akan teralienasi dari lingkungan sosialnya sehingga potensi kecerdasan sosialnya tidak muncul. Kekhawatiran ini disanggah oleh Dhanang Sasongko Sekjen Asah Pena (Asosiasi Sekolah-Rumah dan Pendidikan Alternatif) yang mengatakan bahwa adanya sekolah-rumah bukan berarti steril dari masyakat. Untuk mengatasi problem ini sering diadakan kegitan di luar seperti ke pasar dan panti-panti. Metode Sekolah-Rumah bukan berarti belajarnya di rumah terus tetapi bisa juga di luar rumah yang penting dalam pembelajan anak didik merasa at home atau krasan dan senang dengan tema pembelajaran yang diikutinya. Sehingga pembelajaran bisa berjalan alami dan mandiri.

Yang kedua, Persoalan legalitas. Segudang pertanyaan muncul tentang bagaimana sikap dan pengakuan pemerintah tentang sekolah-rumah ini? Secara prinsip tidak ada masalah. Karena, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 27 ayat (1) dikatakan: ”Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.” Lalu pada ayat (2) dikatakan bahwa: ”Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dlam ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah perserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.” Jadi secara hukum kegitan persekolahan di rumah di lindungi oleh undang-undang.

Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas Ella Yulaelawati Rumindasari menegaskan, UU SisDikNas mengakui sekolah-rumah sebagai bagian dari akses pendidikan. Depdiknas mendefinisikan sekolah-rumah sebagai proses layanan pendidikan yang secara sadar,teratur, dan terarah dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat lain dimana proses belajar dapat berlangsung kondusif. Meskipun model persekolahan di rumah ini dijalankan secara informal orang tua yang menyelenggarakan homeschooling ini diwajibkan melaporkan kepada dinas pendidikan kabupaten atau kota setempat. Anak didik yang mengikuti homeschooling ini juga dapat mengikuti ujian kesetaraan paket A (setara dengan SD), paket B(setara dengan SMP) dan paket C (setara dengan SMU).

Maraknya model pendidikan alternatif diantaranya homeschooling ini perlu ditimbang sebagai partisipasi masyarakat dalam perluasan akses pendidikan dan perbaikan metode pembelajaran formal-konvensional yang cenderung bersifat kaku dan membosankan. Rasanya tidak perlu dipertentangkan mana yang lebih baik pendidikan formal atau informal.

Sementara ini ini sayangnya pemerintah hanya mendukung sebatas legalitas formal melalui UU SisDikNas yang menggolongkannya sebagai bagian dari pendidikan informal (keluarga). Perlu adanya dukungan yang lebih luas dan mendalam agar tujuan pendidikan yang mulia dan ideal yaitu membentuk anak-anak didik menjadi insan yang bertaqwa, mempunyai akhlak yang mulia segera bisa diwujudkan di negeri kita yang tercinta ini.

Tiada komentar »

KUNG FU PANDA

Penuh antusias, gemuk dan ceroboh, Po (Jack Balck)adalah penggemar berat bela diri Kung Fu…meskipun ia bukanlah mahkluk yang cekatan. Mimpi Po menjadi kenyataan saat ia bergabung di dunia Kung Fu dan berlatih diantara idolanya, Si Monyet (Jackie Chan) – dibawah kepemimpinan guru mereka, Master Shifu (Dustin Hoffman). Namun si macan tutul Tai Lung (Ian McShane) yang pendendam dan licik memiliki niat jahat terhadap mereka – dan semua tergantung pada Po untuk melindungi semua dari ancaman yang akan mereka hadapi

Dapatkah Po mewujudkan mimpinya menjadi seorang ahli Kung Fu? Po memberikan seluruh hatinya – dan pengait celananya - , bertindak layaknya pahlawan untuk menemukan kelemahan utamanya dan menjadi yang terkuat???

Tiada komentar »

Sesatkah Jamaah Tabligh

Assalammualaikum wr.wb.

Kemaren di Jakarta saya jumpa teman lama dan dia bilang dia punya blog yang mengumpulkan semua artikel yang telah dia copas pastaz abieez di blognya. Beliau eh dia sebut nama blognya http://attablighi.blogspot.com/ trus saya cari pake Google Blog Search. Ngga ketemu. eh,malah ketemunya masya Allah berjibun blog yang menjelek-jelekkan tablighi jamaat alias jamaah tabligh. contone kaya kiyek: syubhat Jamaah tabligh, Jangan berkumpul dengan jamaah tabligh, Jamaah tabligh: sesatkah?, Membongkar kedok jamaah tabligh dan masih banyaknya yang lain.

