Budi Pekerti pada Mata Pelajaran Bahasa Jawa


Oleh: Sujadi, S. Pd.I. Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

 

 

Akhir-akhir ini tindakan tanpa tata krama bahkan tindakan di luar susila cenderung menjadi hal yang biasa. Tawuran pelajar, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, perkosaan, pencabulan, pencurian, pembunuhan, penculikan, penjarahan, perampokan, perampasan, penodongan, dan tindakan-tindakan sejenisnya setiap hari menghiasi surat kabar dan televisi. Pelaku tindakan asusila di atas tidak hanya terbatas pada para remaja, tetapi tidak sedikit kasus-kasus kejahatan semacam itu dilakukan orang tua, bahkan sudah banyak anak-anak di bawah umur yang terlibat dalam kasus-kasus seperti di atas. Kondisi yang demikian mencerminkan lunturnya nilai-nilai luhur budaya bangsa kita. Apabila tidak segera diadakan kurasi, dapat dibayangkan bagaimana kondisi bangsa kita di tahun-tahun mendatang.

 

Salah satu bentuk kurasi yang perlu kita dukung adalah pemunculan kembali istilah pendidikan budi pekerti. Dengan munculnya kembali istilah tersebut, kita semakin yakin bahwa pendidikan budi pekerti akan diimplementasikan lagi. Memberikan pendidikan budi pekerti kepada anak berarti melakukan kurasi terhadap berbagai penyakit masyarakat yang akhir-akhir ini cenderung mendomiasi kejadian. Dengan demikian, tidak dapat ditawar lagi bahwa penanaman budi pekerti luhur itu harus segera terwujud agar masyarakat kita tidak terlalu lama terbelenggu dalam kondisi yang serba cheos.

 

Penanaman nilai budi pekerti luhur itu sendiri harus berjalan terpadu dan dimulai sejak anak usia dini. Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting untuk menanamkan budi pekerti luhur ini. Sejak kecil seharusnya anak sudah dibiasakan dengan perilaku-perilaku yang mencerminkan budi pekerti luhur di dalam keluarga. Tidak hanya itu, setiap tindakan dan perkataan anak seharusnya selalu dalam monitor orang tuanya sampai orang tua betul-betul mantap bahwa anaknya sudah sulit untuk terpengaruh dari hal-hal negatif.

 

Meskipun di dalam lingkungan keluarga sudah dilakukan pendidikan/pembiasaan berbudi pekerti luhur, belum tentu anak dapat melewati lingkungan pergaulan tanpa pengaruh negatif. Lingkungan pergaulan punya pengaruh yang sangat kuat bagi anak-anak. Sehingga, anak yang mendapat pendidikan budi pekerti dengan baik sekali pun dapat dengan mudah terbawa ke dalam perilaku yang dur, angkara, murka, atau nista.

 

Dengan demikian, lingkungan tetap menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya perilaku-perilaku anak yang menyimpang dari kesusilaan. Oleh karena itu, sekolah sebagai penyelenggara pendidikan yang mendidik anak-anak seusia merupakan lembaga yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur. Hal ini penting dilakukan mengingat besarnya pengaruh lingkungan terhadap pola perilaku anak pada saat ini dapat dikatakan sudah sulit dikendalikan.

 

Penanaman budi pekerti luhur sangat perlu dimunculkan kembali dan segera diterapkan lewat jalur pendidikan formal atau sekolah. Di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang akan diterapkan mulai tahun 2004, sudah termuat Kurikulum Pendidikan Budi Pekerti. Karena pendidikan budi pekerti belum merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, pelaksanaannya masih diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sesuai, yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, atau mata pelajaran lain yang sesuai, misalnya mata pelajaran Bahasa Jawa.

