Polri dan Kebun Binatang

Istilah cicak dan buaya, berdasarkan catatan pers pertama kali disampaikan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji. Cicak merujuk KPK, sedangkan buaya merujuk ke Polri.
as2

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) meminta maaf atas istilah cicak dan buaya yang selama ini melambangkan rivalitas polisi dan KPK. Namun BHD tidak menjawab saat ditanyakan sanksi untuk Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji yang melontarkan istilah itu.

Penggunaan bahasa atau istilah dalam bertutur kata bisa mencerminkan banyak hal atas latar belakang si pemakai, bisa berupa latar belakang komunalnya, intelektualitas, pergaulan, sikap perilaku, atau apa saja, minimal referensi yang dimilikinya, bahasa mencerminkan budaya bangsa.

Mendengar kata buaya saja sudah ngeri membayangkannya, apalagi mendekatinya, makna buaya juga selalu berkonotasi negatif, baik buaya sungai terkenal sebagai pemangsa ganas, apa lagi buaya darat. Apakah karena selama ini ada pandangan sinis kepada polisi, konon cuma dua polisi yang baik yaitu patung polisi dan polisi tidur, sehingga secara tidak sadar kabeskrim menggelari dirinya (polri) sebagai buaya dan KPK sebagai cicak.

Pemberian istilah cicak kepada KPK sendiri juga sudah merupakan pelecehan, nyaris sama kalau Anda di maki dengan umpatan, “babi lho…., anjing lho,….pokoe semua isi kebun binatang pindah ke mulutnya,” tetapi secara tidak sadar kabeskrim juga sudah menghina Polri dengan makian, “buaya lho…,” Apa sih yang ditakuti dengan binatang cicak, hanya pemangsa nyamuk, kalau pun takut karena geli aja jika disentuh cicak, tapi jangan salah, kalau anda dijatuhi cicak, bulu kuduk anda juga pasti merinding. Ada anekdot yang dipercaya kalau dijatuhi cicak berarti bakalan ada kesialan, seperti sialnya para koruptor jika sudah dijangkiti oleh cicak (KPK).

Penggunaan istilah nama binatang dalam bertutur sebagai metafora atau personifikasi bisa juga menandakan bahwa suatu komunal sudah dipenuhi oleh perilaku kebinatangan, sisi-sisi kemanusiaan mungkin sudah di titik nadir, yang keseharian adalah manusia tapi bersifat kebinatangan, manusia bisa lebih mulia dari binatang tetapi bisa juga lebih rendah dari binatang melata, buaya dan cicak masuk dalam kategori binatang melata. Apakah sebegitu hinanya Polri dan KPK sampai harus digelari buaya dan cicak ?

Sejak KPK jadi hits pemberitaan karena tudingan SBY, KPK sebagai lembaga superbody, kemudian muncul perseteruan Polri vs KPK dalam istilah Buaya vs cicak, negara Indonesia ini sudah seperti kebun binatang raksasa, isinya buaya dan cicak, kemudian berkembang terus, lalu mulai muncul istilah harimau, “mulutmu harimaumu…!”. Macam-macam yang muncul menyusul, ada keledai, serigala (fox), tikus, ular, beo, monyet lho…, sampai drakula segala, malah penggunaan kata “geram” juga berasal dari personifikasi yang diambil dari penamaan perilaku binatang yang lagi marah. Sepertinya penduduk negeri ini sudah pada berubah menjadi binatang.

Apa makna semuanya ini bagi bangsa ini, jikalau ini sebuah cermin, maka ketika bercermin bukan lagi wajah kita yang muncul, namun sudah berganti dengan wajah salah satu binatang. Dengan kata lain sisi-sisi kebinatangan lebih menonjol dalam suatu kebijakan, apatah lagi keputusan yang dilahirkan, apa lacur sisi-sisi kemanusiaan bukan menjadi pertimbangan, hanya menjadi wacana dan pernyataan normatif belaka. Konsep dipaparkan dalam sisi kemanusiaan, tetapi apa lacur, implementasi riil dilaksanakan penuh dengan nafsu kebinatangan. Anekdotnya kalau kata komandan Polisi, “amankan…!!”, maka pelaksanaan berarti tangkap, hajar baru tanya, kalau perlu babak belur hingga dia mengaku, demikian pula kenyataannya pada sektor-sektor lain.