Setelah itu tak coba cari2 blog teman saya itu dan ketemulah yang kucari dan jumpa http://attablighi.blogspot.com/. selain itu masih banyak juga yang memuji usaha tabligh sebagai usaha yang haqq dan solusi dalam menghadapi keadaan ummat yang menyedihkan ini baca yang ini ya: Fenomena jamaah tabligh atawa yang ini Sekilas tentang jamaah tabligh dan laen2 cari sendiri di blog search ya..

Saya terus terang dan terang terus: sangat geli tapi juga sudah bosan membaca artikel di blog ato milis dari ikhwan kirom kita darijamaah salafy. apa ngga bosen ya menghujat jamaah lain dengan sebutan bid’ah dan khurofat yang mereka tulis di majalah dan buku2 mereka. masyaAllah. alhamdulillah. subhanallah . allohu akbar betapa mulia usaha jamaah tabligh setidaknya punya dua fado’il pada kasus ini:

(1) usaha tabligh dijelek-jelekkan saja bisa menjadi asbab rizqi bagi saudaranya yang lain. dengan penjualan buku dan majalah yang menghina dan menghujat tablighi jamaah para penulis ,penerbit,dan pengedarnya bisa mendapatkan rizqi dari Allah SWT. menghina amal mulia yang menyelamatkan ummat dari kemusrykan dan kebodohan bisa dapat rizqi,gimana kalo memuji amal tabligh? bisa beli pulau dan kapal pesiar ya?
orang tabligh korban harta, jual apa yang dimilikinya untuk menyelamatkan ummat sedang saudara kita menghujat bisa dapet rizqi banyak? betapa naifnya…kronisnya dan ironisnya…

(2) justru mempopulerkan jamaah tabligh. semakin dihujat, semakin banyak artikel yang ditulis di buku, website,blog, miling list ato siaran radio salafy smakin populerlah usaha dakwah. maaf2 sebagaimana usaha dakwah yang ditentang dihujat para penentangnya di zaman itu oleh para penentang (siapa ya???) justru membantu orang agar mau berfikir sebenarnya apa seh amal yang diusahakan oleh beliau Nabi SAW. untuk itu hujatlah sebanyak2nya maka usaha yang established ini tidak akan goyah dan makin berkembang ke seluruh alam ke seluruh manusia sampai akhir zaman.

saya kira tak berguna saya ungkap dalil disini bahkan dalail sekalipun karena pada hakekatnya kita berhadapan dengan orang yang cari menang dalam perdebatan bukan cari kebenaran. saya sudah mulai paham akan hakekat ini sejak saya berdiskusi via internet sejak tahun 2003 dan sejak para ulama mengajarkan akan ilmu-ilmu dasar usaha tabligh kepada kami.

Sumberipun niki:Imanyakin.wordpress.com

Tiada komentar »