 

Pegintegrasian pendidikan budi pekerti sangat mungkin dimasukkan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan dan hal ini sesungguhnya sudah dilaksanakan namun hasilnya yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Di dalam makalah ini penulis tidak akan membahas pengintegrasian pendidikan budi pekerti ke dalam dua mata pelajaran tersebut. Penulis lebih tertarik untuk mengangkat mata pelajaran Bahasa Jawa, mata pelajaran muatan lokal wajib Provinsi Jawa Tengah, sebagai mata pelajaran yang memiliki fungsi sarana pembinaan budi pekerti. Selama ini mata pelajaran bahasa Jawa hanya nampak sebagai mata pelajaran pendamping saja, lebih-lebih ketika masih berlaku evaluasi belajar akhir sekolah dengan nama EBTANAS. Ketika itu dapat dilihat bahwa mata pelajaran Bahasa Jawa banyak dikesampingkan.

 

 

 

B. Masalah

 

Pelajaran Bahasa Jawa memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Kekhasan ini tersirat pada keharusan guru memberikan keteladanan dalam berbagai hal yang dipelajari karena secara khusus mata pelajaran Bahasa Jawa merupakan pelajaran penanaman nilai budaya.

 

 

 

C. Rumusan Masalah

 

Permasalahan yang penulis rumuskan di dalam makalah ini adalah: Bagaimanakah wujud integrasi pembelajaran budi pekerti di dalam Mata Pelajaran Bahasa Jawa?

 

 

II. Pembahasan

 

A. Pengertian Budi Pekerti

 

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi pekerti diterjemahkan sebagai tingkah laku atau perangai, Depdikbud (1995: 150).

 

Di dalam bahasa aslinya, Sansekerta, kata budi berasal dari kata akar budh, kata kerja yang berarti sadar, bangun, atau bangkit secara kejiwaan. Jadi, budi adalah penyadar, pembangun, atau pembangkit atau budi adalah ide-ide. Pekerti berasal dari kata akar kr yang berarti bekerja, berlaku, atau bertindak secara keragaan. Dengan demikian, pekerti adalah tindakan-tindakan. Meskipun budi dan pekerti itu dapat dibedakan, namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Wajah kita gambaran hati kita, begitulah apabila diungkapkan. Di dalam budaya Jawa dinyatakan Lair iku utusaning batin. Rohani dan jasmani saling berpadu dan menjadi satu kesatuan. Raga kita ini adalah jasmani yang dirohanikan atau rohani yang menjasmani (Dwijarkara, 1989).

 

Dalam kenyataannya budi dan pekerti ada yang menjadi kebaikan dan ada yang menjadi kejahatan. Jadi, ada budi pekerti yang su atau baik; ada budi pekerti yang dur atau jahat.

 

Sifat-sifat manusia yang cenderung mengarah pada kejahatan, yaitu: sobong, kikir, cabul, iri, rakus, marah, malas, angkuh, cerewet, sok, pembantah, ingkar janji, rendah diri, pemurung, cepat tersinggung, egois, berlebih-lebihan, dan lain-lain (Sudarto dan Sudi Yatmono, 1994; 72).

 

Sifat-sifat yang cenderung mengarah pada budi pekerti luhur, yaitu: bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, tenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdi, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, kasih sayang, percaya diri, rela berkorban, rendah hari, sabar, setia, adil, hormat, tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, dan ulet (Edi Sedyawati, 1997)

 

 

B. Muatan Lokal Bahasa Jawa

 

Berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 271 a Tahun 1994, mata pelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa merupakan muatan lokal wajib untuk provinsi Jawa Tengah.

 

Muatan lokal bersifat lokatif, yaitu dipakai untuk daerah tertentu. Muatan lokal Bahasa Jawa diajarkan di wilayah Jawa Tengah dengan harapan nilai-nilai budaya Jawa tetap dapat dilestarikan dan ditanamkan kepada generasi penerus.

 

 

C. Pengintegrasian Pendidikan Budi Pekerti ke dalam Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa

 

 

 

Di dalam mata pelajaran Bahasa Jawa materi-materi yang diajarkan meliputi materi bahasa dan sastra. Secara utuh, baik bahasa maupun sastra Jawa dapat berfungsi sebagai sarana pembinaan budi pekerti.