Saya bertobat dengan bangsaku, Indonesia…!!! wallahualam.
sumber: kompasiana.com

Komentar bertahan »

Sikap Politik PKS Plin-Plan

Vina Nurul Iklima

INILAH.COM, Jakarta – Menghadapi manuver koalisi SBY-JK, sikap politik PKS terkesan plin-plan. Setelah mengancam akan mencabut dukungan bagi SBY, partai dakwah itu kini mencabut kembali ancamannya. Inkonsistensi sikap ini menunjukkan bahwa internal partai PKS mengalami dilema.

“Ancaman dan sekarang pembatalan itu menunjukkan PKS tak konsisten. Perbedaan itu karena ada faksi-faksi di PKS sendiri. Faksi fragmatis yang ingin menikmati kue, dan faksi idealis. Hal ini sudah terlihat pengeroposan di PKS,” kata pengamat politik UGM Ari Sujito kepada INILAH.COM, Rabu (15/4).

Ari mengatakan, momen menjelang koalisi kali ini menjadi ujian berat bagi PKS. Terbawa godaan pragmatis atau mempertahankan idealisme partai. Di sisi lain, perbedaan antar faksi di tubuh PKS sendiri kian jelas dan menjadi bom waktu yang akan pecah kapan saja.

“Bisa dibilang api dalam sekam, kalau PKS tidak segera menyusun mekanisme partai dengan solid. Karena kalau tidak, akan timbul sabotase, dan kekecewaan,” ujarnya.

Meski begitu, Ari menilai, apa yang terjadi saat ini merupakan manuver elit PKS yang belum tentu merupakan sikap resmi partai. “Saya kira pernyataan elit PKS itu bukan strategic campaign, tapi manuver dari individu elit PKS sendiri,” kata dia.

Kalau tidak segera diatasi, Ari mengatakan PKS tinggal menunggu waktu kehancuran. “Sebagai partai yang relatif muda, PKS masih belum solid membangun sistem kepartaian yang kuat,” cetusnya. [ikl/dil]
inilah.com

Komentar bertahan »

mari menegakkan Sholat

pengen donlot videonya????
klik sini !!!
atau
klik sini ya..

Komentar (2) »

Japanese Greetings Basic Japanese Greetings

Japanese : English
Ohayo gozaimasu: Good morning
Konichiwa :Good afternoon
Konbanwa : Good evening
Shitsurei shimasu : I’m sorry (for doing that.)
Sayonara :Good bye
Onegai shimasu : Please (when you are asking for something.)
Ostukaresama deshita : You must be tired (from what you did.)
Arigatou gozaimasu :Thank you
Sayonara : Good bye
Moshiwake nai : Forgive me
Sumimasen :Thank you (for going to all that trouble.)
Shitsurei shimasu : Excuse me for leaving early
Doitashimashita : Don’t mention it
Doozo : Please (when you offer something.)
Ogenki desu ka? How are you? [Are you in good spirits?]
Genki : Well [ good spirits]
Genki desu :I am very well.
Arigatoo gozaimasu. : Thank you
Okagesama de. : Thank you. [Due to your kind thought, am well]
Onamae wa nan to osshaimasu ka? What is your name?
Onamae wa? : What is your name?
Yamada Masao to mooshimasu.: My name is Yamada Masao.
Yamada desu. : I am Yamada.
Watakushi no namae wa Yamada desu. : My name is Yamada.
Gomen nasai : Excuse me. I’m sorry.
Ii desu. : That’s all right
Sayounara: Good bye. / See you later.
Do-itashi-mashite : You’re welcome.
Sumimasen I’m sorry. / Excuse me. / Thank you.
Gomen-nasai : I’m terribly sorry.
Ogenki-desu-ka? : How are you?