Islam adalah agama masa depan

erikut ini adalah artikel yang sangat bagus yang ditulis oleh Aulia agus iswar yang menulis artikel tentang masa depan islam yang beberapa paragrafnya ada yang sangat mengesankan saya:
Rasulullah juga telah memberikan sinyalemen masa depan bahwa umat Islam akan kembali menaklukkan bangsa Romawi. Sebelumnya Rasulullah telah memberikan berita bahwa Konstantinopel akan berhasil dikuasai. Berita ini telah terbukti dengan berhasilnya Sultan Muhammad al Fatih II, dan pasukan muslim pada saat itu, menaklukkan Konstantinopel. Ada berita yang belum terealisasikan, yaitu penaklukan bangsa Romawi.
Sinyalemen masa depan tersebut bukanlah hal yang bersifat utopis. Realitas kontemporer dunia sekarang juga menjadi tanda. Dominasi imperium dunia sekarang berada di tangan peradaban Barat (Amerika dan Eropa). Bukti-bukti telah memaparkan bahwa peradaban tersebut telah berada di ambang kehancuran. Peradaban Barat memang maju dari sisi profannya (keduniaan : sains-teknologi, budaya hidup / semangat kerja) tapi mundur pada sisi spiritual-transenden (keakhiratan : aqidah, moral, pendidikan, pemikiran). Peradaban Barat kini tengah mengalami kehausan spiritual setelah sekian lama bergulat dengan kegersangan materialisme. Banyak masyarakat Barat yang “kembali” kepada nilai-nilai spiritual. Jumlah pertumbuhan umat Islam di Barat pun dapat dikatakan cukup pesat. Apalagi, seperti diungkapkan Zainal bidin Ahmad dalam Sejarah Islam dan Umatnya (1979), setelah diadakannya Festival Dunia Islam pertama di London pada tahun 1976, Islam menjadi agama nomor kedua popularitasnya di Eropa, setelah Kristen. Mulailah berdiri masjid-masjid dan Islamic center-Islamic center. Bahkan di kota Roma, yang dianggap suci oleh umat Katholik, telah berdiri masjid yang megah di samping Kathedralnya.
Di Amerika, menurut James Patterson dan Peter Kim (1991), sebagian besar orang Kristen di sana telah mengemukakan bahwa mereka bersedia menentang ajaran agamanya (Kristen). Maka tak heranlah apabila dikatakan Amerika berada di ambang kehancuran dengan kebobrokannya di bidang politik (ketergantungan dari negara yang lain), ekonomi (paling besar hutangnya di dunia kepada PBB), pendidikan (terdapat 55 ilmuwan dari setiap 1000 orang , terdapat sekitar 27 juta orang buta huruf) dan sosial (kriminalitas yang tinggi).
Data statistik di Inggris menyebutkan pada tahun 2004 jumlah umat Kristen yang ke gereja tiap pekannya adalah sekitar 916.000 jiwa. Sedangkan umat Islam yang ke masjid tiap pekannya adalah 930.000 jiwa (sumber : http://www.eramuslim.com/). Data statistik lain, seperti yang dikutip Samuel P. Huntington dalam Clash of Civilizations (1996), menyebutkan Perkiraan Wilayah Teritorial dalam Persentase antara Barat dan Islam dengan luas wilayah dunia sekitar 52.5 juta mil. Wilayah Teritorial Barat 38.7% tahun 1900 menjadi 24.2% pada tahun 1993. Sedangkan wilayah teritorial Islam adalah 6.8% tahun 1900 menjadi 21.1% pada tahun 1993. Populasi Barat pada tahun 1993 adalah 805.4 juta. Sedangkan populasi Islam adalah 927.6 juta pada tahun yang sama. Kemudian persentase penduduk dunia di bawah kontrol politis Barat adalah 44.3% (tahun1900) menjadi 13.1% (tahun 1995). Sedangkan Islam adalah 4.2% (tahun 1900) menjadi 15.9% (tahun 1995).
Mau mbaca selengkapnya : Klik mawon ingkeng niki….!!!

Tiada komentar »

Mau download lagu Islaminya Michael Jackson?

Tiada komentar »

Today’s contemplation: the greatest hazard of life

The greatest hazard of life is to risk nothing. The person who risks nothing does nothing, has nothing, and is nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot learn, feel, change, grow, live and love.
Apaan seh “The greatest hazard of life”? maksudnya yang paling berbahaya bagi hidup seseorang adalah kecenderungan untuk tidak mau ambil resiko dalam hidup. mau enaknya. maunye apa-apa serba instant. kalo gitu caranya menjalani hidup maka dia akan does nothing, has nothing, and is nothing. maap ya mungkin agak tajem bahasanya terutama yang terakhir “is nothing” alias ngga bakalan jadi apa-apa dalam hidup padahal hidup penuh ujian dan cobaan. orang macamtu tidak akan bisa belajar, merasakan sesuatu, berubah, berkembang ,hidup dan mencintai…
doakan agar aku bisa mencapai maksud tujuan hidupku: hidupnya suasana agama dan iman dalam diri, keluarga, masyarakat dan ummat di seluruh alam.

Tiada komentar »

Mau liat Gajah beneran sedang berolahraga?

Mau liat Gajah beneran sedang berolahraga?
ini dia gambarnya:
gajah olahraga

Tiada komentar »

Apa itu homeschooling?