 

Secara garis besar perilaku dasar yang dapat dikembangkan dalam pendidikan budi pekerti untuk jenjang Sekolah Dasar, meliputi:

 

a. taat kepada Tuhan Yang Maha Esa;

 

b. toleransi;

 

c. disiplin;

 

d. harga diri;

 

e. tanggung jawab

 

f. potensi diri

 

g. cinta dan kasih sayang;

 

h. kebersamaan dan gotong royong;

 

i. kesetiakawanan;

 

j. saling menghormati;

 

k. tata krama dan sopan santun;

 

l. kejujuran.

 

(KBK, Pendidikan Budi Pekerti; 10—14)

 

Sesungguhnya, semua perilaku dasar dalam pendidikan budi pekerti tersebut dapat diajarkan melalui mata pelajaran Bahasa Jawa. Akan tetapi, bab-bab tertentu ada yang lebih tepat diintegrasikan pada mata pelajaran lain, misalnya Pendidikan Agama dan/ atau PPKn.

 

Penulis menggambarkan beberapa perilaku dasar dalam pendidikan budi pekerti yang dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Beberapa perilaku dasar yang dimaksud adalah:

 

a. disiplin;

 

b. harga diri;

 

c. potensi diri;

 

d. kebersamaan dan gotong royong;

 

e. saling menghormati;

 

f. tata krama dan sopan santun.

 

Pengintegrasian pendidikan budi pekerti ke dalam mata pelajaran bahasa Jawa tersebut dapat dilakukan dengan cara (1) penanaman nilai-nilai afektif-psikomotorik di samping nilai-nilai afektif yang mutlak harus dikuasai; (2) keteladanan dan pembiasaan; dan (3) pengkondisian lingkungan. Agar lebih jelas, di bawah ini penulis sajikan uraian dari masing-masing cara tersebut.

 

 

1. Penanaman Nilai Afektis-Psikomotorik

 

Sebagai wujud pendidikan budi pekerti yang terintegrasi di dalam mata pelajaran Bahasa Jawa, nilai-nilai afektif-psikomotorik meskipun tidak langsung dapat dilihat secara nyata namun direncanakan setelah materi tersebut diberikan, nilai-nilai afektif-psikomotorik yang dimaksud tertanam pada diri siswa dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sebagai contoh, salah satu materi mata pelajaran Bahasa Jawa adalah basa ‘bahasa’. Untuk materi ini, cakupannya luas karena orang Jawa mengenal adanya unggah-ungguh basa. Sehinga, di dalam bahasa Jawa terdapat basa ngoko lugu, basa ngoko andhap, basa madya, basa krama, dan basa kedhaton. Akan tetapi, yang diajarkan di sekolah, utamanya SD, adalah basa ngoko alus dan basa krama inggil.

 

Di dalam mempelajari basa siswa tidak hanya diarahkan untuk mengerti bahasa saja, namun lebih dari itu siswa diarahkan untuk mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa telah memiliki unggah-ungguh, terutama apabila berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau orang yang seharusnya dihormatinya. Apabila sekarang masih muncul kalimat dari siswa Ah, mengko dhisitlah Pak Guru baen urung teka, setelah diperlakukan seperti deskripsi di atas, ke depan siswa tersebut sudah mengganti ucapanya dengan kalimat Ah, mengko dhisitlah Pak guru baen urung rawuh. Tentu kalimat yang muncul terakhir ini lebih santun dan hormat.

 

Pada materi sastra, misalnya bacaan tentang tokoh pewayangan atau cerita pewayangan, siswa tidak hanya daharapkan hafal tokoh-tokoh wayang atau hafal cerita-cerita pewayangan. Akan tetapi, lebih dari itu, yaitu siswa mampu menyerap perilaku tokoh-tokoh wayang yang baik, dapat membedakan nilai-nilai positif dan negatif yang disajikan dalam cerita wayang dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan karakteristik anak-anak.