Komentar bertahan »

Nasib Calon Guru Terbengkalai

March 9, 2009

JAKARTA-SEKILAS INDONESIA- Masyarakat yang berminat untuk menjadi guru kebingungan karena belum tersosialisasinya ketentuan untuk menjadi guru secara baik. Mereka masih memilih ikut program Akta IV yang masih ditawarkan lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan, padahal syarat untuk menjadi guru nantinya harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh dari pendidikan profesi guru selama enam bulan atau satu tahun.

“Untuk bisa jadi guru kan harus ikut Program Akta IV. Dan saya lihat di FKIP, masih membuka pendaftaran. Saya ikut sejak Januari kemarin,” kata Ati (31), peserta Program Akta IV di Universitas Kristen Indonesia di Jakarta, Senin (9/3).

Untuk mengikuti Program Akta IV, kata Ati, dia dikenai biaya Rp 7 juta. Dari informasi yang disampaikan, sebenarnya Program Akta IV ini di kampus ini hendak ditutup tahun lalu. Namun, sampais aat ini belum ada kepastian soal pendidikan profesi guru sebagai pengganti Program Akta IV.

Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Batanghari Jambi, Sainil Anwar, mengatakan Program Akta IV di kampus ini masih dibuka karena tingginya permintaan masyarakat dan pemerintah daerah. Program ini diminati oleh sarjana nonkependidikan yang berminat untuk menjadi guru karena belum jelasnya pelaksanaan profesi pendidikan guru (PPG).

“Untuk guru honorer atau guru yang belum punya Akta IV juga berminat. Jika ada pengangkatan guru PNS atau sertifikasi guru, poin sertifikat Akta IV cukup tinggi. Untuk di daerah, Program Akta IV ini masih dibutuhkan. Lagipula syarat untuk bisa melaksanakan PPG cukup berat untuk kampus di daerah yang masih terbatas dosen dan fasilitasnya,” kata Sainil.

Pembantu Rektor I Universitas Terbuka Tian Belawati mengatakan Program AKTA IV di UT ditutup sejak 2007. Kampus ini hanya menyelesaikan mahasiswa yang masih tersisa paling lama tahun ini.

“Kami juga masih belum tahu sistem PPG yang hendak dijalankan pemerintah. Kami juga sedang mempelajarinya. dengan jangkauan UT dan fasilitas yang ada, terutama dalam pendidikan gurus elama ini, kami ebrharap UT bisa berkontribusi juga dalam PPG nanti,” ujar Tian.

Pembantu Rektor I Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Zainal Rafli mengatakan UNJ tidak buka lagi sejak 2008. Program ini dinilai akan mubazir karena peraturan baru soal pengangkatan guru mengharuskan calon guru ikut PPG .

“Memang belum ada ketentuan resmi untuk mencabut Program Akta IV. Tetapi persyaratan untuk menjadi guru sesuai UU Guru dan Dosen kan ebrubah, harus ikut PPG. Jadi kami hentikan saja Program Akta IV. Kami lebih berkonsentrasi untuk menyiapkan pendidikan profesi guru. Apalagi ada sinyal dari pemerintah untuk menyipakan PPG Pendidikan Guru SD,” jelas Zainal.

Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, menilai pemerintah lambat menyiapkan PPG. Sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai perguruan tinggi yang boleh melaksanakan PPG serta waktu pelaksanaanya. Demikian juga soal pengangkatan guru PNS dan persyaratannya.