Homeschool, atau sekolah rumah, adalah sebuah aktivitas untuk menyekolahkan anak di rumah secara penuh. Paham ini mungkin terlihat sedikit nyeleneh karena sementara semua orang menyekolahkan anaknya di sekolah umum, kok ada ya orang yang menyekolahkan anaknya di rumah. Bukankah itu sama saja dengan tidak sekolah. Pemikirin seperti ini terjadi karena ada sebuah proses ahistoris (terpotong dari sejarah) yang melupakan bahwa dulu sekolah memang di mulai dari rumah. Baru kemudian setelah guru menjadi sebuah profesi tertentu sekolah mulai berpindah ke sebuah gedung yang dinamai sekolah.

Sekarang, homeschooling mengalami comeback terutama di Amerika Serikat. Perubahan ini terjadi karena dunia pendidikan juga mengalami perubahan dalam abad terakhir ini, yaitu semakin sentralnya lembaga pendidikan di tangan negara. Homeschool adalah sebuah reaksi atas perubahan itu.

Bila dikategorikan, alasan-alasan untuk melakukan homeschool bisa dituliskan seperti ini:

  1. Sekolah tidak mengajarkan iman yang benar kepada anak saya. Terus terang ini sering menjadi alasan utama orang tua untuk men-sekolahrumah-kan anaknya. Paling tidak 80% penggiat homeschool di Amerika adalah golongan ini. Mereka ada penganut Kristen Evangelis dan Fundamentalis yang tidak ingin anaknya diajarkan sains yang bertentangan dengan kitab suci.
  2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah bobrok. Banyak bullying di sekolah. Guru-guru juga tidak bisa mendidik dengan baik, malah membuat anak stress. Belum lagi kalau sekolahnya suka tawuran dan rawan kriminalitas. Untuk kasus Indonesia, kemungkinan besar mereka menyekolahkan anaknya karena alasan ini, karena kecewa dengan lembaga pendidikan di sini.
  3. Tidak setuju dengan filosofi pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sekitar 10% penggiat homeschooling di Amerika memiliki pandangan ini. Mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di rumah saja, dengan pendekatan pendidikan yang mereka sukai.
  4. Orang tua ingin mengambil tanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya. Alasan ini sebenarnya bisa saja merupakan penjelasan lain dari ketiga alasan di atas.

Ada beberapa keberatan akan sekolah di rumah yang biasa dikemukakan orang:

  1. Orang tua bukan guru profesional, bagaimana bisa mereka mendidik anaknya.
  2. Anak-anak nantinya tidak bisa bersosialisasi karena tidak bergaul dengan anak-anak sebayanya di sekolah.
  3. Tidak tahu harus memakai kurikulum apa.
  4. Biaya untuk membeli buku menjadi lebih besar karena tidak bisa meminjam buku dari sekolah.

Komentar (1) »

Homeschooling menurut Dhanang Sasongko

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Dhanang Sasongko.

Apa sebetulnya home schooling (HS) itu? Apakah itu maksudnya kita sekolah di rumah dengan mengundang guru ke rumah atau kita belajar bersama?

Kalau di Amerika Serikat (AS) dan di dunia, HS sudah lama berkembang. Di Indonesia mungkin ada yang namanya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). HS terdiri dari tiga jenis. Pertama, HS tunggal. Ini penggiatnya adalah satu keluarga. Kemudian HS majemuk terdiri dari dua keluarga, dan terakhir HS komunitas. Komunitas ini dibentuk dengan metode pembelajarannya secara tutorial. HS tunggal dilakukan di rumah. HS itu adalah bagaimana proses kegiatan belajar, di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja.

Bagaimana sistemnya? Maksudnya, jika saya sebagai orang tua ingin memasukkan anak ke HS, apakah saya harus berhubungan dengan Anda lalu apakah Anda mendesain kurikulum dan sistem sekolah sendiri atau kita dilibatkan?

Itu berarti masuk ke HS komunitas. HS Komunis adalah beberapa keluarga memberikan kepercayaannya untuk mendidik anak-anaknya ke dalam HS. Proses pembelajarannya melalui tutorial. Ini ada di salah satu metode HS Kak Seto.

Siapa tutornya?

