Bahasa plesetan bukan sekedar lelucon


WRITTEN SMARTLY BY : ALIA SWASTIKA

Plesetan bukanlah sekadar humor atau bahan lawakan. Ia adalah sisi lain dari politik negara terhadap bahasa nasional yang telah begitu lama menjelajah dalam kehidupan sehari-hari warga biasa. Dalam plesetan, kita akan menemukan cara pandang rakyat biasa terhadap persoalan sosial politik di sekitarnya, yang mereka ungkapkan dalam bentuk permainan bahasa. Tulisan ini akan mengambil kasus bagaimana masyarakat Yogyakarta, dan mungkin akan melebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, memposisikan plesetan sebagai permainan bahasa yang punya makna politis dan kebudayaan tertentu. Sebuah resistensi terhadap bahasa Indonesia—dalam kasus ini, juga terhadap bahasa Indonesia ala Jakarta—yang harus mereka lahap sehari-hari di sekolah, di kantor-kantor, dan dalam artikel-artikel di media massa.

Segala hal yang berbau plesetan pernah sangat populer pada pertengahan tahun 1990-an, tahun-tahun ketika isu politik—khususnya isu tentang suksesi—mulai memanas, tahun-tahun menjelang jatuhnya rezim totaliter, juga di ranah bahasa. Beberapa tayangan humor dan lawak yang ditayangkan di televisi tak lagi mengandalkan slapstick, melainkan mulai menggunakan gaya plesetan. Pada saat itu, tentu saja yang banyak menjadi sasaran plesetan adalah isu-isu politik, meski ini dilakukan dengan begitu kabur dan diam-diam. Jadinya, dalam plesetan ini kita dapat menemui ungkapan ketidakpuasan dan frustasi masyarakat terhadap kekuasaan yang sifatnya sangat kontekstual.

Yogyakarta dan Kecenderungan Plesetan
Di Yogyakarta, plesetan bukanlah sesuatu yang baru. Permainan bahasa ini sudah diakrabi masyarakat sejak mereka masih kecil. Sangat sulit untuk dapat menyebutkan kurun waktu, karena seperti biasanya, tak banyak data-data yang bisa digali untuk melihat sejak kapan permainan bahasa ini muncul dalam tradisi masyarakat Jawa. Yang jelas, generasi pelawak-pelawak asal Yogyakarta yang kini telah berusia senja, masih saja fasih melontarkan plesetan dalam dialog-dialog mereka. Begitu juga anak-anak kelas lima SD, yang mulai menggunakan plesetan sebagai cara baru untuk menjalin ikatan pertemanan yang lebih luas dan lebih akrab. Plesetan selalu menjadi cara bagi masyarakat untuk menciptakan suasana yang penuh tawa, yang sejenak melepaskan mereka dari tekanan hidup sehari-hari. Bahkan sampai kini, ketika Yogyakarta sudah semakin dipadati mahasiswa-mahasiswa dari luar daerah, plesetan masih bertahan di sela gempuran-gempuran bahasa Indonesia ala Jakarta yang nyaris terdengar setiap hari di radio-radio. Bahkan, mahasiswa luar ini memerlukan kemampuan untuk bisa bermain plesetan agar dapat diterima di kalangan mahasiswa “tuan rumah”. Tanpa mengetahui arti kata-kata yang terlontar selama permainan plesetan berlangsung, seseorang tidak akan dapat masuk ke dalam suasana akrab yang tercipta pada waktu itu. Penulis melihat, bahwa dalam hal ini, seiring dengan perkembangan pola-pola interaksi antar warga, kemahiran dalam permainan bunyi kemudian menjadi salah satu modal yang penting bagi masyarakat Jawa dan para pendatang untuk tetap menjaga kedekatan dan keakraban satu sama lain.
Beberapa orang pengamat linguistik meyakini bahwa kemahiran orang Yogya bermain plesetan ini disebabkan karena budaya mereka yang senang berdebat, senang tampil unik (berbeda dibandingkan yang lain), juga kesenangan masyarakat untuk mengobrol dan melepas humor. Di Yogyakarta, kebiasaan bersantai dengan lingkungan sepergaulan diwujudkan dengan kegiatan kumpul-kumpul sambil mengobrol tentang banyak hal (dalam istilah Jawa, ngobrol ngalor ngidul). Dari situlah kemudian muncul dialog yang beragam, cara menyampaikan ujaran-ujaran yang beragam, sampai lahir plesetan. Selain itu, ada karakter-karakter khas yang selama ini selalu dilekatkan pada orang Jawa yang agaknya turut mempengaruhi kebiasaan plesetan mereka. Orang Jawa dianggap tidak konfrontatif, tidak suka berterus terang, dan menjaga harmoni. Jika tidak setuju atau tidak suka akan sesuatu, orang Jawa cenderung menyampaikannya dengan bahasa yang halus untuk menghindari perseteruan dan rusaknya harmoni. Karenanya, kritik-kritik kemudian disampaikan dengan “kemasan lain”, yang diharapkan tidak membuat pihak yang dikritik tersinggung. Humor adalah salah satu bentuk yang dianggap paling efektif.
Bagi orang Jawa, permainan bahasa menjadi salah satu cara wong cilik menyikapi zaman Edan—suatu zaman yang diramalkan oleh pujangga Ronggowarsito; zaman ketika keteraturan, norma-norma, keamanan atau harapan mengalami gangguan dan mungkin melenyap. Permainan ini diwujudkan dengan melakukan othak-athik kata-kata sehingga gathuk (cocok).