“Jika pemerintah tidak tegas, nanti akan menimbulkan duplikasi. Masyarakat yang rugi karena mereka sudah bayar untuk ikut Program Akta IV, tetapi pemerintah minta syarat harus ikut PPG,” ujar Sulistiyo yang juga Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Swasta Indonesia.( kPS/Yat)
Kok yo ono situs jenenge: SEKILAS INDONESIA DOT COM :)

Komentar (4) »

Nasib Calon Guru Terkatung-katung

JAKARTA, SENIN – Masyarakat yang berminat untuk menjadi guru kebingungan karena belum tersosialisasinya ketentuan untuk menjadi guru secara baik. Mereka masih memilih ikut program Akta IV yang masih ditawarkan lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan, padahal syarat untuk menjadi guru nantinya harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh dari pendidikan profesi guru selama enam bulan atau satu tahun.

nasib guru akta empat akta 4 piye nasibmu

“Untuk bisa jadi guru kan harus ikut Program Akta IV. Dan saya lihat di FKIP, masih membuka pendaftaran. Saya ikut sejak Januari kemarin,” kata Ati (31), peserta Program Akta IV di Universitas Kristen Indonesia di Jakarta, Senin (9/3).

Untuk mengikuti Program Akta IV, kata Ati, dia dikenai biaya Rp 7 juta. Dari informasi yang disampaikan, sebenarnya Program Akta IV ini di kampus ini hendak ditutup tahun lalu. Namun, sampais aat ini belum ada kepastian soal pendidikan profesi guru sebagai pengganti Program Akta IV.

Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Batanghari Jambi, Sainil Anwar, mengatakan Program Akta IV di kampus ini masih dibuka karena tingginya permintaan masyarakat dan pemerintah daerah. Program ini diminati oleh sarjana nonkependidikan yang berminat untuk menjadi guru karena belum jelasnya pelaksanaan profesi pendidikan guru (PPG).

“Untuk guru honorer atau guru yang belum punya Akta IV juga berminat. Jika ada pengangkatan guru PNS atau sertifikasi guru, poin sertifikat Akta IV cukup tinggi. Untuk di daerah, Program Akta IV ini masih dibutuhkan. Lagipula syarat untuk bisa melaksanakan PPG cukup berat untuk kampus di daerah yang masih terbatas dosen dan fasilitasnya,” kata Sainil.

Pembantu Rektor I Universitas Terbuka Tian Belawati mengatakan Program AKTA IV di UT ditutup sejak 2007. Kampus ini hanya menyelesaikan mahasiswa yang masih tersisa paling lama tahun ini.

“Kami juga masih belum tahu sistem PPG yang hendak dijalankan pemerintah. Kami juga sedang mempelajarinya. dengan jangkauan UT dan fasilitas yang ada, terutama dalam pendidikan gurus elama ini, kami ebrharap UT bisa berkontribusi juga dalam PPG nanti,” ujar Tian.

Pembantu Rektor I Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Zainal Rafli mengatakan UNJ tidak buka lagi sejak 2008. Program ini dinilai akan mubazir karena peraturan baru soal pengangkatan guru mengharuskan calon guru ikut PPG .

“Memang belum ada ketentuan resmi untuk mencabut Program Akta IV. Tetapi persyaratan untuk menjadi guru sesuai UU Guru dan Dosen kan ebrubah, harus ikut PPG. Jadi kami hentikan saja Program Akta IV. Kami lebih berkonsentrasi untuk menyiapkan pendidikan profesi guru. Apalagi ada sinyal dari pemerintah untuk menyipakan PPG Pendidikan Guru SD,” jelas Zainal.

Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, menilai pemerintah lambat menyiapkan PPG. Sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai perguruan tinggi yang boleh melaksanakan PPG serta waktu pelaksanaanya. Demikian juga soal pengangkatan guru PNS dan persyaratannya.

“Jika pemerintah tidak tegas, nanti akan menimbulkan duplikasi. Masyarakat yang rugi karena mereka sudah bayar untuk ikut Program Akta IV, tetapi pemerintah minta syarat harus ikut PPG,” ujar Sulistiyo yang juga Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Swasta Indonesia.

Komentar (1) »

Usus Dipotong akibat Kebanyakan Mi Instan

MAKSUD hati membantu suami menambah penghasilan, apa daya anak jadi korban. Akibat kerap meninggalkan buah hatinya, Hilal Aljajira (6), Erna Sutika (32) kini harus menelan pil pahit. Usus Hilal bocor dan membusuk hingga harus dipotong. Rupanya tiap hari Hilal hanya menyantap mi instan karena di rumah tak ada orang yang memasakkan makanan untuknya. Berikut cerita Erna.
usus dipotong amergo kokehan maem mie instan
Saat usia Hilal menginjak 2 tahun, aku memutuskan bekerja, membantu keuangan keluarga mengingat penghasilan suamiku, Saripudin (39), kurang mencukupi kebutuhan keluarga.