 

 

2. Keteladanan dan Pembiasaan

 

Keteladanan merupakan penanaman nilai yang kadang tidak terasa, tetapi berdampak positif. Dan, apabila orang yang menjadi teladan itu memang betul-betul melakukan segalanya karena memang itu biasa dilakukannya maka akan tertanam begitu mendalam pada orang yang meneladaninya.

 

Keteladan yang penulis maksud adalah keteladaan dari guru atau orang-orang dewasa yang ada di lingkungan sekolah terhadap siswa. Guru yang selalu memberikan contoh perilaku dan tutur kata yang baik, secara langsung telah memberi contoh kepada siswanya. Dan, apabila di antara siswanya ada yang melakukan perilaku salah atau bertutur kata yang jorok (tidak benar), guru tersebut dapat dengan leluasa menegur dan mangarahkannya. Dengan guru yang seperti itu, siswa cenderung tulus meneriama teguran dan dengan kesadaran mau merubah perilaku atau tutur katanya.

 

Untuk memberikan keteladanan kepada siswa, seharusnya guru-guru di sekolah selalu membiasakan berbicara dengan sopan dan menggunakan unggah-ungguh dalam berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Dengan cara seperti itu, keteladanan telah diterapkan sehingga secara otomatis apa yang didengar atau dilihat siswa apabila ditirunya akan berdampak positif.

 

Sebaliknya, meskipun hanya satu kata tidak baik terucap oleh guru dan terdengar oleh siswa, siswa tersebut dapat menafsirkan kata itu baik karena gurunya saja mengucapkannya.

 

Di samping keteladanan, perlu adanya pembiasaan. Perilaku dan tutur kata yang baik harus selalu dibiasakan untuk dilakukan siswa. Artinya, setiap ada siswa yang memunculkan perilaku atau tutur kata yang tidak baik, keliru, atau kurang sesuai sebaiknya langsung ditegur dan ditunjukkan perbaikannya.

 

Contoh kasus, seorang siswa disuruh gurunya untuk mengambilkan sapu lidi di gudang. Dengan senang hati, siswa tersebut menyanggupi dan melaksanakan tugas. Ketika datang lagi menghadap gurunya, siswa tersebut sudah membawa sapu. Diberikannya sapu itu kepada gurunya dalam posisi pangkal sapu dipegang dan ujungnya mengarah kepada gurunya sambil berkata, “Pak, punika sapunipun.”.

 

Apabila seorang guru menemui kasus yang demikian, sebaiknya guru memberi nasihat langsung kepada siswa tersebut dengan cara yang baik dan tidak menyinggung. Misalnya, “Nggih matur nuwun. Nanging benjang malih menawi ngaturaken sapu dhateng sinten kemawon ingkang sae dipunwalik, dados gagangipun ingkang diaturaken.” (guru sambil memperagakan cara yang benar).

 

Di bawah ini beberapa contoh yang perlu dibiasakan.

 

a. Memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kanan.

 

b. Memberikan buku kepada orang lain dengan posisi bagian bawah buku yang diberikan.

 

c. Minta izin dengan kata-kata yang baik ketika ke luar kelas saat pelajaran.

 

d. Menggunakan basa ngoko alus untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.

 

e. Menggunakan basa krama inggil untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.

 

f. Megacungkan jari ketika akan bertanya.

 

g. Minta izin kepada pemiliknya apabila meminjam sesuatu.

 

h. Mengucapkan salam ketika bertemu guru atau teman.

 

i. dll.

 

 

3. Pengkondisian Lingkungan

 

Lingkungan sekolah akan sangat mendukung dalam pendidikan budi pekerti apabila telah dikondisikan. Artinya, setiap warga sekolah selalu dikondisikan untuk berperilaku dan bertutur kata yang baik. Dengan demikian, di dalam lingkungan sekolah tidak akan pernah muncul perilaku maupun tutur kata yang tidak diharapkan.