Kita mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial. Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan. Mereka melaksanakan, misalnya, pertemuan dua kali dalam satu minggu. Ada paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), paket B setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan paket C setara Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi kunjungannya adalah kunjungan ke komunitas. Bila keluarga atau peserta didik kekurangan informasi akademisnya maka mereka bisa memanggil gurunya ke suatu tempat. Jadi komunitas itu menyediakan suatu tempat. Misalnya, komunitas Berkemas yang dipimpin Ibu Yaya atau Mbak Neno Warisman itu tempatnya di Pejaten. Mereka berkumpul selama tiga jam. Hari Senin adalah untuk setara SMA, jadi anak kelas satu, dua, dan tiga belajar dalam satu ruangan.

Kalau di sekolah formal kita melihat kelas satu berada di dalam satu ruangan, kelas dua di ruang lain dengan materi pelajaran yang berbeda. Jadi bagaimana proses belajar HS jika semua digabung dalam satu kelas karena pada akhirnya mereka juga mengikuti ujian akhir?

Kita memberikan masing-masing peserta didik kebebasan dalam memilih pembelajaran tapi tidak terlepas dari kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 2004 yaitu kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum terbaru kurikulum 2006. Jadi tetap ada acuannya karena nanti di ujung dari proses pendidikan HS ada ujian kesetaraan. Kalau di pendidikan formal itu Ujian Nasional (UN), sedangkan di pendidikan non formal komunitas ini ada ujian kesetaraan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa menyelenggarakan ujian tersendiri.

Dalam hal ini ada yang sudah bosan di kelas dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, dia dapat pindah ke kelas tiga di HS. Itu tidak masalah karena berdasarkan prinsip Diknas untuk ini adalah multi entry and multi exit atau mudah untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA.

Bagaimana metode pembelajaran untuk masing-masing HS yaitu tunggal, majemuk, dan komunitas?

HS ini metode pembelajarannya tematik dan konseptual serta aplikatif. Misalnya untuk tingkatan SD, dalam mempelajari alat transportasi maka mereka bisa pergi langsung naik alat transportasi. Misalnya, naik metro mini. Di metro mini ada sopir, kondektur, dan kita harus membayar. Jadi di HS kesempatan untuk mengenal langsung alat transportasi cukup besar. Lalu mereka turun dan naik busway dengan harus beli tiket dulu, antri. Kemarin saya mengajak mereka dari Grogol ke stasiun kereta api Kota untuk mengetahui bagaimana naik kereta dan kondisinya seperti nanti kereta itu penuh. Itu terekam sekali di otak anak-anak. Setelah itu, besoknya kita memberikan paparan mengenai alat transportasi. Kita coba tes ke anak-anak dan mereka bisa menulis mengenai alat transportasi berlembar-lembar.

Jadi itu mungkin keunggulan HS.

Ya, karena proses belajarnya tematik dan aplikatif. Contoh lain, kita ajak mereka untuk belajar menanam. Kita ajak ke ahlinya seperti ke Ciawi sekalian outbond. Mereka belajar cara menanam. Besoknya kita coba evaluasi dan mereka begitu antusias sehingga bisa menulis berlembar-lembar. Jadi benar-benar aplikatif. Kalau HS tunggal atau sendiri, orang tua bisa mengajarkan dari dia bangun tidur dan kapan dia mau belajar. Jadi belajar bukan sebagai kewajiban tapi kebutuhan bagi anak-anak. Jadi kalau saya sehari-hari mungkin melihat proses pembelajaran yang seperti di rumah Kak Seto. Anak beliau ada empat. Nah, yang tiga mengikuti HS dan yang satu pendidikan formal.

Jadi dalam hal ini orang tua terjun langsung?

Iya, terjun langsung. Kalau misalnya kekurangan informasi mengenai akademis, mereka bisa panggil tutor. Mereka mau tahu tentang bahasa Inggris maka mereka bisa ambil kursus. Jadi waktunya bisa lebih banyak, dan belajar sangat menyenangkan buat mereka karena memang didasari oleh kebutuhan.

Kalau melihat dari jenisnya, apakah HS komunitas memiliki kelebihan atau keunggulan dari yang lain?

Ini harus dilihat dari kondisi orang tuanya. Kalau kedua orang tua bekerja, tapi menginginkan anaknya untuk HS mungkin lebih tepat ke HS komunitas. Sedangkan untuk HS tunggal agak susah karena orangtua harus full. Jadi untuk komunitas itu sifatnya tutorial, dan hadir di kegiatan komunitas.