Aku bekerja di perusahaan pembuat bulu mata palsu, tak jauh dari rumah kami di Garut. Setiap berangkat kerja, Hilal kutitipkan kepada ibuku. Di situ, ibuku kerap memberinya mi instan. Bukan salah ibuku, sih, karena sebelumnya, aku juga suka memberinya makanan itu jika sedang tidak masak.

Ternyata, Hilal jadi “tergila-gila” makanan itu. Ia akan mengamuk dan mogok makan jika tak diberi mi instan. Ya, daripada cucunya kelaparan, ibuku akhirnya hanya mengalah dan menuruti kemauan Hilal. Lagi pula, kalau tidak diberi, Hilal pasti akan membeli sendiri mi instan di warung dekat rumah dengan uang jajan yang kuberikan. Praktis, sehari dua kali ia makan mi instan.

Dua kali dipotong
Kamis, 20 November 2008, Hilal mengeluh sakit perut. Kupikir sakit biasa. Anehnya, setelah tiga hari, sakitnya tak kunjung hilang dan ditambah ia tidak bisa buang air besar. Gara-gara itulah perutnya membesar.

Khawatir, kubawa Hilal ke mantri dekat rumah. Karena tetap tidak ada perubahan, kami kemudian membawanya ke RSU Dr Slamet, Garut. Ternyata hasil pemeriksaan dokter lebih menyeramkan dari yang kuduga. Kupikir, cukup dengan obat pencahar perut, sakit Hilal bisa segera sembuh. Rupanya tak segampang itu.

Hasil tes darah dan rontgen memperlihatkan, Hilal harus segera dioperasi karena beberapa bagian di ususnya bocor dan membusuk. Ketika kutanyakan apa penyebabnya, dokter menjawab, akibat dari kandungan makanan yang Hilal konsumsi selama ini tidak sehat dan membuat ususnya rusak. Saat itulah kutahu Hilal terlalu sering menyantap mi instan. Astagfirullah….

Atas rujukan dokter, kami kemudian membawa Hilal ke RS Hasan Sadikin, Bandung, dengan alasan peralatan medis di RS itu lebih lengkap. Sejak awal, tim dokter sudah pesimistis dengan kondisi Hilal yang begitu memprihatinkan dengan berat badan yang tidak sampai 11 kg. Dokter juga bilang, dari puluhan kasus serupa, hanya tiga orang yang bertahan hidup. Aku hanya bisa berserah pada Allah SWT.

Baru pada 25 November 2008 operasi dilakukan di RS Immanuel, Bandung. Saat itu aku sedang hamil tiga bulan. Dokter mengamputasi usus Hilal sekitar 10 cm. Untuk menyatukan bagian usus yang terputus itu, dokter menyambungnya dengan usus sintetis. Selain itu, dokter juga membuat lubang anus sementara (kolostomi) di dinding perut sebelah kanan.

Utang belum lunas
Ternyata cobaan kami belum berakhir sampai di situ. Tiga hari kemudian, dokter menemukan masih ada bagian usus yang bocor. Mau tidak mau, Hilal harus kembali naik ke meja operasi dan merelakan sebagian ususnya lagi.

Jelas, aku dan suami sangat ingin Hilal sembuh. Namun, di sisi lain, penghasilanku sebagai buruh tidaklah seberapa. Setiap bulan, aku hanya bisa membawa pulang uang Rp 250.000 atau Rp 300.000 kalau lembur. Adapun suamiku penghasilannya tidak pernah menentu. Maklum, ia hanya kuli kasar di pabrik tahu di Bandung.