 

Untuk mengkondisikan lingkungan yang demikian, tentunya bukan pekerjaan yang mudah. Koordinasi semua pihak yang ada di sekolah mutlak harus dilakukan. Di samping itu, harus dilakukan kesepakatan-kesepakatan anatarwarga sekolah supaya tidak terjadi kesalahpahaman.

 

Akan tetapi, cara yang mudah pun tetap bisa dilaksanakan, misalnya dengan cara keteladanan seperti di atas sudah termasuk mengkondisikan lingkungan. Setidaknya, seorang guru dapat mengkondisikan lingkungan kelas yang diampunya. Dan, hal ini akan menjadi sangat efektif apabila semua guru di sekolah itu melakukan hal yang sama untuk tujuan yang sama pula.

 

 

Dengan pola pendidikan yang demikian, dapat diharapkan anak-anak kita lima belas tahun ke depan akan memiliki perilaku-perilaku keteladanan sebagaimana yang kita harapkan. Pada umumnya anak berperilaku baik di sekolah atau di rumah, dalam pergaulan di luar sekolah dan di luar rumah belum tentu bersikap yang sama. Anak yang berperilaku di rumah dan di sekolah kadang-kadang menyimpan ganjalan atau tekanan.

 

Hal itu dapat kita maklumi jika kondisi rumah dan sekolah masih seperti yang sekarang kita alami dan kita lihat. Pada saat ini belum tentu semua guru di sekolah memberikan keteladanan. Contoh kecil dapat penulis tunjukkan, seorang guru selalu melarang murid-muridnya merokok apalagi di lingkungan sekolah. Tragisnya, larangan tersebut disertai sanksi yang sangat berat. Di sisi lain masih banyak guru yang mengajar sambil merokok atau merokok di lingkungan sekolah yang notabene dapat dengan jelas dilihat siswa. Apakah yang demikian sudah dapat dikatakan telah menerapkan keteladanan?

 

Oleh karena itu, penulis tetap yakin apabila cara pengintegrasian pendidikan budi pekerti ke dalam mata pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa seperti di atas dapat terwujud, kita dapat menyambut anak-anak kita beberapa tahun ke depan.

 

 

II. Penutup

 

A. Simpulan

 

Dari paparan di atas, dapat disimpulan bahwa pengintegrasian pendidikan budi pekerti ke dalam mata pelajaran Bahasa Jawa dapat dilakukan dengan cara (1) penanaman nilai-nilai afektif-psikomotorik di samping nilai-nilai afektif yang mutlak harus dikuasai; (2) keteladanan dan pembiasaan; dan (3) pengkondisian lingkungan.

 

 

B. Saran

 

Setelah mencermati berbagai hal di atas, sebagai insan Tuhan yang diberi kewajiban untuk saling mengingatkan, penulis sampaikan saran kepada pemegang kebijakan bidang pendidikan dan kepada para praktisi pendidikan.

 

1. Para pemegang kebijakan bidang pendidikan sebaiknya lebih serius memantau pelaksanaan pendidikan di lapangan melalui petugas-petugas yang memang ditugaskan untuk itu. Dengan demikian, akan segera diketahui apabila di lapangan terjadi kejanggalan-kejanggalan dalam pendidikan atau ada hambatan-hambatan yang penyelesaiannya membutuhkan kebijakan tertentu.

 

2. Para praktisi pendidikan hendaknya siap untuk menjadi teladan bagi anak-anak didik kita. Kalau kita sudah siap menjadi teladan bagi anak-anak kita apapun yang kita lakukan tidak akan canggung. Dan, dengan kondisi kita yang telah siap itu secara pelan-pelan anak-anak kita akan meniru apa yang kita lakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Balitbang. TT. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Pendidikan Budi Pekerti untuk Sekolah Dasar dan madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas.

