apakah definisi sastra?


Seorang teman bertanya kepada saya “Apa sih definisi sastra?”. Ia seorang penulis novel yang kebingungan mendefinisikan sastra yang sekaligus juga membuat saya kebingungan karena seorang yang sudah menulis novel bingung dengan definisi sastra. Dan kini saya akan membuat anda juga kebingungan membaca tulisan ini.

Menurut saya, sastra adalah perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan. Tulisan adalah media pemikiran yang tercurah melalui bahasa, bahasa yang bisa direpresentasikan dalam bentuk tulisan, media lain bisa saja berbentuk gambar, melody musik, lukisan ataupun karya lingkungan binaan (arsitektur).

Sastra menjadi bagian dari budaya masyarakat. Sastra yang memuat materi yang tinggi dipelihara secara turun-temurun oleh para pujangga, banyak yang secara lisan karena media tulisan sangat terbatas, hanya daun lontar.

Ada tudingan kepada guru-guru sekolah atau kurikulum pendidikan formal yang mengakibatkan keterasingan sastra dalam kehidupan bermasyarakat, seperti tendensi bahwa sebuah karya sastra adalah harus indah, menawan, cantik dsb. Kenyataannya guru-guru pengajar tidak lebih dari makelar atau mak comblang yang menawarkan produk-produk sastra kepada muridnya dengan gaji yang rendah, hingga kini. Berapa banyak yang kita (media/masyarakat) anggap sebagai sastrawan tapi bukanlah guru bahasa atau lulusan pendidikan bahasa sebuah sekolah tinggi?

Salah satu upaya keterasingan sastra dalam kaitannya dengan budaya masyarakat adalah Universitas Indonesia mengganti Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya.

Dr. Abdullah Dahana Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berkesimpulan bahwa istilah Sastra telah mengalami penyempitan arti, “Kebanyakan kaum awam menganggap sastra hanyalah ilmu yang mengurusi kesusastraan saja. Padahal arti sastra sesungguhnya itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan secara luas. Itulah salah satu penyebab Fakultas Sastra berganti baju menjadi Fakultas Ilmu Budaya.”

Menurut KBBI arti sastra adalah:
(1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari);
(2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

Jadi apa definisi sastra itu?
Mari kita cari! (be a winner, not a loser). Ada sebuah dialog bapak dengan anak yang saya temukan di situs penerbit Mizan tentang pengajaran dan penggambaran sastra. Sebuah artikel yang cukup menarik!

Dalam bahasa Inggris kita mengenal kata literature, diserap menjadi literatur ke dalam bahasa Indonesia. Arti literature (menurut kamus online WorldNet) adalah:
1: creative writing of recognized artistic value
2: the humanistic study of a body of literature; “he took a course in French literature”
3: published writings in a particular style on a particular subject; “the technical literature”; “one aspect of Waterloo has not yet been treated in the literature”
4: the profession or art of a writer; “her place in literature is secure”

Apakah sastra memiliki definisi yang sama dengan literature?
Jika melihat perbandingan arti dua kamus di atas terdapat perbedaan bahwa arti literatur dalam bahasa Inggris memiliki arti yang lebih lebar dibandingkan arti sastra dalam bahasa Indonesia.

Sebuah pepatah mengatakan “Bahasa menunjukkan bangsa”, pepatah ini benar sebagai eksistensi sebuah bangsa di dunia. Siapa lagi yang harus berbahasa Indonesia selain kita sendiri supaya tidak kehilangan identitas diri?

Bahasa, selain dipertahankan sebagai warisan budaya pula harus dikembangkan, salah satu yang penting adalah kosakata baru. Sebenarnya kosakata baru yang murni diciptakan oleh orang Indonesia itu ada, seperti contohnya adalah pindai (scan), tikalas (subscript), tikatas (superscript). Tapi siapa yang menggunakan? Apakah publikasi lembaga bahasa kurang? atau justru lembaga bahasa tidak mempublikasikan apa-apa?

Selain mencari kombinasi dari 26 karakter latin sebagai kosakata baru, bahasa Indonesia memiliki metoda tersendiri untuk membentuk inovasi kosakata yaitu dengan sisipan ataupun imbuhan. Contoh yang paling umum adalah kinerja (performance) yang berasal dari kerja atau sinambung (continuous) dari kata sambung. Mengapa tidak kita ciptakan misalnya tinembak, pinanjang, pinendek, sinempit atau linuas?
sumber: yulian.firdaus.or.id

About these ads

11 thoughts on “apakah definisi sastra?

