Apa itu metafora?


Oleh: Hasan Aspahani

http://www.sejuta-puisi.blogspot.com/2007_10_01_archive.html

METAFORA. Pemadanan langsung satu hal dengan hal lain, atau melihat sesuatu dengan perantaraan sesuatu yang lain, tanpa menggunakan kata-kata hubung pembanding.

Bila simile seakan perbandingan yang ragu, maka metafora adalah penyamaan yang tegas. Bila simile berpola A seperti B, maka metafora berpola A adalah B. Menurut I.A. Richards dalam “The Philosophy of Rhetoric” (1936), metafora terdiri dari dua bagian: tenor dan vehicle. Tenor adalah subjek yang hendak dijelaskan dengan sifat-sifat tertentu. Sedangkan vehicle adalah subjek lain yang sifat-sifatnya dipinjam untuk memperjelas. Ini hanya sekedar istilah. Penulis lain memakai istilah ground untuk tenor, dan figure untuk vehicle.

Sesunguhnya metafora itu lebih luas pembahasannya. Terlalu sempit tempat untuk metafora kalau ia hanya dibahas sebagai sebuah majas atau gaya bahasa. Metafora menuntut tempat istimewa dalam pembahasan Bahasa itu sendiri, secara luas. Metafora – dalam puisi – pun berhak untuk diberi perhatian lebih untuk digarap secara amat serius.

Contoh paling dahsyat untuk memahami metafora adalah sajak berikut ini:

a. Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerjang

(“Aku”, Chairil Anwar, “Aku Ini Binatang Jalang”, Gramedia: Jakarta, 1986)

“Aku” ini (adalah) “binatang jalang”. Metafora ini dihadirkan Chairil setelah dalam dua bait sebelumnya dia jelaskan apa yang ia tekadkan. Metafora itu mempertegas dan sekaligus dipertegaS oleh kehadiran dua bait itu: Kalau sampai waktuku / kumau tak seorang kan merayu / Tidak juga kau // Tak perlu sedu sedan itu.

Bait selanjutnya masih merupakan bagian dari bangunan metafora “Aku” Chairil (adalah atau sebagai) “binatang jalang” :
Luka dan bisa (a)kan (a)ku (karena aku adalah binatang yang jalang) -bawa berlari/ Berlari / Hingga hilang pedih peri

Lebih dari sebagai majas, metafora dalam sajak ini adalah bangunan utama, yang mengukuhkan tegak berdirinya sajak. Tenaga sajak ini akan lembek kalau Chairil memilih menggunakan majas simile: Aku ini seperti binatang jalang.

Contoh lain:
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala tampak

(“Rumahku”, Ibid)

b. mungkin juga
dikaulah puteri tujuh
yang tanpa lelah
mengumpulkan air matamu
kemudian disulingkan
sebagai minyak bumi

(“kisah pagi ini”, Taufik Ikram Jamil, “tersebab haku melayu”, Yayasan Membaca: Pekanbaru, 1995)

hatiku meleleh di selat tebrau
sia-sia kuhisap
sejak 1824
sejarah menjadi topan di kepalaku

(“sejak 1824″, ibid)

c. alif, alif, alif!
alifmu pedang di tanganku
susuk di dagingku, kompas di hatiku
alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan
terang
hingga aku
berkesiur
pada
angin kecil
takdir-
mu

(“Zikir”, D Zawawi Imron, “Madura, Akulah Darahmu”, Grasindo: Jakarta, 1999)

aku bayangkan
sebuah bisul yang membesar menjadi gunung
setelah pecah
di puncaknya muncul kaldera

aku bayangkan
sebuah luka yang meluas menjadi laut
yang airnya darah bercampur nanah

(“Aku Bayangkan”, ibid)

d. Bulu matamu: padang ilalang
Di tengahnya: sebuah sendang.

(“Bulu Matamu: Padang Ilalang”, Joko Pinurbo, “Di Bawah Kibaran Sarung”)

Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur
di kepalaku. Ia membabat rasa damai yang merimbun
sepanjang waktu.

(“Tukang Cukur”, ibid)

Dua contoh di atas, dipilih untuk menunjukkan bagaimana Joko Pinurbo memakai metapor sebagai majas (contoh pertama) dan metapor sebagai bangunan utama bahkan ruh dari sajak yang ia tulis (contoh kedua). Pada contoh pertama, si penyair masih membimbing kita perlahan mengikuti atau menelusuri makna yang hendak ia tawarkan lewat majas metapor yang ia gunakan dan sekaligus metafora yang ia ciptakan. Pada contoh kedua, ia langsung menghadapkan kita pada metapor yang seakan-akan sudah jadi. Ia tidak menyebut rambut (tenor) tetapi langsung menghadirkan “padang rumput” (device) yang kita tahu itu adalah metafora dari rambut karena si tukang cukur membabat padang rumput yang tumbuh subur di kepalanya itu.

e. Udara jernih berkibaran bagai gaunmu terawang,
tubuhmu delta, bertaut dua muara kenang:
coklat tanah dan getah katulistiwa
rona merah daun-daun mapel subtropika.

(“Sonnet, Sonya, dan Nannet”, Sitok Srengenge, “Nonsens”, Yayasan Kalam: Jakarta, 2000)

Kota yang cantik,
pelacur yang cerdik,
membuka diri
tapi menutup hati
Di jantungnya sebuah danau beku,
di palungnya ingin kujangkau kau, tenung masa lalu.

(“Zeedijk”, ibid)

Pada contoh pertama, bila metafora menjadi perhatian kita, maka simile di baris pertama (udara jenih seperti terawang gaun), hadir untuk mendukung metafora (tubuhmu adalah delta), yang dijelaskan dengan “bertaut dua muara kenang”. Tenor dan devicenya jelas. Sedangkan pada contoh dari Sitok yang kedua, metafora hadir di bait “Di jantungnya sebuah danau beku”. Apakah yang ingin dijelaskan dengan “danau beku”? itu? Jantungkah? Atau hati yang ditutup itu? Bukan keduanya, tetapi suatu keadaan. Bukan jantung itu yang beku, tetapi ada sesuatu atau keadaan di jantung itu yang dingin sepeti danau beku.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s