Plesetan dan Bahasa yang Militeristik
Dibanding merunut kedekatan masyarakat sehari-hari dengan plesetan, tampaknya lebih mudah menelusuri sejarah keterlibatan plesetan di panggung-panggung dagelan rakyat. Mbah Guno, seorang seniman senior di Yogyakarta melihat bahwa di panggung hiburan, plesetan sebagai bahan dagelan muncul dari kebiasaan guyon (bercanda) dan ngomong waton (berbicara seenaknya) di grup musik milik Kodam Diponegoro, “Tunas Kasih”, yang populer di tahun 19670-an. Baru setelah itu, plesetan ini menjadi permainan bahasa yang populer di kalangan seniman-seniman Yogyakarta. Dari sumber ini, penulis melihat bahwa kebiasaan yang tidak disiplin dan melenceng dari ketertiban berbahasa pada umumnya justru muncul dalam sebuah institusi yang dikenal sebagai institusi yang memegang teguh kedisiplinan, yang mengindoktrinasi anggota-anggotanya untuk menjadi sosok-sosok yang tertib, tegas dan tampil angker. Disiplin militer dalam kehidupan sehari-hari ini tampak juga dalam bahasa. Kata-kata semacam “Hormat, grak!!” atau ‘Siap!” selalu diucapkan dengan sikap tubuh tertentu yang menunjukkan kedisiplinan dan kesigapan. Bahasa yang hidup dalam barak-barak militer adalah bahasa yang tertata, tegas dan—menurut pengamatan penulis—‘patuh’ atasan (yang karenanya menjadi mapan dan tidak terbuka). Kepenatan dan frustasi menghadapi tata tertib bahasa semacam itu kemudian justru memunculkan perlawanan dalam bentuk permainan kata, meskipun saat itu hanya ditampilkan terbatas pada panggung hiburan.
Plesetan selalu mencoba mengusik kata-kata yang sudah terlanjur mapan, atau bahkan dengan terang-terangan menjadikan hal-hal yang berkesan serius menjadi lelucon. Misalnya saja, di Yogyakarta ada kelompok lawak yang menamakan dirinya dengan LBH. Kalau dalam pengertian umum, LBH menjadi akronim dari Lembaga Bantuan Hukum, dalam kasus ini LBH merupakan kependekan dari Lembaga Bantuan Humor. Saat kelompok ini mengisi acara HUT TVRI Yogyakarta yang diselenggarakan di Monumen Yogya Kembali (Monjali), mereka memelesetkan slogan TVRI yang berbunyi “TVRI Menjalin Persatuan dan Kesatuan” menjadi “TVRI Monjali Persatuan dan Kesatuan”. Dalam percakapan sehari-hari di kalangan mahasiswa, misalnya, penulis mendapati istilah-istilah semacam “DOM (Daerah Operasi Militer)”, “polisi” ataupun “Primus” biasa digunakan dalam percakapan antar kawan dengan memberikan kata-kata itu makna baru yang bermaksud menyindir makna yang sesungguhnya. Kata DOM, mereka gunakan untuk menyebut tindakan yang kejam atau untuk menyampaikan ancaman (“Kalau kamu terus membantah, ku-DOM kamu nanti!”). Frase ini mereka ambil ketika keadaan di Aceh mulai memanas, dan pemerintah berencana menetapkan wilayah tersebut sebagai Daerah Operasi Militer (sebuah tindakan yang mereka bayangkan bisa melahirkan tragedi kemanusiaan atau pembunuhan massal). Sementara polisi mereka plesetkan menjadi akronim dari “Pokoknya Lihat Situasi”, karena menurut mereka polisi, terutama polisi lalu lintas, selalu berusaha mendapatkan uang tambahan dengan mencari-cari kesalahan para pengendara sepeda motor. Sedangkan Primus sesungguhnya adalah nama seorang aktor idola remaja berwajahnya tampan. Dalam guyonan sehari-hari, “Primus” menjadi akronim dari “Pria Mushola”, sebuah identitas yang dilekatkan pada remaja-remaja pria yang alim. Di Yogyakarta, kita mendapati bahwa orang-orang yang terbiasa melakukan plesetan harus punya modal pengetahuan yang luas dan mengikuti perkembangan wacana yang beredar di kalangan masyarakat umum. Jika masih menggunakan isu lama yang tidak lagi populer, plesetan yang dilontarkannya akan dianggap ketinggalan zaman. Di sini tampak bagaimana plesetan menjadi representasi respons masyarakat awam terhadap isu-isu sosial-politik-kebudayaan yang kompleks yang sifatnya aktual.