Pendidikan bukan hanya soal kita menambah pengetahuan atau ilmu di segala macam bidang, namun ada hal yang perlu juga seperti interaksi dengan kawan-kawan lainnya. Bagaimana sosialisasi pada murid HS?

Saya melihat sosialisasi anak-anak HS begitu terjaga. Kita mengajak mereka ke pasar. Kita perkenalkan juga kepada anak-anak pasar. Kita tanya, “Apakah kamu bersekolah atau tidak? Apa kegiatan kamu?”. Lalu kita bawa juga mereka ke alam terbuka dan ke rumah singgah. Kalau lingkungan untuk pendidikan formal mungkin ada keterbatasannya. Temannya hanya itu-itu saja. Besok ketemu si A dan besoknya ketemu si A lagi karena satu lingkup sekolah. Sosialisasi di HS juga cukup efektif karena mereka bisa lebih banyak waktunya untuk berhubungan lewat internet. Mereka bisa lebih banyak ada kesempatan untuk pergi ke luar. Jadi mengenai sosialisasi tidak ada masalah. Yang paling penting juga adalah kita memberikan kemandirian, yaitu dalam belajar dan mengambil keputusan. Kita juga memberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Jadi sejak dini mereka sudah dilatih untuk bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana kegiatan Anda dan teman-teman di Asah Pena selama ini seperti sejak kapan dan bagaimana keterlibatannya dalam proses HS ini?

Asah Pena baru saja menandatangani MoU dengan pemerintah sekitar 10 Januari 2007. Asah Pena adalah singkatan dari asosiasi sekolah rumah dan pendidikan alternatif. Ini merupakan suatu wadah home schooler (peserta didik – Red) baik tunggal, majemuk, ataupun komunitas. Asah Pena dibentuk atas keinginan masyarakat dan didukung oleh Depertemen Pendidikan Nasional. Kelihatannya cukup efektif karena selama ini pendidikan alternatif selalu dicitrakan dengan pendidikan yang kurang berkualitas. Dengan adanya Asah Pena maka bisa mendata secara administratif seberapa banyak sekolah alternatif, HS, dan sebagainya.

Berapa banyak peserta didik home schooling saat ini di Jakarta?

Banyak. Home schooler yang terdata di Jakarta ada 600-an. Dan untuk HS komunitas ada 8 - 10 komunitas.

Apa kira-kira yang harus dilakukan bila ingin menyekolahkan anaknya melalui pendidikan alternatif atau HS karena informasinya sangat terbatas?

Jika ingin mendapatkan informasi mengenai HS bisa melalui Asah Pena di nomor telepon 0817-831813 atau perwakilan Asah Pena di telepon (021) 8195601. Biayanya berbeda-beda seperti ada uang pangkal, iuran tahunan, dan iuran bulanan. Metoda pengajarannya dengan tutorial. Misalnya, uang pangkal untuk HS Kak Seto Rp 1,5 juta dan iuran tahunan Rp 2 juta untuk tahun ini. Untuk iuran bulanan berjenjang seperti untuk SMA Rp 450 ribu. Mereka mendapat modul dan modul pembelajaran untuk orang tua

Apakah belajarnya setiap hari?

Belajarnya satu minggu dua kali sebanyak tiga jam untuk masing-masing pertemuan. Kita mengarahkan supaya mereka nanti banyak belajar di rumah dan di lingkungan yang mereka mau belajar. Kalau mau menyelenggarakan HS tunggal, mereka bisa konsultasi ke Asah Pena dan mungkin rekan atau kerabatnya yang sudah menjalankan HS. Kita bisa mengambil metode bermacam-macam. Kalau kita mau kurikulum nasional maka materi pembelajarannya bisa didapat di toko buku dan sebagainya. Kalau mau mencoba kurikulumnya Neno Warisman maka bisa berhubungan dengan Mbak Neno. Nanti kurikulumnya bisa diberikan. Ada juga metodenya Kak Seto atau Berkemas. Ada 8 sampai 10 komunitas dan mereka sangat terbuka untuk memberikan informasi mengenai kurikulum.

Bagaimana dengan sertifikat atau ijazah kelulusan untuk HS karena biasanya kita mau tidak mau harus memiliki itu untuk mendapatkan akreditasi dan segala macamnya. Apakah legalitas itu sudah ada dari Diknas?