    • assalamualaikum wr.wb. bisa mas. aku tanya dulu ya kenapa anak muda sekarang ga suka sastra?kayaknya sastra itu bacaan orang yang kurang moderen?

  1. Mohon diperhatikan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    hingga detik ini saya bernapas,tak ada penulis sastra dalam bukunya yang tak pelit,hanya segelintir saja yang mereka tuliskan dalam buku mereka.
    namun para pegiat sastra banyak yang mengeluh tentang keterpurukan sastra saat ini yang padahal mereka semua hanyalah pegiat sastra yang serakah,bagai makan nasi masuk perut sediri.jika peduli dan prihatin terhadap kondisi sastra saat ini maka janganlah kau pendam dalam-dalam yang kau punya itu,baik dalam tulisanmu maupun dalam situs yang ada pada internet.
    semua pegiat sastra hanyalah orang serakah yang tak mau berbagi….
    umumkan terhadap mereka semua pegiat sastra maupun sastrawan yang tenar sekalipun.

    jangan hanya menulis berharap timbal balik sebuah materi saja,berikanlah ilmu yang kau punya demi perkembangan sastra yang kian terpuruk,jangan hanya menulis untuk kau jual demi kebutuhan hidupmu sendiri

    • ^_^ saya bukan ahli sastra tapi senang membaca karya sastra. tapi saya senang dengan keterusterangan anda memberi komentar. begitu emotif dan ekspresif..anda layak jadi pujangga mas ^_^

  2. menurut saya sastra adalah suatu imajinasi yang mepunyai nilai rasa yang dituangkan dalam tulisan yang indah dngan kreatifitas yang tinggi

  3. Assalamualaikum Wr. Wb.,

    Saya adalah alumnus Fakultas Sastra. Kebetulan disiplin yang saya ambil adalah
    Sastra Inggris. Bagi saya, ilmu ini sangat menarik bahakan salah satu dosen saya pernah mengatakan bahwa ilmu sastra adalah induk dari segala ilmu, maka oleh karenanya setiap
    pemikir maupun ilmuwan sastra adalah seseorang yang sangat unik sekaligus kuno tapi
    sangat mengesankan. Ya, bisa dikatakan old-fashion lah. Tapi, justru itu yang membuat
    rasa ketertarikan saya. Seiring berjalannya waktu, saya pun bekerja di salah satu
    perusahaan jasa yang bergerak dalam bidang lingkungan. Saya ditempatkan didepartemen
    Marketing & Busniness Development, semua pekerjaan berjalan lancar, hingga suatu saat
    saya dituntut oleh manajemen agar lebih improvement dibidang ilmu manajemen
    lingkungan, dimana seperti yang kita tahu bahwa Ilmu Lingkungan adalah berbasis ilmu
    eksakta hingga pada akhirnya saya berhasil lulus ujian masuk Program Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kalimantan & hingga kini masih “bertahan” dalam mengikuti perkuliahan. Cuma, yang terkadang membuat saya sedikit ada rasa kecewa dalam hati maupun pikiran saya bahwa apriori maupun interpretasi dari sebagian orang (baik itu dari dunia kerja maupun dunia perkuliahan saya saat ini) menganggap bahwa ilmu sastra sudah mutlak hanya mempelajari soal karya sastra sepertinovel, puisi, drama, pantun, dsbnya. Hanya itu. Jadi, seolah ada dinding pembatas yang cukup tinggi yang bisa dikatakan sebagai suatu “kesenjangan” antara ilmu sastra dengan ilmu lainnya (itu menurut saya pribadi).

    Jadi, mohon advise sekaligus pencerahan dari teman – teman sekalian, bagaimana sikap
    kita sebagai alumnus ilmu sastra jika menghadapi paradigma seperti ini, agar hal ini bisa menjadikan sebuah wawasan baru untuk masyarakat luas hingga dimasa mendatang tidak ada lagi “kesenjangan” seperti ini.

    Terima kasih.

    Wasaalamualaikum Wr. Wb.

    • Assalamualaikum wr.wb
      makasih banyak buat Dwi anita hapsari mengenai share-nya mengenai “dinding pembatas yang tinggi” dan kesenjangan itu.
      memang jika karya sastra hanya dilihat an sich karya sastra terasa seperti menara gading menjulang tinggi ke langit yang unreachable dan unthinkable. tugas kita lah sebagai alumni sastra inggris untuk menjelaskan pada ummat manusia. he he
      coba liat karya andria hirata ‘laskar pelangi’ yang penuh bahasa ilmiah dan eksakta. juga novel angel and demon. …semakin banyak karya yang kita tahu akan semakin menjelaskan akan begitu luasnya cakupan kajian sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s