Dagadu dan Basa Walikan
Pada 1994, di Yogyakarta muncul fenomena baru dalam hal plesetan. Mahasiswa-mahasiswa UGM mendirikan perusahaan kaus oblong kecil-kecilan yang mereka tawarkan sebagai cinderamata alternatif dari Yogyakarta. Oblong yang mereka produksi kemudian namai “Dagadu” , dengan loga mata. Kata “Dagadu” adalah makian khas masyarakat Yogya yang berarti “ma-ta-mu”. Rumus mengganti kata “matamu” dengan “dagadu” adalah rumus basa walikan—salah satu variasi plesetan khas Yogyakarta. Bagi orang luar Yogya, untuk dapat mengerti basa walikan ini tidak cukup dengan mengerti bahasa Jawa saja, melainkan ia harus menguasai 20 karakter dasar huruf Jawa. Seperti halnya permainan bahasa yang lainnya, basa walikan ini adalah perayaan kelas bawah terhadap identitas mereka. Lewat bahasa mereka mengukuhkan keberadaan mereka—karena di luar wilayah itu, mereka tidak pernah diakui keberadaannya. Mereka menggenggam sesuatu yang benar-benar mereka miliki, dan keluar dari disiplin-disiplin yang dibangun kelas yang lebih mapan. Dahulu, basa walikan menjadi bahasa yang digunakan preman-preman untuk melakukan komunikasi antar mereka dan menyampaikan informasi-informasi penting yang tidak boleh diketahui pihak lain, demi melindungi mereka dari para penegak hukum. Karenanya bahasa ini sering juga disebut basa maling (bahasa pencuri), basa sacilad (bahasa bajingan) atau basa gali (bahasa preman).
Meski ada banyak desakan dan bahkan pemusnahan yang dilakukan aparat terhadap preman-preman, salah satunya peristiwa Penembakan Misterius pada 1983, namun bahasa yang mereka gunakan ini justru terus berkembang dan meluas. Masyarakat awam mulai mengambil bahasa ini untuk mencari nuansa yang lain, untuk menemukan cara yang berbeda dalam menyampaikan kritik dan ekspresi perasaan mereka. Basa walikan tiba-tiba menjadi bahasa yang enak saja digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan lingkungan yang sudah diakrabi. Dan keputusan menjadikan “Dagadu” menjadi brand kaus oblong ternyata menjadi satu politik berbahasa tersendiri, yang mengangkat citra bahasa kelas bawah ini menjadi bahasa yang bisa masuk ke pusat perbelanjaan ber-AC, atau melekat pada punggung orang-orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Semenjak popularitas kaus oblong Dagadu meningkat, banyak orang yang awalnya tidak memahami basa walikan jadi tertarik untuk bisa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Plesetan, termasuk juga basa walikan, akhirnya memang menjadi komoditi. Ia hadir dalam budaya massa yang lebih luas, dan menjadi ikon dalam budaya pop khas Yogyakarta. Panggung-panggung lawak di Yogyakarta selalu digarap dengan konsep plesetan, diberi tajuk acara yang berbau plesetan (misalnya, “Gerr satu kita teguh, Gerr cerai kita runtuh”). Beberapa kelompok musik menggunakan basa walikan dalam syair lagu-lagu mereka, misalnya salah satu grup beraliran rap menciptakan lagu berjudul “Pabu Sacilat” (Asu Bajingan). Selain Dagadu, muncul pula beberapa perusahaan kaus oblong yang menggunakan formula yang sama. Warung-warung makan di pinggir jalan menggunakan formula plesetan yang terasa ‘mengejek’ hal-hal yang lebih mapan (“Kentuku Fried Chicken”, atau “Kenchick” [dibalik chicken]). Bahasa yang lahir dari kelompok bawah ini justru mengalami perkembangan yang lebih pesat dibandingkan bahasa Jawa yang adiluhung. Karena buktinya, bahasa Jawa yang dikatakan sebagai budaya tinggi itu kini justru ditinggalkan, dilupakan, dan cuma menjadi rujukan sejarah.