Diknas sangat memperhatikan sekali pendidikan alternatif. Kini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Itu adalah pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat untuk merespons HS, banyaknya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan banyaknya kekecewaan terhadap Ujian Nasional (UN). Orang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat SD. Orang bisa ikut ujian kesetaraan dan jika lulus akan mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan SMA juga ada. Ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Jadi sudah dilegalitas oleh pemerintah.

Dalam hal ini memang ada kelemahannya di HS, yaitu tidak ada kompetisi atau bersaing. Tapi keunggulannya yang paling dominan adalah dengan terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing anak peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan fisika. Kita mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi peserta didik masing-masing.

Ujian kesetaraan itu nanti ada yang namanya percepatan yang mungkin kualitasnya masih di bawah Ujian Nasional, tapi mereka bisa dipermudah dengan program percepatan. Misalnya, untuk menghadapi ujian biasanya kita intensif untuk tutorial terus selama dua bulan.

Sejak kapan HS ada di Indonesia dan apakah ada kisah sukses orang-orang yang ikut HS karena di masyarakat dia mendapatkan sertifikasi hampir sama dengan orang-orang yang sekolah formal?

Mungkin kita bisa melihat pada Ki Hajar Dewantoro. Jika saya melihat dari sejarah Ki Hajar Dewantor, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka HS. Lalu Ketua BEM UI sekarang dia ikut HS juga. Kalau di luar negeri yaitu Bill Gates dan Thomas Alfa Edison. Kalau saya membaca sejarahnya, mereka tidak belajar di sekolah formal. Malah mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Ini untuk memperkuat supaya kita tidak khawatir. HS sama dengan sekolah formal pada umumnya.

Tiada komentar »

The Power of Positive Feelings

You feel powerful and strong. You feel an energy inside you that says “I am here to do something great!” You feel yourself walk into any situation, confident and at peace. You feel successful.

Ah, how good it feels!
dhdfhshd

Have you ever noticed that we ask each other, “How are you feeling today?” I have never met anyone who asked me, “How are you thinking today John?”

Why is this?

Perhaps it is because how we feel is how we live. If I feel miserable, my life reflects that misery. If I feel confident, then I act confident and I attract into my life that which I desire because I feel I deserve it.

In every moment, you and I feel something. And these feelings we have shape our destiny. Notice I write “these feelings we have”. Feelings do not have us; we have feelings.

Most personal development focuses on thinking. Change your thinking and you change your life. I agree, but thinking arises from feeling. If I am holding tension in my body, if I feel tense, then my thinking is shaped by tension. And I react accordingly.

That tension is the result of accumulated thoughts and feelings. And the more thoughts that accumulate, the greater the tension (also known as stress) until ultimately I make myself ill; both physically and mentally.

Positive thinking is a great idea, but it has limitations, does it not? Can you tell me what your next thought will be? Not without thinking about it! And by the time you have come up with an answer your mind has already moved on to something else.

Plus all thoughts are found in the past. One cannot think in this moment. One can only experience this moment and it is this moment and the succession of this moment that make your life. Right now, plus right now, plus right now, equal your life and the results you create.

To make a change in how you experience and what you do with “right now” you must act on the feeling level to make true changes. And by changing how you feel right now, you change your destiny.

We all know of this power. It is a power we are born with that becomes discarded when we are told to stop feeling and start thinking. All limitations exist only in our thinking, yet that is exactly what everyone is telling us to do! Get an education and learn your limits!

If you have ever watched a young child develop, you will notice how they do not accept “no” for an answer. Failure does not stop us until we learn that failure means something bad. We then spend the rest of our life trying to reprogram our mind with clichés about how failure is the foundation of success, but do we really believe it? As children we fall, we hurt, we let the feeling go and we take off running again. As adults we fall, we hurt, and we tell stories about it for the rest of our life to anyone who will listen!

If you want to achieve a breakthrough in any area of your life, stop trying to reprogram your mind and notice how you feel. When you set a goal, notice the feelings that arise for you. Fear? Anxiety? Doubt? They are nothing more than feelings; electro-chemical impulses.

The good news? You can learn to let these feelings go and when you do, your potential has new life and it expands beyond the limits of thought. You feel a new energy when you realize all that prevents you from having all that you desire are these feelings which you have chosen to hold on to because you think, yes you think, they serve you in some way.

No analyzing is necessary, nor programming or re-programming, nor words; just feelings. Powerful feelings.

Tiada komentar »