Drijarkara. 1989. Filsafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius

Depdikbud. 1995. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Gerbang. 2003. “Propenas Tahun 2000 – 2004 Tentang Pembangunan Pendidikan” (Edisi 10 Th. II). Yogyakarta: LP3 UMY.

Kanwil Depdikbud Povinsi Jateng. 1994. GBPP Muatan Lokal Mata pelajaran Bahasa Jawa. Semarang: Kanwil Depdikbud Povinsi Jateng.

Sudharto dan Sudiyatmana. 1994. Tata Krama Membangun Keselamatan Bersama (Memnyongsong Tahun 2000). Semarang: Media Wiyata.

. 1997. Ajar Basa: Pelajaran Bahasa Jawa untuk Sekolah Dasar kelas 6. (cet. 2). Semarang: Aneka Ilmu.

Sedyawati, Edi. 1997. Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur. Jakarta: Balai Pustaka.

Yumarma P.R. (ed). TT. Membangun Semangat Budi Pekerti Luhur. Semarang: Depdiknas Provinsi Jateng.

 

*) Makalah ini telah diseminarkan pada Forum Ilmiah Guru yang diselenggarakan FKPPG Kabupaten Banjarnegara, tanggal 2 Mei 2003.

 

About these ads

6 thoughts on “Budi Pekerti pada Mata Pelajaran Bahasa Jawa

  1. Bahasa Jawa memang tidak lepas dari pendidikan budi pekerti. Bagi orang Jawa sendiri, yang dinamakan “jawa” adalah orang yang sudah bisa membedakan baik – buruk. Orang yang belum mengerti baik-buruk dinamakan “ora njawa”. Istilah “jawa” tidak hanya nama suku atau bahasa, akan tetapi maknanya lebih mendalam dan bersifat universal. Orang keturunan China, Arab, Eropah sekalipun, kalau mereka tahu tata susila dan mengerti baik-buruk berhak dinamakan “njawa”.

    Sayang… pengajaran bahasa Jawa khususnya di Jatim dikemas dalam kurikulum yang “asal jadi”. Entah lupa atau sengaja, esensi kebermaknaan pengajaran bahasa Jawa yakni “unggah-ungguh” tidak dimasukkan ke dalamnya. Sudah begitu rambu-rambu materi pengajarannya tidak membawa siswa ke ranah pembentukan kepribadian.

    Sebaiknya kurikulum bahasa Jawa khususnya di Jatim jangan hanya dirumuskan oleh segelintir orang, karena Jatim sebenarnya memiliki orang-orang yang mumpuni di bidangnya, baik para guru maupun dosen di Unesa.

  2. saya senang dengan mata pelajaran ini.sebab ini merupakan suatu kecerdasAN sikap yg perlu di teladanin bagi setiap orng yang membaca.

  3. Karena Bhs Jawa itu muatan lokal Provinsi Jawa Tengah, maka Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah harus pegang perana :
    1. Terbitkan kurikulum dan sebarkan ke sekolah-sekolah.
    2. Terbitkan buku pegangan guru maupun buku ajar Bhs Jawa yang benar-benar menuntun para guru mengingat Mapel Bhs Jawa kebanyakan hanya diampu oleh guru yang mencari pemenuhan jumlah jam mengajar (24 jam) sehingga pelaksanaannya jauh dari ketentuan.
    Semoga himbauan yang sekaligus keluhan ini segera ditanggapi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, dan saya haturkan terima kasih atas perhatiannya.

  4. Selama pendidikan budi pekerti masih dintegrasikan kedalam mapel lain, saya yakin kurang optimal dengan apa yang kita harapkan yaitu budi pekerti anak-anak akan lebih baik, diera globalisasi sekarang ini pengaruh lingkungan berperan besar dalam pembentukan budi pekerti.

    • Ya saya setuju banget kalo pendidikan budi pekerti menjadi pelajaran penting yang harusnya masuk kurikulum dan tentunya didukung dengan contoh yang nyata dari para guru dan dosen.jika hanya omdo=omong doang tentunya teori sebanyak apapun tidak berguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s