Sejak Hilal jatuh sakit, aku memutuskan berhenti bekerja. Alhasil, suamiku harus banting tulang mengerjakan pekerjaan apa pun asal menghasilkan uang. Kendati sudah bekerja begitu keras, rasanya sia-sia saja. Biaya operasi Hilal yang mencapai Rp 16 juta terasa begitu besar dan entah kapan bisa dilunasi. Apalagi, kami hanya punya waktu 10 hari untuk melunasinya. Untung pihak rumah sakit berbaik hati memberi kelonggaran waktu dua hari sehingga kami masih sempat meminjam uang ke beberapa keluarga dan tetangga.

Demi kesembuhan Hilal pula, kami harus lebih berhemat. Rumah kontrakan kami tinggalkan dan kami menumpang di rumah orangtuaku. Sebenarnya uang kontrakan rumah itu tidak terlalu besar, hanya Rp 300.000 per tahun, tapi tetap saja uang sebesar itu sangat berarti untuk biaya pengobatan Hilal.

Kata dokter, kolostomi di perut Hilal sudah bisa ditutup setelah tiga bulan. Namun, baru setelah delapan bulan kemudian, tepatnya 23 Juli 2009, operasi penutupan dilakukan. Apalagi kalau bukan masalah biaya. Itu pun bisa dilakukan karena kami dapat bantuan dari sebuah stasiun televisi swasta sebesar Rp 14 juta.
Kompas.com
ajangkita.com

Komentar bertahan »

Psychological reasoning on children

CHAMPAIGN, IL. — According to conventional wisdom, babies don’t begin to develop sophisticated psychological reasoning about people until they are about 4 years old. A study of 15-month-olds at the University of Illinois at Urbana-Champaign proves otherwise.

The findings, published in the April 8 issue of the journal Science, potentially could lead to an early screening tool for autism, a developmental disability that is marked by a failure on false-belief and related tasks, the researchers say.

In a non-verbal experiment, each participating baby, 56 in all, sat on a parent’s lap and faced an actor (a university student). On the table between the baby and the actor was a toy watermelon slice and two boxes whose openings faced each other; one box was green, the other yellow.

To start, the actor picked up the watermelon slice, played with it, and then hid it in the green box. On subsequent trials, the actor always reached into the green box, as though to grasp the watermelon slice she had hidden there.

Then, seemingly unbeknownst to the actor but in sight of the infant, the watermelon slice moved to the yellow box.

This change created a false belief for the actor as to the location of the coveted watermelon slice, said principal investigator Renée Baillargeon (pronounced BY-uhr-zhan), a professor of psychology at Illinois.

The infants expected the actor to search for the watermelon toy in the green box (where she falsely believed it to be), and not in the yellow box (where it actually was and where the infants knew it to be). The infants looked reliably longer when the actor searched the yellow box, as though surprised by this unexpected event.

If the actor was present when the watermelon slice moved from the green to the yellow box, the infants now expected the actor to search the yellow box, and they were surprised if she went to the green box instead. The infants attributed to the actor a true belief that the toy was hidden in the yellow box, and they expected her to act accordingly.

In another condition, the actor was again present when the toy moved from the green to the yellow box – but after she left, the toy returned to the green box. In this condition, the infants attributed to the actor a false belief that the toy was hidden in the yellow box; they expected her to go to that box, and they were surprised when she went to the green box instead.

“Infants understood that the actor could have a true or a false belief about the toy’s location, and they always expected her to act in a manner consistent with her belief, “ Baillargeon said.

Whenever the actor looked for the toy where it was instead of where she falsely believed it to be, the babies looked longer. “Looking-time is the gauge,” Baillargeon said. “This is the violation-of-expectation method: Babies look longer at events they view as unexpected. It is a ‘whoa’ look – a state of heightened attention. It’s like it is in everyday life. You expect something and then when it’s not what it should be, you tend to look longer, as when we watch a magic show. It’s the wow of the unexpected.”

The research, which was part of the doctoral research of lead author Kristine H. Onishi, now on the psychology faculty at McGill University in Quebec, Canada, has since been duplicated many times using various scenarios in Baillargeon’s lab.