Resistensi dan Eksistensi
Apakah kemunculan bahasa pinggiran ke kalangan yang lebih luas pada akhirnya menghilangkan nilai-nilai awal yang melahirkan bahasa ini? Jawabannya bisa jadi ya, jika kita hanya melihat persoalan ini dari satu sudut pandang. Bahwa bahasa menjadi alat untuk mengkomunikasikan makna-makna tertentu dalam lingkup masyarakat yang tercakup dalam sebuah konvensi sosial tentang simbol-simbol verbal. Makna itu tentu saja hilang saat bahasa yang digunakan oleh satu kelompok tertentu diadopsi dan digunakan oleh kelompok lain. Namun dengan menggunakan sudut pandang yang lain, kita bisa melihat bahwa bahasa (pinggiran) sebagai resistensi akan selalu hidup selama ada kelompok yang melakukan hegemoni dan menjalankan kekuasaan dengan sewenang-wenang. Jadi, meskipun ia berada dalam wilayah budaya populer yang penuh dengan eksploitasi kaum kapitalis sekalipun, bahasa-bahasa pinggiran ini menunjukkan perlawanan terhadap sesuatu. Entah kebosanan mereka akan kehidupan yang semakin sulit dan menekan, harapan-harapan yang semakin sukar diwujudkan, ataupun hilangnya ruang-ruang bagi mereka untuk berinteraksi dengan hangat. Bahasa menjadi cara bagi orang biasa untuk menunjukkan eksistensinya dalam pelbagai perangkat aturan yang ditetapkan kelompok penguasa. Semakin bahasa di-disiplinkan, akan semakin besar kemungkinan adanya resistensi-resistensi terhadap pendisiplinan itu.

Alia Swastika

Bahan Bacaan:
Latif, Yudi dan Ibrahim, Idy Subandi. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. (Bandung: Mizan, 1996)
Majalah Balairung, edisi 30/th. XIV/1999, Membaca Ekspresi Yogya
Majalah PRISMA, No 1, Tahun 1996
Wijana, I Dewa Putu. Wacana Dagadu, Permainan Bahasa, dan Ilmu Bahasa. Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya UGM, 2003

About these ads

Tentang abu dira syifa

I'm a simple Muslim just wanna go to make dakwah all over the world
Tulisan ini dipublikasikan di ALL TOP DOWNLOADS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s