“These findings will provide parents and educators with a better understanding of how children think,” Onishi said in a McGill news release. “Kids are actively trying to make sense of the things they see others do. To some degree, children think about what others can see, what others think, and what others believe.”

The findings also call into question the long-held view that an enormous conceptual change takes place in early childhood in the understanding of others, Baillargeon said.

“If 15-month-olds can reason about what others believe, it means that psychological reasoning is much more sophisticated than we thought, and begins at a much earlier age than we had thought.”

Many years of earlier work, reviewed by Onishi and Baillargeon, have suggested that “between 3 and 4 years of age, children go from a non-representational to a representational theory of mind: They begin to understand that beliefs are only representations of reality, which can be true or false,” Baillargeon said.

Because their non-verbal approach produced findings that challenge previous assumptions, Baillargeon said, it may be that the verbal tasks used in earlier work were overly complex. It could be that having to predict the actor’s actions and also interpret and produce sentences overwhelmed the 3-year-old subjects, she said.

The research was funded by a predoctoral training grant to Onishi from the National Institute of Mental Health and by a grant to Baillargeon from the National Institute of Child Health and Human Development.

Komentar bertahan »

tulisan latin langsung berubah jadi arab

tulisan latin langsung berubah jadi arab
klik aja:
logo_large_search
http://www.yamli.com/

Komentar bertahan »

Pencarian kebahagiaan

Pencarian kebahagiaan sudah berjalan setua umat manusia. Hedonisme, satu aliran dalam filsafat Yunani kuno, menyatakan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan. Democritus, yang tinggal di 460 SM, berkata, “Kebahagiaan adalah tujuan dari tingkah laku kita.”
Walaupun ada saja yang tidak setuju dengan filosofi di atas, orang-orang hari ini masih sangat rindu akan kebahagiaan, tetapi meskipun demikian maju dan meningkat pengetahuan dan prestasi manusia kita semua masih belum tahu rahasianya.
berikut ini beberapa fakta:

Di kampus2 Universitas angka kematian tertinggi disebabkan oleh bunuh diri. Tempat tidur rumah sakit penuh dengan orang-orang yang tidak bahagia dan kesepian. Beberapa dokter memperkirakan bahwa lebih dari 80 persen pasien yang menderita akibat tekanan emosional. Seorang psikiater terkenal di dunia mengklaim bahwa “sebab utama neurosis adalah kekosongan jiwa.” Dan menurut United Nations World Health Organization (WHO), depresi adalah masalah kesehatan dunia nomor satu.

Marilyn Monroe memiliki segala sesuatu yang banyak tampaknya berpikir membawa kebahagiaan-keindahan, kekayaan, ketenaran, daya tarik seks, dan popularitas-tapi ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Voltaire seorang filsuf terkenal di akhir hayatnya mengatakan , “Aku tersesat! Oh, andaikan aku tidak pernah dilahirkan. “Dan jutawan Jay Gould berkata ketika sekarat,” Saya kira saya adalah setan yang paling menderita di bumi. “

Sebenarnya, kekayaan, ketenaran, kekuasaan, keindahan bukan faktor yang menentukanbahagia atau tidakbahagianya seseorang. Mereka adalah faktor eksternal. Kebahagiaan yang hakiki berasal dari dalam diri kita. Ini adalah produk dari kondisi batin. Jika seseorang hidup hanya untuk kebahagiaan pribadi, selamanya ia tidak akan pernah menemukannya.

Kebahagiaan adalah apa yang diinginkan oleh banyak orang.

Bagi kita seorang muslim kebahagiaan akan didapatkan jika kita menyadari sepenuhnya siapa diri kita dari mana kita berasal dan kemana kita akan pergi. kata para ulama kebahagiaan adalah milik Allah SWT dan Allah akan memberikan kepada siapa saja yang mau beriman dan taat kepada-Nya.

QS annahl 97
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Firman Allah : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar(dari setiap permasalahannya) Dan Dia(Allah) akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan(keperluan-nya”.quran terjemah online

Komentar bertahan »